Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

SITUS MEGALITH DI SULAWESI YG MIRIP PATUNG DI EASTER ISLAND



Satulagi situs megalitik yg layak dikaji di sulawesi tengah, di sebuah lembah di sulteng ini kita akan menyaksikan arca-arca atau patung batu unik yang terhampar luas di padang savana.
Di lembah ini ratusan arca batu bisa kita temukan. Jarak dari satu arca ke arca lainnya bervariasi. Ada yang jaraknya mencapai 50 meter, bahkan ada pula yang sampai 100 meter. Tapi, yang paling mudah dicapai adalah situs arca Tadulako yg menurut crita setempat adalah arca panglima perang.
Berdiri di atas sebuah bukit, arca ini menghadap ke arah barat, yakni ke arah matahari terbenam. Menurut Munis Taro totua adat Besoa, Tadulako adalah panglima perang yang tersisa dari sebuah perang suku di zaman sekitar 3.000 Sebelum Masehi. Ia dikutuk menjadi batu setelah dipukul kepalanya oleh seorang perempuan musuh dengan batang alu.
Itu kisah turun-temurun yang diketahui sampai kini tentang Tadulako. Tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan kisah ini muncul, tapi dari perhitungan peneliti, kisah ini ada sejak ribuan tahun lalu, tutur Munis Taro yang kini berusia 72 tahun .
Saking terkenalnya arca ini, sebuah perguruan tinggi negeri di Palu, Sulawesi Tengah dinamai Universitas Tadulako. Tadulako merujuk pada gelar pemimpin perang atau orang yang sangat dihormati. Tadulako sama dengan Senopati dalam tradisi Jawa.

Lembah Megalitikum Besoa terletak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke situs purbakala yang menyimpan cerita dari zaman prasejarah itu, kita harus berjalan kaki kurang dari 1 kilometer melewati pesawahan dan menyaksikan kerbau-kerbau petani yang sedang berkubang.

Di dekat arca Tadulako sekitar 50 meter kita juga akan menemukan Kalamba. Ini yang menarik. Menurut cerita, arca ini dulunya adalah bak mandi para putri raja. Bentuknya seperti ember besar. Kalamba ini mempunyai tutup yang juga terbuat dari batu alam.
Berkunjung ke lembah Megalitum bak terlempar jauh ke masa prasejarah di mana manusia belum mengenal tulisan. Selain Tadulako, salah satu arca yang fenomenal adalah Patung Sepe, yang biasa disebut pula Arca Miring, karena posisinya berdiri seperti Menara Pisa di Roma, Italia. Tak ada yang tahu pasti kenapa Patung Sepe ini posisinya miring.
Untuk menuju ke situs ini, kita bisa menempuhnya dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Lalu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekira 300 meter dari jalan utama di Lembah Napu.
Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah saat ini terdapat 432 objek situs megalit di Sulawesi Tengah. Tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi sebanyak 27 situs.

Saat ini, sebagian besar arca yang ditaksir berusia sekitar 3000 4000 SM itu masih berada di situs alamnya di Lembah Napu, Bada dan Besoa di Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Sementara sebagiannya sudah dibawa ke Museum Negeri Sulawesi Tengah.
Arca megalitikum semacam ini adalah hal yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Marquies Island, Amerika Latin.
Dr Albertus Christiaan Kruyt (1869-1949) dan Dr Nicolaus Adriani yang tiba di Poso pada 1895, dua orang misionaris dan juga ahli etnografer Belanda, mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso pada 1908, masyarakat Poso masih memperlakukan penguburan mayat-mayat anggota suku mereka di dalam batu maupun kayu. Sebagai bukti, sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan Goa Latea, salah satu situs penguburan di dalam kubur batu dan goa-goa di Tentena, Sulawesi Tengah, sekitar 300 kilometer dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Martin, salah seorang juru pelihara situs megalitikum di Lembah Besoa, dari sejumlah situs megalitikum di Kabupaten Poso itu terdapat beragam peninggalan zaman megalitikum. Ada yang berupa arca, menhir atau dolmen.
Jadi arca-arca megalitikum di sini sangat beragam. Bisa jadi situs ini yang paling beragam di Indonesia. Sayangnya, kita memang kurang promosi, sehingga kurang dikunjungi oleh wisatawan. Paling yang datang ke sini adalah peneliti.
Dibanding situs-situs arkeologi lainnya, situs ini kurang mendapat perhatian. Padahal kita tahu usia arca-arca megalitikum itu lebih tua daripada Borobudur.
Sulteng memiliki 1.451 buah arca dari situs megalitikum yang terseber di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa, Kabupaten Poso. Diperkirakan situs megalitikum Sulteng adalah yang terluas di Indonesia.
sumber : atlantis indonesia

KOIN GUNUNG PADANG : HASIL KARYA MANUSIA BERUPA LOGAM DIHASILKAN MELALUI CETAKAN




Pada sekitar pukul 24.00 di antara tanggal 14 dan 15 September 2014 ditemukan sejenis koin di Situs Gunung Padang. Penemuan ini diperoleh melalui proses pengeboran menggunakan pipa berdiameter 5cm. Pengeboran dilakukan di Teras 5. Pada KEDALAMAN 11 meter diperoleh koin yang kemudian dilakukan analisis awal Oleh Tim Arkeologi (DR . Ali Akbar dkk)

Temuan tersebut merupakan artefak karena menunjukkan HASIL KARYA MANUSIA. Artefak dibuat dari LOGAM dan kini kondisinya telah mengalami proses oksidasi. Temuan berwarna hijau kecoklatan. Uji sederhana menggunakan magnet menunjukkan logam tersebut bukan besi. Temuan memiliki dua sisi, masing-masing berpermukaan datar. Diameter 170mm, tebal 1,5mm.

Sisi pertama tidak terlalu jelas menunjukkan gambar atau motif tertentu kecuali lingkaran di bagian dalam dengan jarak 3 mm dari pinggiran. Sisi kedua terdapat banyak motif atau gambar. Pada bagian pinggir atau tepian terdapat motif garis tegak menyambung dengan garis mendatar menyambung dengan garis tegak.

Motif seperti ini dalam khasanah arkeologi disebut motif gawangan (seperti gawang). Pada jarak 6,5mm dari bagian pinggiran terdapat lingkaran. Lingkaran dengan diameter 10,5mm tersebut setelah


diteliti lebih lanjut ternyata terdiri atas 84 lingkaran kecil.

Lingkaran-lingkaran kecil tersebut terletak berdampingan membentuk lingkaran. Masing-masing lingkaran kecil berukuran sama yakni 0,3 mm. Suatu ukuran yang maha kecil, sehingga untuk membuatnya diperlukan ketelitian, kesabaran, dan tingkat presisi yang super tinggi. Detail yang terdapat pada benda ini, ukurannya yang sangat kecil, dan konsistensi ukuran membawa pada kesimpulan sementara bahwa benda ini dihasilkan dengan teknik DICETAK.(ERik Rizki, sekretaris Timnas Riset Gunung Padang)

sumber : TTRM

Ekspedisi Awal ke Rancabuaya

Assalamualaikum wr wb,

Dalam berbagai kesempatan, Kang Dicky menyampaikan bahwa untuk melakukan inovasi atau menemukan hal baru, beliau menggunakan cara 4N yaitu Nalusur (Menelusuri), Naluntik (Meneliti), Nalar (Berpikir/Menganalisa) dan Nalipak (Mawas diri). Nah, kali ini kami berkesempatan menerapkan 4N tersebut dalam perjalanan ekspedisi awal ke Pantai Rancabuaya pada 3-4 Oktober lalu bersama kang Dicky.

