Tampilkan postingan dengan label religius. Tampilkan semua postingan

DEMITOLOGISASI IBRAHIM = SISTEM MONOTHEISME


"Dan sebagian dr tanda2 kekuasaaNnya adlh malam, siang, matahari n bulan
Jgnlah kamu menyembah matahari n jgn pula kpd bulan tetapi brsujudlah kpd Allah yg menciptakannya n hny kpdNya saja kamu menyembah" QS. 41:37
ayat ini menceritakan peringatan Nabi Ibrahim As kpd kaumnya bangsa Babilonia yg sgt maju tetapi menyembah benda2 langit spt matahari, bulan n planet2; mercurius, venus, mars, jupiter n saturnus
mrk menciptakan hari yg tujuh utk penyembahan kpd tuhan2 mrk benda2 langit tsb
7 hari yg qta kenal skrg adlh warisan dr bangsa Babilonia yg musyrik itu
ajaran ini turun temurun diikuti bangsa2 besar dikemudian hari spt macedonia, yunani, persia romawi lalu menyebar ke eropa bbrp buktinya bs qta liat dr terjemahanx bhs di eropa, semisal :
in english
SUNDAY (hari matahari) utk minggu
MONDAY (hari bulan) utk senin
SATURDAY (hari saturnus) utk sabtu
in french
MARSDAY (hari mars) utk selasa
MARCURIDAY (hari mercurius) utk rabu
ZUDAY (hari jupiter) utk kamis
VANCERDAY (hari venus) utk jumat
kemudian oleh Ibrahim konsep hari yg tujuh ini hny dijadikan penghitungan waktu saja tdkada ada lg acr ritual penyembahan kpd benda2 langit yg dituhankan tsb
konsep 7 hari ini kemudian diberikan nama2 angka saja 1,2,3,4, 5 & 7
dikemudian hari oleh bangsa arab disbt
AHAD
ITSNAYN
TSULASA
ARBA' A
KHAMIS
JUM' AH (hari shalat brsama)
SABT (in ibrani sabaat = hari ketujuh) in sansekrit SAPTA, in english seven
ini sdkit sejarahx prjuangan Nabi Ibrahim scra sistematis mendemitologisasikan paham kemusyrikan pd masa itu dgn ajaran tauhid yaitu bhw pendekatan ibadah kpd Tuhan itu melalui prbwtn amal saleh bukan ritual2 kebendaan (materialisme) kekuatan magis spt sesajen2 yg beranekaragam itu
sedangkan monotheisme Ibrahim saat itu bhw Tuhan dipahami sbg sang Pencipta segalanya serta Tuhan sbg wujud yg menghendaki spy makhlukNya manusia sbg ciptaanNya yg plg sempurna utk brbwt baik kpd sesamanya n tdk mempersekutukanNya QS. 18:110
maha benar Allah dgn sgala firmanNya....

Ghuzilla Humeid Logika Tanda - tanda Kiamat



Kiamat artinya ngadek. Berdiri. Jenggelek dst. Siapa dan apa yang berdiri ? Carilah guru yang mengerti. Inilah tanda-tanda hari kiamat.