Tim ekspedisi kali ini diantaranya terdiri dari Kang Dicky Zainal Arifin (Guru Utama LSBD Hikmatul Iman Indonesia, Peneliti & Budayawan), Bapak Ahmad Yanuana Samantho (Peneliti, Penulis & Akademisi), Kang Noviyar (Pecinta Peradaban Nusantara dan Admin Grup FB Atlantis Indonesia), Ibu Rini (Komunitas Spiritual), Mas Eko (Komunitas Spiritual), Kang Otang (Praktisi Pertanian Alami & Penyuluh Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik) dan Pengurus Pusat LSBD Hikmatul Iman Indonesia.

Pantai Rancabuaya, Cianjur Selatan
Pantai Rancabuaya kira-kira berada 90 km dari Kabupaten Garut, Cianjur Selatan, tepatnya di Desa Purbayani, Kecamatan Caringin. Pantai ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian barat, Desa Sinarjaya di sebelah timur, Desa Caringin di sebelah utara dan Desa Indralayang di sebelah selatan. Pantai ini terkenal memiliki batu-batu karang dan ombak yang besar serta air terjun atau curug yang langsung menghadap ke pantai.

Pantai ini berjarak kurang lebih 167 km dari Bandung atau sekitar 5-6 jam perjalanan dengan mobil. Rombongan berangkat menggunakan 3 buah mobil minibus. Perjalanan dimulai pada pukul 05.00 pagi dan tiba di lokasi sekitar pukul 13.00. Perjalanan sangat santai dan banyak berhenti untuk berfoto, berwisata kuliner dan istirahat. Jalur yang ditempuh dimulai dari Buahbatu – Banjaran – Pangalengan – Situ Cileunca – Cisewu – Rancabuaya.

Pada umumnya kondisi jalan menuju lokasi bisa dikatakan mulus, namun tetap ada wilayah yang kondisi jalannya tidak bagus. Jalan itu dapat dilewati dengan santai oleh rombongan kendaraan, meski di beberapa titik terdapat pekerjaan perbaikan jalan (pengecoran & pengaspalan). Kontur jalan bergelombang dan terdapat banyak tikungan tajam. Diperlukan kendaraan dengan kondisi prima dan pengemudi yang waspada karena pada beberapa lokasi jalannya sempit, rawan longsoran --bahkan sempat terjadi sedikit longsor pada jalur yang akan kami lintasi, dan tikungan yang langsung menghadap ke jurang. Jalan di kawasan Rancabuaya sediri belum diaspal, tapi sudah diperkeras oleh lapisan batu kali.

Temuan Bebatuan Menarik di Rancabuaya
Kang Dicky mengajak kami semua mengunjungi kawasan Pantai Rancabuaya karena sebelumnya pernah mengunjungi tempat tersebut dalam sebuah kesempatan, dan menemukan berbagai hal yang menarik sehingga ingin mengajak pihak-pihak lain untuk turut melihat langsung serta meneliti wilayah tersebut.

Benar saja, di lokasi sekitar pantai kami melihat sendiri banyak berserakan bebatuan yang tidak biasa. Mengapa tidak biasa? Karena selain batuan yang menyerupai batu kali, ada semacam perekat atau semen yang menempelkan bebatuan tersebut hingga bentuknya menyerupai dinding atau tembok yang hancur berserakan. Lapisan perekat yang mirip semen tersebut lebih mudah tergerus oleh air laut daripada batu. Menurut warga pun memang lapisan yang merekatkan bebatuan ini nampak seperti coran (adukan semen). Kami juga menemukan batu yang nampak seperti ada lelehan atau terbakar, batu yang memiliki lekukan mirip telapak kaki manusia, batu yang memiliki tonjolan dan lubang, dan lain-lain. Selain di pantai, batu-batu tersebut juga tersebar di dataran menuju ke pantai.

Obrolan Santai dengan Warga
Pada saat meneliti, melihat-lihat batuan dan lapisan perekat mirip semen yang tersebar di pantai, kami menyempatkan diri berbincang dengan warga setempat. Menurut warga, memang ada mitos atau cerita yang mengatakan bahwa pada masa lalu di wilayah tersebut terdapat kerajaan. Bahkan ada lokasi yang disebut Batu Kukumbung (kukumbung = berkumpul), yang menurut cerita pada masa lalu adalah tempat berkumpul atau semacam tempat untuk berdiskusi atau rapat.

Untuk asal-usul penamaan tempat Rancabuaya, menurut warga setempat Ranca = Rawa, Buaya = Buaya. Jadi, pada masa lalu lokasi itu adalah rawa yang terdapat banyak buaya. Namun saat ini sudah sangat jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah terlihat lagi karena pada masa lalu buaya-buaya tersebut dibasmi dengan cara diburu maupun diracun (diberi umpan bangkai binatang yang sudah diracun). Dari bibir pantai Batu Kukumbung terlihat pelabuhan Jayanti, tempat para nelayan menyandarkan perahunya setelah mengarungi laut untuk mencari ikan. Pelabuhan ini pula salahsatu tempat evakuasi / pertolongan bagi imigran gelap yang mengalami kecelakaan di pantai selatan Jawa Barat ini, menurut warga setempat jika gelombang laut sedang tinggi-tingginya maka bisa terjadi kecelakaan kapal.

Pada perjalanan pulang, kami melewati daerah Cisewu – Situ Cileunca pada sore hari dan disuguhi oleh kondisi jalan yang berkabut tebal. Dalam kondisi jalan berkabut dan berkelok seperti ini kewaspadaan pengemudi mutlak diperlukan.
Kunjungan kali ini bisa dikatakan ekspedisi awal dan tentu saja masih belum menghasilkan kesimpulan-kesimpulan final. Rencananya, kegiatan semacam ini akan diselenggarakan kembali dengan melibatkan lebih banyak peneliti.
Sampai jumpa dalam ekspedisi selanjutnya!

Wassalamualaikum wr wb.



sumber : facebook.com/media/set/?set=a.10151564948285834.1073741894.136110335833&type=1

Teknologi Membuat Api dari Air Sudah Dikuasai 79 Ribu Tahun Sebelum Masehi

Teknologi Membuat Api dari Air Sudah Dikuasai 79 Ribu Tahun Sebelum Masehi

Dicky Zainal Arifin telah menemukan suatu teknologi baru yang mampu menciptakan api dari tenaga air. Dicky mengaku menemukan teknologi baru ini setelah mempelajari manuskrip masa lalu yang tertulis dalam prasasti dengan tulisan huruf Lemurian yang ada di sekitar Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, sekitar 79 ribu tahun sebelum Masehi.

"Prasasti ini berisi huruf LEMURIAN, yang merupakan huruf tertua dan berisi cara bikin api yang disebut HYDRINNTANA" papar Dicky dalam acara "Diskusi Bencana dan Peradaban" serta peluncuran buku "Plato Tidak Bohong karya DR. Danny Hilman Natawidjaya, di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (20/5).

Menurut dia, dalam manuskrip dijelaskan secara mendetail tentang cara menghasilkan api dari pembelahan partikel hidrogen.

"Ini adalah warisan dari leluhur kita dan merupakan jawaban untuk krisis sekarang. Ini ada manuskripnya cara bikin bahan bakar dari air dan saya buktikan ini bisa, apinya anti polusi, gak ada asapnya," sambungnya sambil menampilkan video percobaan memunculkan api dari air yang berhasil digunakan untuk memasak.

Dia jelaskan, bangsa LEMURIAN adalah leluhur dari bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Selain bahan bakar air, bangsa LEMURIAN juga meninggalkan penemuan teknologi lain yang tidak kalah hebatnya, yaitu cara menggerakkan benda secara berlawanan arah jarum jam atau menolak gravitasi.

"Ada juga tentang bagaimana tenaga panas mampu memutarkan gravitasi, sehingga benda bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Jadi teknologi itu berasal dari masa lalu"

Selain kedua hal itu, Dicky juga menemukan metode untuk membuat pupuk dan cara menyembuhkan pecandu narkoba. Metode ini juga didapatkannya dari hasil penelitian atas peninggalan bangsa Lemurian.

"Saya akan trainingkan cara membuat pupuk ini. Sedangkan metode untuk rehabilitasi narkoba, ini sangat hebat, cepat dan murah. Bisa sembuh dalam tiga hari," tandasnya.

Teknologi ELLEMANPHATERA di Situs Ratu Boko

ISTILAH RATU BOKO DAN BARQHA
Situs Ratu Boko berada di Jl. Raya Jogja – Solo, Prambanan, Sleman – INDONESIA. Luas situs mencapai 25 Ha di areal 196 m di atas permukaan laut. Nama Ratu Boko atau Baka berasal dari BARQHA, bukan dari “Boko” atau burung bangau seperti yang kita pelajari dari sejarah. Terbukti sejak dahulu sampe sekarang, tidak banyak terdapat burung bangau di areal situs.

BARQHA adalah istilah LEMURIAN untuk portal antara ruang dan waktu. Situs Ratu Boko menyimpan peninggalan leluhur bangsa berupa keraton atau istana, yang di dalamnya terdapat “BARQHA lokal” (Lihat Buku 1 ARKHYTIREMA) yang dibuat oleh ARKHYTIREMA khusus sebagai alat transportasi dari istana Ratu Boko ke SALAKSANAGARA. Areal keraton itu sekitar 75 Ha.
TEKNOLOGI ELLEMANPHATERA
Peninggalan lainnya di Situs Ratu Boko adalah teknologi ELLEMANPHATERA, yaitu teknologi pencampuran antara logam dengan batuan. Fungsinya untuk menghindari karat dan supaya terawetkan. ELLEMANPHATERA adalah akar kata dari mantera. Karena masyarakat dahulu tidak bisa menjelaskan, istilah itu berkembang menjadi “mantera”.
Seperti manuskrip HYDRINNTANA (teknologi bahan bakar air), teknologi ELLEMANPHATERA pun tertulis dalam sebuah manuskrip. Sayangnya, mantera atau manuskrip itu kemudian di-mistis-kan oleh masyarakat, padahal mantera itu adalah manuskrip cara pembuatan teknologi ELLEMANPHATERA. Akhirnya, manuskrip pun diterjemahkan sebatas mantera atau jampi-jampi, dan bukan informasi tentang teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di lokasi situs terdapat aliran-aliran suara. Dahulu, Sang Ratu tidak perlu berbicara kencang karena dengan teknologi ELLEMENPHATERA gelombang suara bisa diarahkan kemana saja.
“Luar biasa sebetulnya dahulu. Tetapi sekarang menjadi biasa, karena dibuat seperti itu. Direkayasa supaya kita tidak berpikir. Biar kita menjadi mundur. Biar kita menjadi negara yang selalu terbelakang dan selalu di kondisi dunia ketiga. Makanya, kita yang nanti harus mengubah itu”, tegas Kang Dicky.
Teknologi ELLEMANPHATERA membuat pantulan suara menjadi terfokus, karena batuannya mengandung logam. Berbeda dengan batuan biasa, pantulannya seperti gaung biasa atau di gua. Berbagai frekuensi pun bisa ditangkap dengan teknologi ELLEMANPHATERA, termasuk gelombang elektromagnetik, misalnya dari handphone. Batuan disana pun memiliki tingkat kekerasan dan berat yang berbeda bila dibandingkan dengan batuan biasa seukurannya. Cukup dengan mengangkatnya akan terukur perbedaannya.
Teknologi ELLEMANPHATERA telah dihilangkan. Sekarang, kalau ingin membangun lagi teknologi itu, harus membuat tanur ELLEMANPHATERA. Di Planet Bumi ini, teknologinya harus menggunakan Nuklir dimana harus bisa memanaskan sampai titik didih 60.000 derajat Celcius.
Paparan kisah Situs Ratu Boko pun terhenti sampai di situ. Situs Ratu Boko masih menyisakan hikmah sejarah yang perlu kita perdalam lagi. Siapakah Ratu Boko? Kerjasama apa yang telah dilakukan oleh ARKHYTIREMA dan Ratu Boko dengan teknologi ELLEMENPHATERA? Dan yang terpenting, bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi ELLEMANPHATERA untuk menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat dan memanfaatkannya lebih dari sekedar mantera, jampi-jampi dan tempat wisata? (SRA/HSN)


sumber : http://hikmatuliman.or.id

VIMANHA

Selama ini UFO disebut sebagai kendaraan milik alien. Namun muncul satu lagi dugaan bahwa UFO itu berasal dari India dan Atlantis Kuno. Dugaan itu berasal dari manuskrip atau kitab-kitab kuno yang ditemukan di India.

Apa yang kita ketahui tentang pesawat terbang orang India kuno datangnya dari sumber-sumber India kuno yang mencakup penulisan teks yang diwariskan turun-temurun. Tanpa banyak prasangka bisa kita katakan bahwa kebanyakan teks ini adalah sah dan asli melihat sebagian besar belum lagi diterjemahkan dari bahasa Sanskrit lama.




Maharaja India Asoka telah mendirikan sebuah organisasi The Nine Unknown Menyang terdiri dari para ilmuwan terkenal India yang membukukan berbagai jenis sumber-sumber sains. Raja Asoka telah merahasiakan kerja mereka semua karena beliau merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan terpasung dari sumber India kuno itu sendiri dan justru yang akan disalahgunakan bagi tujuan peperangan yang kejam yang mana tidak diinginkan oleh Asoka sendiri.

The Nine Unknown Men telah menulis sembilan buah buku yang saling berkaitan antara satu sama lain. Buku bertajuk “Rahasia Rahasia Gravitasi” amat dikenali di kalangan sejarawan tetapi tidak dianggap oleh mereka sebagai sesuatu yang berkaitan dengan gravitasi bumi. Ia dianggap masih ada, tersimpan di dalam sebuah perpustakaan rahasia di India, Tibet, atau di mana-mana (mungkin juga berada di sekitar Amerika Utara).

Hanya beberapa tahun silam, rakyat China telah menemui beberapa buah dokumen sanskrit di Lhasa, Tibet serta telah membawanya ke Universitas Chandrigargh untuk diterjemahkan. Dr. Ruth Reyna dari Universitas itu menjelaskan bahwa dukumen itu mengandung petunjuk untuk membuat pesawat luar angkasa.

Cara-cara pembuatan mereka, katanya, adalah anti gravitasi dan berasaskan kepada satu sistem analog yaitu “laghima”, satu sumber tenaga yang tidak diketahui oleh manusia modern. Menurut ahli Yoga Hindu, “laghima” ini menjadikan seseorang itu mempunyai kemampuan untuk terbang.