1. Matahari Terbit dari Barat ( Niat )
Matahari terbit dari timur lalu tenggelam di barat, begitulah lazimnya. Tatkala ia terbit dari barat maka itulah tanda-tanda kiamat. Artinya, hari ( saat ) kiamat sudah "dekat". 
Matahari itu kiasan atau simbol ilmu pengetahuan yang menerangi dunia ini. Belahan bumi sebelah timur pusatnya ilmu bathin, belahan barat pusat ilmu kebendaan, materialistik, wujud dst. Doeloe kala, pusat sumber ilmu yang membuat terang benderang dunia asalnya dari belahan timur, tetapi sejak beberapa abad terakhir ini, kiblat ilmu pengetahuan berpindah ke barat yang cenderung membawa manusia berorientasi kepada hal wujud, materialistik dst. Gilirannya, "mata dunia" digiring untuk mengukur keberhasilan seseorang dari aspek fisik semata.
Makna hakikinya: sudah banyak aliran dalam Islam. Dan tiap-tiap aliran ingin benar sendiri, merasa paling hebat sendiri. Setiap aliran mengklaim dirinya sebagai golongan yang paling benar dan merasa paling dekat dengan Tuhan. 
- Dalam situasi apapun jangan mengubah niat, apalagi niatnya untuk beribadah. Jika niat berubah bisa timbul prasangka, lintasan pikiran, dsb yang sifatnya menduga-duga. Timbul keraguan goncangkan niat untuk berbuat kebaikan.
2. Tinggi-tinggian ( Jangan Bergoyang Niat )
Dalam dinamika masyarakat, pola yang nge-trend kini adalah "tinggi-tinggian". Tinggi-tinggian apa saja. Entah tinggi-tinggian ilmu, gedung, kekayaan, pangkat, gelar-gelar sosial dan akademis dst. Yang akan diurai pada analog ini yaitu tinggi-tinggian "celana". Celana itu sarana orang menutup aurat. Atau kaum hawa disebut rok. Apa bakal terjadi jika aurat yang wajib ditutup rapat, justru ditinggi-tinggikan ( dibuat tontonan ) layaknya barang dagangan ? 
Ketika "aib rumah tangga" menjadi konsumsi khalayak. Tatkala persoalan kawin cerai, selingkuh dst di kalangan tertentu merupakan trend yang diminati dan ditiru banyak orang. Ketika mereka kembali ( lari ) ke agama, ke ustad dst hanya sekedar pura-pura. Bunyi wirid yang afdol bagi mereka adalah masya allah - masya allah, sambil "sang kyai bingung" menggelengkan kepalanya melihat aurat santri-santrinya. Maknanya: umat Islam bergoncang, iman manusia mulai bergoyang. 
- Mengubah niat berbuat baik, akan mengakibatkan kerapuhan niat itu sendiri pada hal lainnya. Lintasan pikiran yang timbul membawa orang untuk berpikir untung - rugi, pahala - dosa dst. Sehingga niat dan rencana yang dikerjakan kurang optimal, sebab sudah muncul pamrih ( tidak ikhlas ).
- Dalam bisnis istilahnya berorientasi ke tujuan bukannya “proccess oriented”. Maka dalam pelaksanaan akan cenderung potong kompas, menghalalkan segala cara, pokok’e tujuan tercapai dst.
3. Salah Jadi Benar - Benar Jadi Salah ( Berpindah Rasa )
Fenomena "salah menjadi benar - benar menjadi salah" sering terlihat di masyarakat. Adagium hukum mengatakan: hukum itu seperti jaring laba-laba, hanya menjerat yang kecil-kecil tetapi yang besar justru merusaknya. 
Di tengah masyarakat berkembang stigma KUHP ( kasih uang habis perkara ) bila berurusan dengan penegak hukum. Artinya, 'benar dan kebenaran' cuma hak dan miliknya wong gede, orang berduit dan pejabat saja. Maknanya: zaman sudah bergeser - step by step Islam mulai berubah. 
- Dalam pepatah Minang dikatakan, "condong mato karena rancak, condong salero karena lamak" ( kecenderungan mata melihat yang cantik, kecenderungan selera merasakan yang enak ). Pepatah Jawa mengatakan "ono udan salah mongso". 
- Apa yang terjadi kalau 'rasa' sudah berpindah. Misalnya selera untuk merasakan yang cantik, dan mata cuma sekedar melihat yang enak. Itulah "rasa" yang salah sasaran. Ketika ia sudah berpindah, maka yang terjadi adalah guru memperkosa santrinya atau kakek "mengembat" cucunya dst. 
- Maka inilah titik awal kehancuran. Usaha jenis apapun bisa gulung tikar, sebab hal-hal yang enak dirasakan cuma dilihat-lihat, tetapi yang seharusnya untuk dilihat cenderung ingin dirasakan. Bisnis yang paling laris adalah prostitusi, narkoba, judi dsb. 
4. Tua Jadi Muda - Muda Jadi Tua ( Semangat / Hati )
Sanepo Jawa mengatakan:"sing enom ngemong sing tuo". Atau "ono kebo nyusu gudel". 
Orang tua kluyuran malam tetapi anaknya justru di rumah. Bapak ibunya berhias diri secara berlebihan justru anaknya amat sederhana. Bapak pecandu narkoba, anaknya justru menasehati dst. Maknanya: iman manusia telah pindah alamat, agama cuma simbol belaka. 
- Dalam keadaan apapun, ketika melaksanakan suatu niat berbuat kebaikkan dibutuhkan semangat. Apakah semangat, yaitu fighting spirit ( semangat bertanding ) menyala-nyala. Jangan cederai atau nodai niat / semangat dengan hal-hal kecil menggoda yang seakan-akan lebih baik, tetapi seringkali justru menjerumuskan. Maju terus pantang mundur.
5. Anak Kawin Bapak - Bapak Kawin Anak ( Tak Urus Hasil )
Ketika itulah, dunia sudah tidak berisi manusia lagi. Manusia sudah tidak punya moral. Tak ada iman. Ujudnya manusia, tetapi "isi tubuh" bukan manusia karena tak punya iman. Istilah lain “globalisme” yaitu campurnya nilai-nilai timur dan barat. 
Manusia berasal dari air menjadi panas karena dosa-dosa. Bumi semakin panas karena ulahnya. Langit terbelah ( ozon terkuak ). Bumi kehilangan gravitasi. Pecahlah bumi - meledak dunia. Ibarat meteor bumi meluncur kehilangan gravitasi. Seperti lempengan tembaga ia berhenti pada titik keseimbangan gravitasi. Ibaratnya manusia seperti anai-anai yang beterbangan karena tiadanya gravitasi bumi ( Al-Qur’an –Red ).
Dalam keadaan membara muncul air ( bersih ) segar mengalir. Lalu daratan paling jauh ( ujung ) yang tak terkena air disebut padang gersang. Itulah Neraka. 
Pada air bersih tadi muncul “bakteri” yang menjadikan air putih. Bakteri tak berguna menjadi asam ( ASAM AMINO-Red ), bisa disebut air kapur ( susu ) yang enak. Lalu tumbuhlah berbagai macam tanaman berbunga menghasilkan air ( madu ) yang menyegarkan, dan madu itu sendiri mengeluarkan bau ( kasturi ) yang tidak membuat mabuk. 
Inilah sebuah proses tentang sesuatu apapun, dimanapun bahkan sampai kapanpun, bahwa sesungguhnya surga itu ( di dunia disebut kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan dst ) bukanlah sekedar kun fayakun atau bim salabim, tetapi memerlukan proses yang panjang seperti halnya kisah Nabi Zubair ketika itu disuruh Allah melihat proses kebangkitan kudanya setelah mati dan jadi tulang belulang selama 100 tahun (Al-Qur’an-Red ).
- Lakukan proses dengan baik jangan melihat (berharap ) hasil. Ketika mengerjakan sesuatu berorientasi kepada tujuan, maka akan cenderung "potong kompas", atau menghalalkan segala cara dst. 
- Secara psikis, ketika seseorang berorientasi pada hasil, maka bila terdapat "kesenjangan" antara harapan dan kenyataan berpotensi memunculkan stress, frustrasi dsb. Karena itu, janganlah mengurus hasil dari apa yang dikerjakan, melainkan lakukan saja proses secara profesional karena sesungguhnya hasil itu milik-Nya.Intinya pasrah disertai niat ( usaha ).
- Pengertian antara kulit dan isi dari tanda-tanda diatas, terkadang tak nyambung bahkan seringkali justru bertolak belakang. Misalnya 'bapak kawin anak - anak kawin bapak' mengandung arti kebejatan moral yang teramat sangat di suatu zaman, tetapi dalam kajian filosofi, dimaknai sebagai kegiatan yang berorientasi kepada proses bukan goal oriented ( berorientasi tujuan ).

MIMPI HABIB MUNDZIR AL-MUSAWA DENGAN RASULULLAH SAW. MEMBAWA KABAR GEMBIRA UNTUK UMAT BAGINDA RASULULLAH SAW.



Saya (Habib Mundzir) pernah berkata kepada murid-murid Habib Taufiq Assegaff di Pasuruan: “Jangan diantara kalian merasa bahwa di dalam maulid itu ruhnya Nabi Muhammad Saw. tidak hadir. Kalau orang merasa ruh Nabi tidak hadir di dalam maulid, berarti dia tertutup dari cinta kepada Nabi.”

Lalu malamnya, hamba (Habib Mundzir) bertemu dengan Rasulullah Saw. dan berkata seraya menegur hamba (Habib Mundzir) seperti ini: 

“Jangan engkau katakan kepada tamu-tamuku itu ucapan-ucapan yang menyakiti perasaan mereka. Katakan ucapan yang lembut. Jangan engkau katakan sambil marah-marah di depan orang-orang yang hadir maulid, karena itu tamu-tamuku. Katakanlah pada mereka bahwa Muhammad mencintai mereka, katakan Muhammad rindu pada mereka, katakan Muhammad menyayangi mereka. Itu ucapan yang patut kau ucapkan di Maulid Nabi Muhammad.”

Sejak saat itu saya (Habib Munzir) selalu mengarah kepada jalan kelembutan di dalam menyampaikan tausiyah. Tidak berani lagi untuk menyampaikan kalimat-kalimat yang tajam kepada hadirin-hadirat, karena ditegur oleh Rasulullah Saw., beliau tidak menyukai itu. 

Rasul ingin orang-orang yang hadir di majelis maulid atau sholawat atau majelis ta’lim dikabarkan bahwa Muhammad mencintai mereka.

(Kutipan tausiyah al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa 06 Mei 2013 di masjid al-Munawwar Pancoran, Jaksel.)

Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi




Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala. Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

Sumber : muslim.or.id

PENULISAN KITAB MAULID NABI SAW. DARI MASA KE MASA


Dalam kitab Kasyf adz-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 Hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi Saw. serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari ...peringatan-peringatan Maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi Saw. kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 Hijriyah.

Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi Saw. oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi Saw. sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan Maulid Nabi Saw., sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabi’ul AwWal.

Imam an-Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan Maulid Nabi Saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari Maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.

Imam Taqiyuddin as-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Saw., bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi Saw., akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam ath-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap datang hari Maulid Nabi para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.

Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan Maulid Nabi Saw. ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, disamping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kemuliaan hari maulid Nabi Saw. dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah Saw.”

Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan Maulid Nabi Saw. yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 Hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari Maulid Nabi Saw. menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya (Dan mengenai hidangan yang disajikan dalam peringatan maulid, itu adalah soal yang tidak dilarang dan tidak diwajibkan, yakni mubah. Akan tetapi, karena menghormati dan menjamu tamu itu merupakan amal kebajikan, maka dapatlah dipandang sebagai sesuatu yang mustahab, yakni baik dan afdhal).

Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Saw. dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau Saw.

Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab Maulid Nabi Saw., diantaranya Sayid Muhammad Shalih as-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan Maulid Nabi Saw. sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid ad-Diba’i, al-‘Azab, Syaraf al-Anam, Simthud Durar, adh-Dhiya’ al-Lami’ dan Maulid al-Burdah. Disamping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya.