Dr.Reyna menjelaskan bahwa pada papan mesin ini yang dikenali sebagai “Astras”, dikatakan telah digunakan oleh masyarakat India kuno untuk membawa satu rombongan manusia ke planet lain, sesuai yang tertera pada dokumen tersebut, yang mana dikatakan telah berusia beribu-ribu tahun. Manuskrip itu juga dikatakan telah memaparkan rahasia “antima” (cara-cara untuk menjadi menghilang) dan “gerima” (bagaimana untuk menjadi seberat gunung).

Pada mulanya para ilmuwan India tidak begitu serius dengan kandungan manuskrip tersebut tetapi kemudian mereka menyedari akan hakikat bernilainya manuskrip tersebut apabila negara China mengumumkan bahawa mereka akan memasukkan bagian tertentu dari data manuskrip tersebut ke dalam program kajian angkasa mereka. Ini adalah salah satu contoh pertama kerajaan untuk mengaku membuat kajian tentang anti-gravitasi.




Walaupun manuskrip tersebut memaparkan secara jelas tentang rancangan penjelajahan antar planet dan penjelajahan ke bulan tapi tidak dijelaskan apakah semua perjalananan angkasa itu benar-benar dilakukan. Walau bagaimanapun satu dari epik terkenal India yaitu Ramayana, mempunyai satu cerita terperinci tentang satu penjelajahan ke bulan dengan menggunakan Vimana atau Astra. Malah epik Ramayana menceritakan dengan terperinci maklumat satu pertempuran di atas bulan dengan sebuah pesawat Asvin atau Atlantean.

Ini adalah suatu bukti mengenai anti-gravitasi dan teknologi kapal angkasa telah digunakan oleh masyarakat kuno India. Untuk benar-benar memahami teknologi tersebut, kita harus meninjau kembali ke masa lampau, ke Kerajaan Rama di India Utara dan Pakistan yang terbentuk pada masa sekitar 15.000 tahun silam.

Pada masa itu disebutkan bahwa telah muncul kota-kota canggih yang segala sesuatunya teratur secara sistematis mulai dari penataan landscape sampai saluran air. Ingat bagaimana kisah Nabi Sulaiman yang menawan Ratu Balqis ? Bagaimana bentuk istananya, sehingga digambarkan apabila kita berjalan di atas lantai istana itu, seolah-olah kita berjalan di atas permukaan air.

Mungkin ini ada kaitannya. Sedangkan di dalam Al-Quran ada disebutkan tentang mukjizat Nabi Sulaiman yang bisa mengendarai angin. Ini mungkin berkaitan erat dengan teknologi yang berkembang pada jaman itu. Bukti keberadaan Rama masih dapat ditemukan di padang pasir Pakistan utara dan India barat. Rama diperkirakan hidup sejaman dengan bangsa di Benua Atlantis.

Tujuh buah kota besar yang teragung dalam Kerajaan Rama yang terkenal dengan nama “Tujuh Kota-Kota Rishi” dalam teks klasik Hindu. Menurut penjelasan teks India kuno, masyarakat ketika itu mempunyai mesin terbang yang dipanggil sebagaiVimanas. Epiks India kuno telah menjelaskan sebuah Vimana sebagai satu pesawat yang mempunyai dua dek dan berbentuk bulatan dengan terdapatnya lubang pada bagian bawah pesawat dan menara pada bagian atasnya.

Berdasarkan kepada keterangan tersebut kita mungkin akan mengaitkannya dengan piring terbang alias UFO. Vimana dikatakan mempunyai kemampuan untuk terbang dengan kecepatan angin dan mengeluarkan bunyi bermelodi. Terdapat sekurang-kurangnya 4 jenis bagi pesawat Vimana; sebagian berbentuk piring dan yang lain berbentuk silinder panjang (kapal angkasa berbentuk kerucut).

Masyarakat India kuno yang menghasilkan kapal sendiri, telah menulis tentang manual penerbangan berbagai jenis Vimanas, yang sebagian besar manuskripnya masih dicari-cari para ilmuwan. Sedangkan bagaian manuskrip yang ditemukan malah telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Samara Sutradara adalah satu karya sastra ilmiah yang berkaitan dengan keberhasilan perjalanan angkasa dengan menggunakan sebuah Vimana.




Terdapat 230 puisi berkaitan dengan cara membuat, perjalanan sejauh seribu batu, pendaratan secara normal, kecemasan, dan kisah penerbangan di antara burung-burung. Pada tahun 1875, sebuah kitab berjudul Vaimanika Sastra ditulis oleh ilmuwan bernama ditulis oleh ilmuwan Bhara Dewaji yang menggunakan kitab-kitab yang lebih lama sebagai sumbernya.

Kitab itu ditemui di dalam sebuah kuil di India dan di dalamnya tercantum keterangan-keterangan yang berkaitan dengan cara mengemudikan Vimana, langkah-langkah penyelamatan, penerbangan jauh, dan perlindungan terhadap pesawat dari ancaman badai, kilat, dan petir. Kita itu menjelaskan bagaimana cara menyerap energi matahari. Vaimanika Sastra (atau Vymaanika-Shaastra) mempunyai delapan peringkat dengan gambar sketsa yang menjelaskan tentang tiga jenis kapal udara, termasuk jenis-jenis yang bisa mudah terbakar atau hancur.

Ia juga menerangkan tentang 31 jenis bagian tertentu bagi kendaraan ini dan 16 bahan mentah sebagai sumber energinya yang mana bisa juga menyerap cahaya dan tenaga panas yang sesuai untuk menggerakkan Vimana. Dokumen ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan bisa didapat dengan mengirim surat kepada penerbit Vymaani Dashaastra Aeronotics untuk Maharishi Bharadwaaja.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disunting, dicetak dan dikeluarkan oleh En. G.R. Josyer, Mysore, India, 1979. En. Josyer adalah seorang pengarah bagi akademi Tehnik Sanskrit Antar Bangsa, terletak di Mysore. Memang tiada keraguan bahwa Vimana telah digerakkan oleh sumber energi “anti-gravitasi”. Vimana lepas landas secara melintang, dan dikatakan mampu untuk beterbangan di langit seperti sebuah helikopter moden.

Bharadvajy merujuk bahwa tidak kurang daripada 70 orang pihak pemerintah dan 10 orang pakar penerbangan udara yang terlibat. Sumber energi ini sekarang telah hilang. Vimana telah disimpan di sebuah Vimana griha, seperti penyangkut, dan dikatakan kadangkala dicat dengan sejenis cat putih kekuningan dan kadangkala dengan sejenis bahan merkuri.

Cat putih kekuningan kelihatan mencurigakan seperti gaselin dan mungkin Vimanamempunyai hitungan sumber energi yang berlainan termasuk mesin penggerak dan malah mesin jet saraf. Adalah menarik untuk diketahui bahwa pihak Nazi juga telah membuat mesin jet saraf praktikal pertama bagi roket V.8 mereka. Kakitangan Hitler dan Nazi juga dikatakan berminat dengan India kuno dan Tibet sehingga pada awal tahun 30- an telah membawa satu tim ekspedisi ke dua tempat tersebut setiap tahun, sebagai usaha untuk mendapatkan bukti kuat dan tidak mustahil jika dikatakan pihak Nazi mungkin memperoleh panduan ilmiah mereka dari dua sumber kuno ini.

Merujuk pada Dranaparva yang merupakan sebagian dari epiks Mahabarata danRamayana, Vimana digambarkan berbentuk seperti sebuah bentuk bujur dan mempunyai kecepatan yang hebat seperti angin kuat, yang dihasilkan oleh bahan merkuri. Ia bergerak seperti sebuah UFO, ke atas dan ke bawah, ke belakang dan ke depan seperti yang diinginkan pilot. Di dalam satu lagi sumber India lain yaituSamaranganasutradhara telah menjelaskan bagaimana kendaraan ini dibentuk.