Diantara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan Maulid Nabi Saw.:
1. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Abdur Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597 H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.
2. Al-Imam al-Muhaddits al-Musnid al-Hafidz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir.
3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri asy-Syafi’i (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif.
4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddits al-Hafidz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibn Katsir menyusun kitab Maulid Nabi Saw. yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih as-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA, Mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddits Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.
5. Al-Imam al-Kabir asy-Syahir, Hafidz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhadditsin al-A’lam, al-Hafidz Abdur Rahim ibn Husain bin Abdur Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafidz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.
6. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi ad–Dimasyqi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan al-Hafidz Ibn Nasiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya: Jami’ al-Atsar Fi Maulid an-Nabiy al-Mukhtar (3 Jilid), al-Lafdzu ar-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq, Maurid as-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.
7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafizd asy-Syahir Muhammad bin Abdur Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafidz as-Sakhawi (831-902 H) yang mengarang kitab ad-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid an-Nabawi.
8. Al-Allamah al-Faqih as-Sayyid Ali Zainal Abidin as-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.
9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan Ibn ad-Diba’i, beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H dan meninggal dunia pada hari Jum’at, 12 Rajab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia Maulid ad-Daiba’i. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan haditsnya oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam an-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama an-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Asy-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.”
11. Al-’Allamah al-Faqih asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad as-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977 H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.
12. Al-’Allamah al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih asy-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014 H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid ar-Rawi Fi al-Maulidi an-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Madzhab Syafi’i di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid an-Nabiy al-Azhar.
14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan ad-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri (wafat tahun 1277 H)
15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid asy-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345 H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.
16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani (wafat tahun 1350 H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.
17. Al-Quthb al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi mengarang Kitab Maulid yang diberi judul Simthu ad-Durar atau tenar juga disebut sebagai Maulid al-Habsyi.
18. Al-Musnid al-Hafidz al-‘Alim al-‘Allamah ad-Da’i Ilallah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA menyusun Kitab Maulid yang diberi judul adh-Dhiya’ al-Lami’ Bi Dzikr Maulid an-Nabiy asy-Syafi’ yang seringkali kita dengar di Majelis-majelis Taklim besar di Indonesia khususnya.

Dalam kitab Kasyf adz-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 Hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi Saw. serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari ...peringatan-peringatan Maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi Saw. kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 Hijriyah.

Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi Saw. oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi Saw. sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan Maulid Nabi Saw., sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabi’ul AwWal.

Imam an-Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan Maulid Nabi Saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari Maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.

Imam Taqiyuddin as-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Saw., bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi Saw., akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam ath-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap datang hari Maulid Nabi para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.

Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan Maulid Nabi Saw. ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, disamping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kemuliaan hari maulid Nabi Saw. dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah Saw.”

Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan Maulid Nabi Saw. yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 Hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari Maulid Nabi Saw. menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya (Dan mengenai hidangan yang disajikan dalam peringatan maulid, itu adalah soal yang tidak dilarang dan tidak diwajibkan, yakni mubah. Akan tetapi, karena menghormati dan menjamu tamu itu merupakan amal kebajikan, maka dapatlah dipandang sebagai sesuatu yang mustahab, yakni baik dan afdhal).

Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Saw. dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau Saw.

Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab Maulid Nabi Saw., diantaranya Sayid Muhammad Shalih as-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan Maulid Nabi Saw. sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid ad-Diba’i, al-‘Azab, Syaraf al-Anam, Simthud Durar, adh-Dhiya’ al-Lami’ dan Maulid al-Burdah. Disamping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya.

Diantara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan Maulid Nabi Saw.:
1. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Abdur Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597 H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.
2. Al-Imam al-Muhaddits al-Musnid al-Hafidz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir.
3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri asy-Syafi’i (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif.
4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddits al-Hafidz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibn Katsir menyusun kitab Maulid Nabi Saw. yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih as-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA, Mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddits Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.
5. Al-Imam al-Kabir asy-Syahir, Hafidz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhadditsin al-A’lam, al-Hafidz Abdur Rahim ibn Husain bin Abdur Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafidz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.
6. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi ad–Dimasyqi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan al-Hafidz Ibn Nasiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya: Jami’ al-Atsar Fi Maulid an-Nabiy al-Mukhtar (3 Jilid), al-Lafdzu ar-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq, Maurid as-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.
7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafizd asy-Syahir Muhammad bin Abdur Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafidz as-Sakhawi (831-902 H) yang mengarang kitab ad-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid an-Nabawi.
8. Al-Allamah al-Faqih as-Sayyid Ali Zainal Abidin as-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.
9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan Ibn ad-Diba’i, beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H dan meninggal dunia pada hari Jum’at, 12 Rajab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia Maulid ad-Daiba’i. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan haditsnya oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam an-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama an-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Asy-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.”
11. Al-’Allamah al-Faqih asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad as-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977 H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.
12. Al-’Allamah al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih asy-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014 H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid ar-Rawi Fi al-Maulidi an-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Madzhab Syafi’i di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid an-Nabiy al-Azhar.
14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan ad-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri (wafat tahun 1277 H)
15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid asy-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345 H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.
16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani (wafat tahun 1350 H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.
17. Al-Quthb al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi mengarang Kitab Maulid yang diberi judul Simthu ad-Durar atau tenar juga disebut sebagai Maulid al-Habsyi.
18. Al-Musnid al-Hafidz al-‘Alim al-‘Allamah ad-Da’i Ilallah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA menyusun Kitab Maulid yang diberi judul adh-Dhiya’ al-Lami’ Bi Dzikr Maulid an-Nabiy asy-Syafi’ yang seringkali kita dengar di Majelis-majelis Taklim besar di Indonesia khususnya.