Pada jaman tersebut telah dikenal pemakaian bahan merkuri sebagai bahan bakarVimana, melihat gambaran yang dijelaskan oleh buku itu. Banyak ilmuwan Rusia terheran-heran saat menemukan catatan berupa panduan mengemudikan kendaraan yang tertera di bebeperapa dinding gua di turki dan Gurun Gobi. Dari ukiran dan relief yang terdapat pada potongan tanah liat dan kaca digambarkan bagaimana sebuah kendaraan kosmik melaju.

Pesawat terbang antar planet itu dilambangkan dengan segitiga yang di dalamnya terdapat simbol merkuri. Ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang India purba telah mampu mengirim utusan dengan kendaraaan ini dan menjelajahi wilayah Asia, Atlantis, sampai ke Amerika Selatan. Di Mohenjodaro (Pakistan) terdapat manuskrip yang menjelaskan tentang peperangan Ramayana yang menggunakan segala bentuk persenjataan dan kendaraan terbang semcam itu.

Bayangkan betapa teknologi laser, jet, dan roket telah ada di kerajaan Ramayanasejak jaman dulu dan menghancurleburkan peradaban pada jaman itu. Mari kita simak bait-bait yang tertulis dalam kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8:
“Sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang. gelap bagaikan malam, namun terlihat dari cahaya mereka yang kekuningan.”

Malangnya Vimana, seperti kebanyakan ciptaan ilmiah yang lain, telah digunakan untuk tujuan peperangan. Orang-orang Atlantis menggunakan kendaraan terbang mereka, Vailixi untuk menyerang negeri-negeri lain dan menguasai dunia. Dalam teks kuno India mereka dikenal dengan bangsa Aswins. Meskipun tak ada catatan tentang pesawat Vailixi dari bangsa atlantis sendiri tapi kedatangan mereka ke India melalui udara banyak sekali diceritakan.

Deskripsi Vailixi berbentuk silinder panjang dan selain dapat terbang juga mampu bergerak di bawah air seperti kapal selam modern. Kendaraan-kendaraan lain, seperti Vimana berbentuk seperti piring dan mungkin juga bisa bergerak di bawah air. Menurut Eklal Kuehshana, penulis “The Ultimate Frontier”, dalam satu artikel yang ditulisnya dalam 1966, menyatakan bahwa Vailixi yang paling awal dibuat di Atlantis yaitu kira-kira 20,000 tahun lampau dan bentuk yang paling biasa ialah bentuk piring dengan tiga ruang mesin dibawahnya.”

“Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti-gravitasi dengan menggunakan tenaga mesin sebesar 80,000 tenaga kuda,” Dalam teks Mahabarata, salah satu sumber yang menerangkan Vimana, ada yang menjelaskan tentang kemusnahan yang hebat yang menunjukkan kesan dari peperangan tersebut: senjata itu merupakan satu alat yang mengandung semua energi yang ada di dunia ini.

Satu kepulan asap yang besar dan cahaya yang terang benderang bagaikan sinaran dari beribu-ribu matahari telah dihasilkannya…Satu pancaran kilat, satu pembawa pesan maut yang dahsyat, yang menyebabkan kemusnahan seluruh keturunanVrishni dan Andhaka..mayat-mayat mereka terbakar hangus sehingga tidak dapat dikenal pasti.

Rambut dan kuku mereka terlepas; pecah tanpa sebab, dan burung-burung bertukar menjadi putih.. selepas beberapa jam semua bahan makan turut tercemar.. untuk mengelakkan diri daripada api itu, para laskar terjun ke dalam sungai untuk membersihkan diri mereka dan peralatan mereka..”

Dari penjelasan ini, seolah-olah Mahabrata sedang menggambarkan satu keadaan peperangan menggunakan bom atom. Kini pihak Barat telah mampu mengungkap sebagian dari rahasia gravitasi .. mereka telah mampu mencipta mesin anti gravitasi dari penghasil tenaga medan elektromagnetasi yang mereka namakan sebagai levitasi, namun masih belum lagi dipraktikkan.

Rujukan seperti ini bukan hanya satu; peperangan senjata yang menakjubkan dan kendaraan terbang merupakan gambaran biasa dalam buku-buku epik India. Terdapat sebuah epik yang menggambarkan peperangan Vimana – Vailixi di bulan. Peperangan yang digambarkan dalam aksi di atas menggambarkan dengan tepat tentang satu kesan letupan atomik dan kesan radioaktif ke atas penduduk.

Ketika kota besar Rishi di Mohenjodaro (Pakistan) ditemukan oleh para arkeologi pada akhir abad yang lalu, mereka melihat kerangka-kerangka yang bergelimpangan di jalan-jalan, ada yang berpegangan tangan, seolah-olah mereka telah dilanda satu malapetaka yang amat dasyhat secara tiba-tiba.

Pada kerangka-kerangka tersebut terdapat sisa radioaktif yang tinggi, sama dengan yang dijumpai di Hiroshima dan Nagasaki. Dari kota-kota kuno yang dibuat dari batu-bata dan batuan yang telah berubah bentuk, yaitu di India, Irlandia, Scotlandia, Perancis, Turki dan beberapa tempat lain, tiada penjelasan yang logik mengenai perubahan itu melainkan akibat ledakan atomik.

Selain itu, di MohenjoDaro, sebuah kota besar yang terancang di dalam bentuk grid, dengan sistem saluran yang lebih baik daripada yang terdapat di Pakistan dan India, jalan-jalannya dipenuhi dengan serpihan “kaca-kaca hitam”. Serpihan tersebut kemudiannya dikenal pasti sebagai tanah-tanah liat yang telah cair akibat kepanasan yang melampaui batas.

Pasca tenggelamnya Atlantis dan kemusnahan Rama akibat senjata atomik, dunia untuk sesaat kembali ke zaman batu seperti beberapa ribu tahun sebelumnya. Namun begitu, nampaknya bukan semua Vimana dan Vailixi milik Rama dan Atlantis yang hilang. Karena diciptakan untuk berfungsi selama beribu-ribu tahun, kebanyakan masih bisa digunakan, seperti yang terdapat dalam karyatulis “The Nine Unknown Men”, Asoka, dan manuskrip Lhasa.

Yang menarik adalah terdapat satu petikan sejarah yang menyatakan bahwa semasa Iskandar Yang Agung menyerang India lebih daripada dua ribu tahun lalu, pasukannya telah diserang dengan “perisai yang berterbangan dan bercahaya” yang menakutkan pasukan tentara dan pasukan berkudanya.

Walau bagaimanapun “piring-piring terbang” itu tidak menggunakan sembarang bom atom atau senjata lain ke atas laskar Iskandar.

Di masa itu juga Iskandar menawan India Ramai. penulis yang menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat rahasia telah menyimpan sebagian Vimana dan Vailiximereka di dalam gua-gua rahasia di Tibet atau tempat-tempat lain di Asia Tengah dan Gurun Lop Nor di barat China yang sampai sekarang dikenal sebagai pusat suatu misteri UFO yang besar.

Sumber : Prodimaar, http://misteridunia.wordpress.com/

Situs Gunung Padang di Cilacap


Situs Gunung Padang di Cilacap (Hizi Firmansyah/ Pemerhati Situs Purbakala Majenang)


Seperti halnya Gunung Padang di Cianjur, Gunung Padang di Cilacap juga berstruktur batuan.
Setelah heboh Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, warga Cilacap, Jawa Tengah, kembali teringat dengan sebuah situs kuno yang juga mereka sebut Gunung Padang. Situs yang terdapat di atas bukit ini terletak di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap.