Menghitung Besaran Kecepatan Cahaya (C) Berdasar QS. Sajdah: 5; Subhanallah....


oleh David Muhammad (Catatan) pada 3 Juni 2012 pukul 11:51
Maha Suci Allah yang telah berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Al-Fushilat: 53)

Mengetahui besaran Kecepatan Cahaya (C) adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari Al Quran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Al Quran. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of the Speed C , Mansour Hassab Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat Al Quran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem Siderial.

Ada beberapa ayat Al Quran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab Elnaby:

Pertama,
“Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat bagi perjalanan Bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ” (QS. Yunus: 5).

Kedua,
”Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing beredar dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya’: 33).

Ketiga,
“Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Sajdah: 5).

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jarak yang dicapai “urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dalam bukunya, Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai “sesuatu yang berkecepatan cahaya”.

**

Hitungan Kecepatan Cahaya Berdasarkan Al-Quran (Surat Sajdah: 5)

Dari ayat di atas dan menggunakan rumus sederhana tentang kecepatan, kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:

C x t = 12.000 x L ……………(1)

C = kecepatan “sang urusan” atau kecepatan cahaya

t = kala rotasi Bumi = 24 x 3600 detik = 86164,0906 detik

L = jarak yang ditempuh Bulan dalam satu edar = V x T

Untuk menghitung L, kita perlu menghitung kecepatan Bulan. Jika kecepatan Bulan kita notasikan dengan V, maka kita peroleh persamaan:

V = (2 x phi x R) / T

R = jari-jari lintasan Bulan terhadap Bumi = 324264 km

T = kala Revolusi Bulan = 655,71986 jam, sehingga diperoleh

V = 3682,07 km / jam (sama dengan hasil yang diperoleh NASA)

Meski demikian, Einstein mengusulkan agar faktor gravitasi Matahari dieliminir terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang lebih eksak.

Menurut Einstein, gravitasi matahari membuat Bumi berputar sebesar:

a = Tm / Te x 360°

Tm = Kala edar Bulan = 27,321661 hari

Te = Kala edar Bumi = 365,25636 hari, didapat a= 26,92848°

Besarnya putaran ini harus dieliminasi sehingga didapat kecepatan eksak Bulan adalah

Ve= V cos a.

Jadi, L = ve x T, di mana T kala edar Bulan = 27,321661 hari = 655,71986 jam

Sehingga L = 3682,07 x cos 26,92848° x 655,71986 = 2152612,336257 km

Dari persamaan (1) kita mendapatkan bahwa C x t = 12.000 x L

Jadi, diperoleh C = 12.000 x 2152612,336257 km / 86164,0906 detik

C = 299.792,4998 km /detik


Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya :

Hasil hitung Dr. Mansour Hassab Elnaby, C = 299.792,4998 km/detik

Hasil hitung US National Bureau of Standard, C = 299.792,4601 km/ detik

Hasil hitung British National Physical Labs, C = 299.792,4598 km/detik

Hasil hitung General Conf on Measures, C = 299.792,458 km/detik


Subhanallahu Wallahu Akbar!

Lepas dari benar tidaknya interpretasi yang dilakukan oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby, usaha demikian menunjukkan betapa kitab suci Al Quran memiliki tantangan bagi para ilmuwan untuk lebih kreatif dan tajam dalam mengungkap fenomena-fenomena alam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar”. (QS. Al-Haqqah: 51-52)

Wallahu’alam bishshawwab
Billahi taufiq wal Hidayah

Semoga Bermanfaat

Note:
Catatan ini pertama kali di tulis oleh: Wildaiman, Alumni Matematika ITB, Guru Matematika Pondok Pesantren Al Masudiyah-Cigondewah Kab. Bandung,
.

Berpikir Menurut Al-Qur'an, Hadis & Para 'Ulama

Berpikir adalah fungsi akal, dengan berpikir, manusia memanfaatkan akalnya untuk memahami hakikat segala sesuatu. Hakikat segala sesuatu adalah kebenaran, dan kebenaran yang sejati adalah Tuhan. Dengan berpikir, manusia mengenal Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka berpikir adalah awal perjalanan ibadah, yang tanpanya ibadah menjadi tak bernilai. Abu Muhammad Hasan az Zaki al Askari berkata, “Bukanlah ibadah itu banyaknya puasa dan shalat, akan tetapi ibadah yang sesunggunya adalah selalu berpikir akan ciptaan Allah Swt.”



Dalam Al Qur’an Majid surat Ali Imran: 190-191, Allah Swt berfirman:



Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka lindungi kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191.



Begitupun dalam Al Jaatsiyah: 13 dan surat An Nahl: 10-11, Al Qur’an Suci menyebutkan;



Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Al Jaatsiyah [45]: 13)



Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untukmu, sebagian menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu gembalakan ternakmu. Dia menumbuhkanmu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S. An Nahl [16]: 10-11)



Dalam Firman Allah Swt di atas, Al Qur’an Suci menyebutkan bahwa segala yang Ia ciptakan adalah bukti kekuasaan-Nya, sebagai perantara manusia untuk mengenal-Nya. Hanya dengan berpikir tentang ciptaan-Nya, maka manusia dapat mengenal dan ber-taqarrub kepada-Nya.



Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tapi dia cenderung kepada dunia, menurutkan hasratnya yang rendah. Perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia ulurkan lidahnya (juga). Demikian perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakan kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (Q.S. Al A’raaf [7]: 176)

Tentang keutamaan berpikir, Rasulullah saww bersabda, “Berpikir sesaat lebih baik dari ibadah setahun.”



Abu Dzar, sahabat setia Rasulullah saww menyampaikan hadits Rasulullah saww yang berbunyi, “Ada 3 waktu untuk orang yang berakal; Pertama, untuk bermunajat kepada Tuhannya. Kedua, untuk menghisab dirinya. Ketiga, untuk memikirkan ciptaan Allah Swt.”

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah saww bersabda kepada Abu Dzar; “Wahai Abu Dzar, shalat 2 rakaat yang dilakukan dengan perenungan/ pemikiran (sehingga menghasilkan kehadiran hati) adalah lebih baik dari shalat malam (qiyaamul lail) yang hatinya lalai.”



Tentang pentingnya berpikir, Sayyidina Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Berpikir yang engkau lakukan akan memberikan pemahaman kepadamu dan memberikan pelajaran terhadapmu.” Dalam kesempatan lain, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpikir sebelum berbuat, akan selalu benar.” Begitu pentingnya berpikir bagi manusia, karena ibadah meniscayakan didahulukan dengan berpikir, terutama berpikir tentang ciptaan Allah Swt.



Sayyidina Ali berkata, “Tidak ada ibadah yang lebih utama seperti berpikir akan ciptaan Allah Swt.”



Beliau pun berkata, “Pemikiran adalah cermin yang bersih.” Bagaikan sebuah cermin yang bersih, maka segala sesuatu yang ada di hadapannya akan tampak dengan jelas. Begitu pula pemikiran yang bersih, segala sesuatu yang dihasilkannya pasti adalah hal yang bersih yang bersumber pada sesuatu yang bersih pula.

Berpikir merupakan hal yang membedakan orang mukmin dengan orang dungu. Tentang hal ini Sayyidina Ali berkata, “Orang mukmin berpikir dahulu baru berbicara, sementara orang yang dungu berbicara dahulu baru berpikir.” Seorang yang mukmin pasti menggunakan akalnya sehingga tak mungkin ia berbicara tanpa terlebih dahulu. Berbeda dengan orang yang dungu yang tak menggunakan akalnya. Karena tidak didahulukan dengan berpikir, ia tak memikirkan dampak dari ucapannya.



Cucu Rasulullah saww, Musa al Kazhim (salam Allah Swt atasnya) berkata, “Setiap sesuatu pasti memiliki petunjuk, dan petunjuk bagi orang yang berakal adalah berpikir. Petunjuk bagi orang yang berpikir adalah diam.” Diamnya seseorang yang berakal adalah bukti bahwa ia sedang berpikir, berpikir itu yang akan memberikan petunjuk baginya.



Ja’far ash Shadiq, guru dari empat Imam Mazhab mengatakan, “Dari Kakekku Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, ia berkata, ‘Sesungguhnya berpikir itu menyeru pada kebaikan dan beramal dengannya.’”



Dalam wasiat beliau kepada putranya Al Husain, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Anakku, berpikir mewariskan cahaya, sementara lalai mewariskan kegelapan.”



تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ

(رواه أبو نعيم عن ابن عباس)



Artinya “Berfikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas). Hadits ini dihasankan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul Jami’sh Shaghir (2976) dan Silsilatu Ahadits Ash-Shahihah (1788)



[Dari berbagai sumber]

NASEHAT RASULULLAH SAW KEPADA ALI BIN ABI THALIB



Ya Ali,
Tidak ada Kefakiran yang lebih hebat dari pada kebodohan,
tidak ada harta yang lebih berharga dari pada akal,
tak ada kesepian yang lebih sunyi dari pada ujub (kagum pada diri sendiri),
tak ada kekuatan yang lebih kuat dari pada musyawarah,
tak ada iman yang lebih hebat dari pada keyakinan,
tak ada wara’ yang lebih baik dari pada menahan diri,
tidak ada keindahan selain budi pekerti
dan tidak ada ibadah yang melebihi tafakur.

Ya Ali,
Bahwa segala sesuatu itu ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah ia,
penyakit budi pekerti adalah memuji diri,
penyakit berani adalah agresif,
penyakit pemurah adalah menyebut-nyebut pemberian,
penyakit cantik adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah bangga,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menonjolkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit royal adalah berlebih-lebihan
dan penyakit agama adalah hawa nafsu.

Ya Ali,
Apabila engkau disanjung orang dihadapan mu,
maka bacalah kalimat ini:
Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari pada apa yang mereka katakan.
Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui,
dan janganlah aku di siksa tentang apa-apa yang mereka telah ucapkan.