Situs megalitikum ini menampilkan struktur balok-balok batu segi empat, segi lima dan segi enam yang rebah ke arah timur. Panjang rata-rata balok batu ini tiga sampai empat meter, tersusun sampai ketinggian 30 meter, lebar 15 meter dan panjang 20 meter.

Di sisi sebelah barat terdapat sebuah makam yang menurut warga sekitar adalah pembuat situs dan konon masih trah keturunan Kerajaan Pajajaran.

Di sebelah kiri dan kanan situs ini terdapat masing-masing gua. Juru kunci situs, Suganda, menyebut, gua sebelah kanan mengeluarkan wangi harum, sementara yang di sebelah kiri berbau amis. Gua-gua ini menjadi sasaran pertapa atau peziarah yang belakangan ramai berkunjung.

Untuk menuju ke lokasi situs Gunung Padang dari Ibukota Kecamatan Majenang butuh waktu empat jam menuju ke desa terakhir yaitu Desa Cibeunying. Selanjutnya dari desa terahir menuju ke lokasi situs yang terletak di Desa Salebu harus berjalan kaki selama satu jam melintasi hutan.

Sementara itu, Hizi Firmansyah, seorang pemerhati lingkungan dan benda cagar budaya, mengaku sangat prihatin dengan kondisi situs Gunung Padang. Menurutnya, kondisinya sangat rusak dan tidak terawat. Hingga saat ini belum pernah ada perhatian dari pemerintah daerah untuk melakukan perhatian terhadap situs yang memiliki nilai sejarah yang tinggi ini.

(umi)vivanews 

Uji Lab BAT Miami Florida Akui Situs Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Mesir


 Uji Lab BAT Miami Florida Akui Situs Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Mesir
Hasil uji Lab Batan terhadap umur situs Gunung Padang, Jabar (Batan ) Seperti pernah diberitakan sebelumnya, bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat terbukti secara ilmiah lebih tua dari Piramida Giza, Mesir.
Merujuk hasil pengujian karbon dating Lab Batan (Indonesia) dengan metoda LSC C14 dari material paleosoil di kedalaman -4m pada lokasi bor coring 1, usia material paleosoil adalah 5500 +130 tahun BP yang lalu.
Sedangkan pengujian material pasir di kedalaman -8 s/d -10 m pada lokasi coring bor 2 adalah 11000 + 150 tahun. Hasil mengejutkan dan konsisten dikeluarkan oleh laboratorium Beta Analytic Miami, Florida, minggu lalu, dimana umur dari lapisan dari kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter bada bor 2 umurnya sekitar 14500 – 25000 SM/atau lebih tua.

Sementara beberapa sample konsisten dengan apa yang di lakukan di Lab Batan.
“Kita tahun laboratorium di Miami Florida ini bertaraf internasional yang kerap menjadi rujukan berbagai riset dunia terutama terkait carbon dating,” ujar Budiono Ontowirjo, asisten stafsus/periset Ristek/anggota tim terpadu riset mandiri, pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II pada Jum’at (2/11/2011) di Jakarta.
Adanya tanda-tanda berbentuk gambar atau cekungan buatan manusia pada setiap batu yang berada di teras 1 s/d 5 situs itu dibenarkan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief.
Ia mengatakan dalam rilis medianya resminya, “Penelitian mengenai makna bentuk gambar dan aksara yang terbentuk pada batu breksi andesit merupakan hal terbaru,” tutupnya.
Selain ditemukan pula umur dari lapisan tanah di dekat permukaan (60 cm di bawah permukaan), sekitar 600 tahun SM (hasil carbon dating dari sampel yang diperoleh Arkeolog, DR Ali Akbar, anggota tim riset terpadu di Lab batan).
Hasil penelitian uji umur situs Gunung Padang oleh kedua laboratorium itu menjawab keraguan banyak pihak atas uji sampel di laboratorium BATAN. Sebelumnya, tim riset terpadu mandiri telah melakukan uji terkait usia Gunung Padang di laboratorium BATAN, namun tidak banyak respon positif, bahkan meragukannya. Padahal hasil yang diperoleh oleh kedua laboratorium itu tidak banyak berbeda. (ASR/ASR)
—-
The Jakarta Post, Jakarta | National | Mon, November 05 2012, 7:52
AMA recent analysis of carbon-dating by the Miami-based Beta Analytic Lab has apparently validated findings by a government-sanctioned team that a man-made structure, buried under Mount Padang in Cianjur, West Java, is older than the Giza pyramid.

Carbon-dating test results from the Miami lab show that the structure could date back to 14,000 BC or beyond.
The lab used samples of sand, soil and charcoal found at a depth of between three and 12 meters beneath the mountain’s surface.
The Giza pyramids were constructed around 2,500 BC.
“The analysis of the Miami lab dismisses doubts over an earlier test conducted by the National Nuclear Agency [Batan]. There is no more doubt that the structure beneath Mount Padang is older than the Giza pyramid,” geologist and member of the Mount Padang research team Budianto Ontowirjo said on Sunday.
A group of researchers, coordinated by President Susilo Bambang Yudhoyono’s special advisor on disaster mitigation and social assistance Andi Arief, commissioned a study about the ancient “structure” “buried” under Mount Padang at the beginning of this year.
Andi reportedly believes Indonesia was inhabited by people with sophisticated technology after he found much evidence beneath the land and sea around Sumatra, Java and Bali. Yudhoyono has given his support to the project.
In February, the group published its findings, claiming that the structure might change the history of the nation as we know it. Indonesia’s history might well start before 4 AD.
“If the structure beneath the mountain is naturally constructed, then the age revealed by carbon-dating process should have been much greater,” Budianto said.
Any natural material buried between three and 12 meters under the surface should have been millions of years in age, Budianto said.
The fact that the material beneath Mount Padang is relatively young indicates that it probably is man-made.
Besides the result of the carbon-dating, Budianto and his colleagues also claim that they had found other concrete evidence to show that pre-historic men might have erected structure in the mountain.
“We found motives in the forms of tiger’s claws or a kujang [dagger], which are engraved on the stones there. We suspect they are letters to mark the stones,” he said.
Earlier this year, the preliminary finding was met with criticism and objections by a larger group of geologists and archeologists. Activists have also called the project a waste of the state’s budget as it has spent billions of rupiahs. Environmentalists, meanwhile, have expressed concern that the research could damage the ecosystem around Mount Padang.
Meanwhile, archeologist Ali Akbar of the University of Indonesia said that it was premature to conclude that the Mount Padang structure was man-made.
Ali said that before drawing such conclusion, the team would need to start a massive excavation project to unearth the whole structure beneath the mountain.
Early indications show however, that the structure was probably man-made.
“Found at the site were blocks of stones which are neatly placed three meters beneath the ground. I suppose they were not naturally placed there,” Ali said.(riz)
Adrian Syahalam