[Sumber: anisafadilah.wordpress.com]

PENGERTIAN SHALAWAT




Bentuk tunggal dari kata shalawat adalah shalat. Shalawat artinya shalat-shalat. Shalawat mempunyai makna sama dengan shalat hanya kuantitas yang berbeda. Tetapi ada hal yang harus diperhatikan, bahwa shalat yang ditujukan kepada sesuatu / seseorang dengan kata 'Alaa (atas, terhadap) artinya bukan shalat secara ritual tetapi lebih berkaitan kepada aktual. Shalla 'alaa artinya adalah memberi restu dan dukungan secara moral dengan membacakan ayat-ayat Allah terhadap beberapa kata shalaa berhadapan dengan kata 'alaa di dalam Al Qur'an:



Mereka itulah atas ('alaa) mereka restu dan dukungan dari Rabb mereka dan rahmat-Nya. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. 2 ayat 157)



Dan janganlah engkau memberi restu dan dukungan atas ('alaa) seorang dari mereka yang mati selamanya, dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka kafir dengan Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati sedang mereka fasik. (QS. 9 ayat 84)



Ambillah dari harta-harta mereka sebagai shadaqah untuk membersihkan mereka dan mensucikan mereka dengannya dan berikan restu dan dukungan atas ('alaa) mereka. Sesungguhnya restu dan dukungan engkau ketenangan untuk mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 9 ayat 103)



Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberikan restu dan dukungan atas ('alaa) Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berikanlah restu dan dukungan atas ('alaa) nya dan islamlah kamu dengan islam yang sebenarnya (QS. 33 ayat 56)



Dia (Allah) yang memberi restu dan dukungan atas ('alaa) kamu dan para malaikat-Nya untuk mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia sangat penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS. 33 ayat 43)



Al Qur'an adalah bagian shalat; shalat dalam arti kata hablumminallah atau zikrullah. Tetapi tidak cukup hanya membaca Al Qur'an lalu kita mengatakan sudah melaksanakan shalat, karena Al Qur'an hanya semacam surat izin untuk melaksanakan shalat. Di dalam Al Qur'an dijelaskan bagaimana cara kita melaksanakan shalat baik secara ritual maupun aktual. Banyak hal yang dijelaskan oleh Al Qur'an sebagai rambu-rambu dan kelengkapan dari kedua macam shalat tersebut. Karena Al Qur'an adalah perwujudan shalat-shalat tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Al Qur'an adalah shalawat (shalat-shalat) yang berarti 'restu dan dukungan'. Dengan memiliki, mempelajari, dan memahami isi Al Qur'an dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalamnya, maka restu dan dukungan akan kita dapatkan; baik itu dari Allah maupun dari Rasul.





Beberapa hal yang harus diperintahkan untuk orang yang hendak mendirikan shalat:



1. Berpegang teguh dengan Kitab Allah dan mendirikan shalat (QS. 7 ayat 170)

2. Tela'ahlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab dan dirikanlah shalat (QS. 29 ayat 45)

3. Membaca Al Qur'an dan mendirikan shalat (QS. 35 ayat 29)



Apabila kita telah memiliki, membaca, mempelajari, memahami dan berpegang teguh dengan Al Qur'an, maka izin baru bisa kita dapatkan untuk mendirikan shalat. Tanpa izin itu, shalat kita hanya berputar-putar di sekeliling kita dan tidak dapat menuju tempat terjauh lagi. Dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi tidak bisa menjadi mi'raj menuju kepada Allah.





Bersabar dalam menerima ujian dan selalu melakukan kebaikan-kebaikan di antaranya infaq, shadaqah, zakat dan lain-lain, baik itu dalam keadaan lapang maupun sempit, maka Allah dan Rasul akan memberikan restu dan dukungan (shalawat) kepadanya.



SHALAWAT (RESTU DAN DUKUNGAN) DARI ALLAH BUAT HAMBANYA.





Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah kamu dengan (jalan) sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang terbunuh di jalan Allah “Mati”. Sebenarnya mereka hidup dan akan tetapi kamu tidak sadar.

Dan benar-benar Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, diri, dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang sabar.

Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya.”

Mereka itulah atas ('alaa) mereka restu dan dukungan dari Rabb mereka dan rahmat-Nya. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. 2 ayat 153-156)





Ayat pertama memerintahkan kita untuk sabar dan (mencari / mendirikan) shalat. Shalat pertama adalah shalat yang kita kerjakan baik secara ritual maupun aktual dan shalat yang kedua adalah restu dan dukungan dari Allah. tapi sebelum itu kita dapatkan, maka langkah pertama adalah sabar.





Terbunuh pada ayat kedua, dalam arti kata luas. Banyak sekali orang-orang yang ekonominya sempit serta dimusuhi dan dikucilkan oleh orang lain padahal dia adalah orang yang baik dan taat beribadah kepada Allah. Apakah dia disiksa oleh Allah? Tidak. Justeru dia adalah orang yang hidup jiwanya dengan nur Allah. Karena yang menimpanya adalah ujian. Ujian dari Allah disebutkan pada ayat ketiga dan sabar adalah respon yang harus kita tunjukkan terhadap semua ujian Allah kalau kita ingin mendapat pertolongan Allah seperti yang disebutkan pada ayat pertama. (sabar dan shalat) di antaranya adalah menyadari bahwa pada hakekatnya apa yang menjadi milik kita adalah kepunyaan Allah dan akan kembali kepada Allah. Jadi kita harus ikhlas melakukan kebaikan-kebaikan (kelengkapan shalat) dan sabar melaksanakannya.