Sumber http://iamfreakss.blogspot.com/

KAMI TAK KENAL KARUN

KAMI TAK KENAL KARUN--Adalah Geolog Sudjatmiko yang selalu bilang kemana-mana bahwa Tim terpadu ini mencari Harta Karun. Bahkan kemarin Geolog gaek itu menyatakan bahwa dipastikan ada harta karun di bawah situs Gunung Padang. Inilah kekeliruan mendasar dari Sudjatmiko. Pertama kami tidak pernah kenal yang namanya Karun. Dan Kita sampai saat ini tidak tertarik pada cerita Karun yang memiliki emas yang kuncinya saja segudang. Sangatlah aneh jika ada yang berstatemen ada harta Karun. Geolog Sudjatmiko terperangkap dalam pandangan seakan-akan Karun itu memiliki harta banyak, kedua, Secara tak sadar Ia mennyatakan Cerita harta karun itu ada di bumi Indonesia. Artinya, secara tak sadar Sudjatmiko mengakui ada masa pra sejarah yang maju di Indonesia. Berdasarkan riset yang ada, selama dua tahun ini kita tidak mendeteksi di dalam bangunan itu ada peninggalan si Karun. Kita mengendus berdasarkan berbagai pendekatan ada satu maha karya bangunan yang didirikan dengan teknologi canggih, dan di dalam bangunan itu terindikasi adanya satu teknologi "luar biasa' yang bisa mengagetkan kita semua yang merasa saat ini hidup di zaman sudah maju. Jelas sudah, Tim ini tak memikirkan Karun yang menurut Sudjatmiko ada dan lahir seta meninggalkan harta di bumi Indonesia. Kita sedang mengungkap peradaban tinggi leluhur kita yang selama ini ditimbun. Belum jelas apakah perang atau bencana yang sebabkan Mahakarya Agung ini ditimbun. Adalah Munardjito yang selalu mengkampanyekan bahwa situs Megalitikum Gunung padang akan rusak karena riset tim terpadu sehingga sampai membuat pertisi segala. Munardjito adalah arkeolog yang mendadak peduli Situs ini setelah ramai berita riset tim terpadu. Seperti diketahui bersama semua arkeolog itu hanya mengakui bahwa yang dinamakan situs itu adalah luasan tanah di atas situs yg ukurannya hanya 900 m2 beserta batu-batu yang bergelimpangan di atasnya. Entah apa yang membuat arkeolog kemudian menyebutkan tanah seluas itu beserta batu bergelimpangan itu disebut mahakarya agung nenek moyang kita seperti dalam paper Lutfi Yondri. Penghinaan terhadap kita semua kalau mahakarya agung itu adalah hanya batu bergelimpangan di tanah yang arealnya hanya 900 m2. Dimana riset ini merusak situs? entahlah, semua riset setelah 7 februari 2011 semua dilakukan di luar situs. ada di tanah masyarakat, ada di tanah negara. Miris, jika dibandingkan dengan peneliti asing yang bebas dimana-mana mengutak atik berbagai situs bukan untuk kepentingan bangsa ini. Belum ada satu bukti yang menyatakan riset ini merusak situs, tetapi semua orang tahu bahwa arkeolog yang selama ini berteriak merusak situs, justru dislah yang merusak situs dengan memasang menara di areal situs itu. Orang itu bernama Lutfi Yondri. Dari kesemua ini, adalah hal yang aneh jika arkeolog menentang riset ini, bukankah semua eskavasi akan dilakukan oleh arkeolog? masyarakat hanya membantu arkeolog bekerja, mereka merasa memiliki, mengontrol dan sebagainya. Tengoklah situs batu jaya, mengapa seperti ditinggalkan? menunggu dana UNESCO? Belajarlah dari Borobudur. Kita memiliki fisiknya, tapi kita dipaksa mengerti untuk tidak mengerti banyak hal dari penemuan, pemugaran dll. Harusnya momentium gunung padang ini menjadi kebangkitan arkeolog Indonesia di mata dunia. Sayang sungguh sayang, sekali lagi momentum disia-siakan. Salah besar, jika gertakan petisi akan membuat tim terpadu akan mundur. Tanggung jawab intelektual sebagai peneliti kepada rakyat apalagi ini menyngkut peradaban masa lalu kita tak bisa dihentikan dengan petisi ! Sampai hari ini semua hanya common sense menilai riset tim terpadu: Tolong buktikan satu saja mana langkah tim terpadu yang tidak ilmiah, yang merusak situs dan yang melanggar UU.

andi arif

Penjelasan ilmiah tentang pembangunan Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!

Desain Candi

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa. Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.

Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.

Material Penyusun Candi

Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.

Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis andesit dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.

Misteri Cara Membangun Candi

Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. Dia mengatakan “Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.”

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun.


Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:

  1. Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
  2. Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
  3. David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
  4. Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.
Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.

Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:

  1. Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
  2. Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
  3. Konstruksi bangunan. Candi borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.

  4. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk.
  5. Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar candi borobudur.
  6. Candi borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi.
  7. Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
  8. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa candi borobudur dibangun mulai 824 m – 847 m. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 m hingga 842 m atau 92 tahun.
  9. Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. Tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
  10. Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. Setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
  11. Jumlah stupa di tingkat arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.

  12. Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : Angka 1 melambangkan ke-esaan sang adhi buddha. Jumlah tingkatan borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:

1. dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.

2. sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.

3. candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.


4. lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.

5. borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.


6. candi borobudur adalah candi terbesar. Candi borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.

KESIMPULAN

kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa candi borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design aristektur dan teknik sipil serta kemampuan manajemen proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!

PENEMUAN PIRAMID: GELIAT MELAWAN KONSPIRASI DUNIA Oleh: Wilman Ramdani



-Di Posting oleh: KDM

Belajar dari sejarah pemikiran filsaafat yang selalu menjadi dasar pergerakan kehidupan, ternyata (faktanya) konsep apa pun penerapannya sangat jauh secara adil dan sejahtera, karena pada akhirnya memunculkan sebuah "dominasi" atau "hegemoni" yang terpusat pada satu bahasa yaitu "konspirasi". Namun teori konspirasi bagi sebagian ilmuwan luar dan sebagian ilmuwan kita yang belajar dari luar tidak mempercayai "teori konspirasi" terhadap bangsa ini.

Pernah salah satu teman lulusan pascasarjana universitas di AS mengatakan ketidakpercayaannya terhadap "teori konspirasi" yang menurutnya itu hanya sebagai alasan sebagian bangsa kita mencari kambing hitam. Penulis "rada" tidak sepakat dengan pernyataan seorang teman tsb, karena penulis melihat "konspirasi" tsb sudah bukan lagi "teori", akan tetapi sudah merupakan sebuah "praktek" dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan terkadang efek dari "praktek-praktek" tsb sudah dianggap sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Hal ini dapat dikatakan bahwa ketidak percayaan pada "konspirasi" karena suasana kehidupan sekarang adalah hasil dari "produk-produk" konspirasi yang sudah establish, atau sudah status quo, karena ada juga sebagian masyarakat yang "enak" dan "nyaman" dengan suasana "established conspirated" ini.

Penulis ambil contoh misalnya sebagian masyarakat akademis Indonesia sekarang cenderung menerima "sejarah" awal kehidupan manusia bermula pada 5000 SM sebagai sebuah pengetahuan yang established. Padahal tidak diketahui juga secara jelas pada peradaban siapa "awal" kehidupan dunia, apakah pada peradaban SUMERIA, atau BABILONIA, atau MESIR KUNO? Sedangkan di bumi Indonesia ini ditemukan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang Cianjur yang usianya kurang lebih 10.000 SM. Pertanyaannya, peradaban siapakah ini? Pada masa siapakah Gn. Padang Cianjur dibuat? Masa Nabi siapakah ini dibangun?

Sebagian kalangan akademis Indonesia menolak kalau peradaban sebelum 5000 SM sudah maju. Fakta berkata lain, ternyata pada tahun 10.000 SM sudah ada peradaban canggih di bumi Indonesia ini. Namun tetap, sebagian kalangan akademis menolak, karena memang dalam referensi dan kesejarahan mereka terbentur pada bahan bacaan yang hanya menceritakan 5000 SM.
Pembentukan pengetahuan yang mempercayai sejarah peradaban dimulai hanya dari 5000 SM merupakan struktur dan pondasi filsafat yang "linkage" antara sistem pengetahuan awal dengan fakta yang "direkayasa", agar terjadi penguatan argumentasi antara satu dengan yang lain, sehingga tidak heran kemudian muncul teori Darwin yang memperkuat teori awal sejarah manusia tersebut.
Hasilnya adalah, pengetahuan established dari sebuah "konspirasi" yang dilakukan bertahun-tahun, struktural, masuk ke alam bawah sadar Bangsa ini, menolak adanya penemuan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang. "Konspirasi" tersebut sampai sekarang mengakar cukup kuat yang akhirnya berimbas pada penolakan LSM-LSM lokal yang tidak mau adanya intervensi pemerintah pusat atau daerah dalam riset dan eskavasi Gn. Padang karena selalu tidak pernah "kelar".
Belajar Dari Candi JIWA Karawang
Sebagai sebuah analogi, LSM-LSM lokal atau seniman-seniman, tokoh adat dan masyarakat mencoba menangkap fenomena penemuan MAN MADE STRUCTURE di Gn. Padang agar jangan seperti kejadian seperti Taman Nasional Cibodas yang akhirnya "dikerjasamakan" -kalau tidak dikatakan digadaikan- dengan JICA, atau geothermal yang dikerjasamakan dengan asing. Mereka secara sadar ataupun tidak telah berupaya melawan "kekuatan" konspirasi dunia yang selalu tidak pernah menguntungkan Bangsa Indonesia. Serbuan-serbuan asing mulai dari negeri Cina, Korea, Eropa, AS terus berdatangan melakukan "intervensi" pada semua struktur ilmu pengetahuan Bangsa Indonesia.
Sebenarnya, penolakan LSM-LSM lokal seperti WALHI, GENERASI PASUNDAN (GEMPAS), bahkan Tokoh-tokoh Adat Sunda dapat dimengerti, juga seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah, bahwa rakyat sudah bosan dengan "campur tangan asing". "Jangan sampai Gn. Padang diserahkan penelitiannya kepada institusi asing atau PBB seperti UNESCO," tegas Eko Wiwid koordinator Walhi daerah ketika diskusi dengan Tim Katastropik Purba yang dipimpin Andi Arief dalam melakukan riset di Gn. Padang Cianjur.
Penulis melihat Tim Katastropik Purba cukup mengerti perasaan dan jiwa masyarakat Cianjur dan Jawa Barat khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.Atau jika boleh dianalogikan kembali, berkaca pada Candi JIWA yang pekerjaannya “diserahkan” atau “bekerjasama”dengan institusi asing dan PBB, yang hingga saat ini belum juga mendapatkan perkembangan yang berarti. Candi JIWA yang berada di Kabupaten Karawang Jawa Barat berada dalam kondisi memprihatinkan.
Tim Katastropik Purba kemudian meneliti adanya keterkaitan Candi JIWA dengan bencana katastropik purba, Tim menduga bahwa Candi JIWA yang ditemukan tahun 1984 ini lebih luas dibanding Candi Borobudur. Namun mirisnya, penulis melihat sampai saat ini riset Candi JIWA di Batujaya Karawang tersebut terbengkalai. Bahkan masyarakat ataupun media sama sekali tidak diberitahu kemajuan-kemajuan atau progresifitas hasil riset tersebut. Selain itu, ada indikasi penelitian tersebut dilakukan cenderung tertutup dan tidak transparan.
Penulis berhusnuzhan, jika Candi JIWA tersebut belum selesai –kalaupun tidak mau dikatakan terbengkalai, mungkin “interpretasi” terhadap candi tersebut tidak tuntas, akibatnya “ada keterputusan interpretasi”, sehingga akhirnya stagnan. Keterputusan “interpretasi” sejarah tadi jika ditarik benang merah pada praktek-praktek konspirasi menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Misalnya, ketika mencoba melakukan “interpretasi” terhadap temuan Candi JIWA, karena referensi pengetahuan yang terbentuk dalam ruang epsitemologi pra sejarah dan sejarah mulai tahun 5000 SM, maka akan sulit mengambil kongklusi jika batuan di situ (misalnya) lebih dari 10.000 SM. Pembentukan ruang epsitemologi pra sejarah dan sejarah tadi, adalah praktek konspirasi yang dibangun secara tidak sadar menjadi sebuah kebenaran yang establish, yang pakem.
Pemanfaatan Ancient Teknologi
Penyingkapan yang dilakukan oleh Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang ini “datang” dari berbagai lintas ilmu, mulai dari arkeologi, geologi astronomi, budaya sampai kearifan lokal. Penulis melihat penelitian ini juga berhasil membuktikan sinergitas yang akhirnya menghasilkan riset terpadu kelas dunia. Tim ini bukan saja memberikan sumbangsih kepada dunia, mengenai satu sejarah baru, artefak baru, atau bukti baru tentang peradaban dunia yang begitu hebat dan tua, tapi tim ini juga memberikan sejarah baru untuk Indonesia.
Ada satu hal yang sangat penting dalam pengungkapan situs-situs tersebut, baik di Indonesia maupun di dunia, adalah sulitnya mengambil “pelajaran” atau “ilmu” dari situs-situs yang sudah mengalami penelitian. Ruang ini seakan-akan dipendat yang akhirnya hanya dijadikan “tontonan”, “kebanggan”, atau maksimal menjadi “tempat pariwisata” yang tersirat menjelaskan kedigdayaan dan kemodernan masa lalu. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi, karena jika demikian, tidak ada bedanya dengan penemuan Piramid Saqoro di Mesir atau Machu Pichu di Amerika Latin yang hanya dijadikan sebagai “kebanggan” dan “tontonan”. 
Penemuan Gn. Padang Cianjur ini berbeda dengan kasus-kasus piramida yang ditemukan di Mesir dan di Amerika Latin, karena seperti yang dikatakan penulis tadi, mungkin mereka mengalami kesulitan “interpretasi” dalam memetakan sejarah piramidanya sendiri, sehingga terjadi “kesalahan” interpretasi yang akhirnya kesimpulannya jauh dari fakta yang sebenarnya.
Bangsa Indonesia harus mampu keluar dari “kungkungan” epsitemologi pengetahuan yang selama ini membentuk stagnasi ilmu pengetahuan sendiri. Jika memang ada asumsi atau bahkan keyakinan menganggap jaman dulu itu hebat, modern, dan begitu canggih, tentu penelitian Gn. Padang ini akhirnya tidak berhenti sampai “tontonan” atau “kebanggan” saja. Justru pesan-pesan yang ada di situs tersebut (sekarang atau ke depan) harus terus dikaji dan dipraktekan bagi kemaslahatan masyarakat.
Alhasil, dari tulisan di atas, penulis sebenarnya hanya mengingatkan bahwa ternyata secara tidak sadar, penemuan situs Gn Padang Cianjur ini adalah fakta Bangsa Indonesia mencoba “melawan” dan “keluar” dari konspirasi pengetahuan yang selama ini mengungkung ruang gerak pemikiran. Mudah-mudahan dengan terungkapnya Gn. Padang ini dapat mengungkap kesadaran dan semangat untuk membangun masyarakat Nusantara dan dunia yang adil dan sejahtera.