Pada ayat terakhir baru kita bisa mendapatkan semua shalat (shalawat). Artinya, Allah akan memberikan restu dan dukungan terhadap apa yang kita kerjakan bahkan memberikan rahmat karena kita sudah mengikuti petunjuk yang Allah berikan di dalam Al Quran (surat izin-Nya).



SHALAWAT (RESTU DAN DUKUNGAN) DARI RASUL BUAT UMATNYA.





Dan di antara Orang Arab itu ada yang beriman dengan Allah dan hari akhir dan mereka menjadikan apa yang dia infakkan sebagai pendekatan di sisi Allah dan sebagai shalawat rasul. Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah satu pendekatan untuk mereka (kepada Allah). Kelak Dia akan memasukkan mereka dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 9 ayat 99)



Pada ayat tersebut mengatakan bahwa infak adalah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai bukti beriman dengan-Nya dan hari akhir. Dan infak itu adalah jalan untuk mendapatkan semua shalat (shalawat) Rasul. Artinya, Rasul akan memberikan restu dan dukungan terhadap apa yang kita kerjakan dan Allah akan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.



SHALAWAT (RESTU DAN DUKUNGAN) ALLAH DAN MALAIKAT-NYA BUAT NABI DAN RASUL.





Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberikan restu dan dukungan atas ('alaa) Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berikanlah restu dan dukungan atas ('alaa) nya dan islamlah engkau dengan islam yang sebenarnya (QS. 33 ayat 56)



Dia (Allah) yang memberi restu dan dukungan atas ('alaa) kamu dan para malaikat-Nya untuk mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia sangat penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS. 33 ayat 43)



Dia yang telah menurunkan atas abdi-Nya ayat-ayat yang terang untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadapmu. (QS. 57 ayat 9)





Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad. Arti bershalawat di sini bukan membacakan doa-doa seperti yang kita anggap sebagai shalawat kita kepada Nabi, melainkan Allah dan para malaikat memberikan restu dan dukungan terhadap Nabi dengan ayat-ayat Al Qur'an yang di dalamnya ada petunjuk dan penerangan buat beliau, janji dari Allah dan ancaman bagi yang mengingkarinya. Hal itu dijelaskan pada ayat kedua, bahwa shalawat itu bertujuan untuk mengeluarkan dari gelap kepada terang kemudian wujud shalawatnya dijelaskan pada ayat ketiga yaitu ayat-ayat Al Qur'an. Rahmat (kasih sayang) Allah adalah menjadi dasar, mengapa Allah dan malaikat bershalawat kepada beliau dan juga kepada seluruh manusia. Penjelasan tentang itu disebutkan pada akhir dua ayat terakhir.





Jadi sebenarnya shalawat itu adalah isi dari Kitab yang Allah turunkan, dibawa turun oleh malaikat dan disampaikan oleh Rasulullah. Itulah wujud dari shalawat yang sebenarnya. Restu dan dukungan dari Allah, malaikat, serta nabi dan rasul kepada kita semua.





SHALAWAT (RESTU DAN DUKUNGAN) ORANG-ORANG YANG BERIMAN TERHADAP NABI DAN RASUL.



Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberikan restu dan dukungan atas ('alaa) Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berikanlah restu dan dukungan atas ('alaa) nya dan islamlah engkau dengan islam yang sebenarnya (QS. 33 ayat 56)



Shalawat yang kita tujukan buat Nabi dan Rasulullah Muhammad, bukanlah hanya sekedar shalawat seperti yang beredar dan menjadi doa dan bacaan tradisi buatan para penulis-penulis dahulu.

Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa masih saja orang-orang muslim masih percaya bahwa bacaan-bacaan shalawat itu mampu merubah nasib dan menyelamatkan dari siksa Allah dunia dan akhirat padahal sudah jelas Al Qur'an dan hadits yang mereka percayai dan imani selama ini menentangnya? Apabila ingin washilah, bukan kepada Nabi Muhammad, tetapi kepada Allah langsung dengan cara bertaqwa dan bersungguh-sungguh atasnya (QS. 5 ayat 35) :



"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."





Shalawat kepada Nabi sudah dijawab pada akhir ayat (QS. 33 ayat 56) yaitu kita mematuhi segala perintahnya yang dia sampaikan dari Al Qur'an dengan ikhlas tanpa sempit dada, meskipun bertentangan dengan tradisi yang selama ini kita yakini sebagai sesuatu yang ajaran Islam (QS. 4 ayat 65, 33 ayat 36, 7 ayat 2-3). Kembali kepada Al Qur'an satu-satunya membuka pemahaman kita kepada cakrawala pengetahuan yang lebih luas ke depan. Jangan menjadi seorang muslim yang cuma berputar-putar di "dalam tempurung" . Kitab Hadits karangan 'ulama-'ulama dahulu jangan dibuang, karena itu adalah karya pemikir-pemikir dahulu dan bisa dijadikan sumber bacaan untuk menambah wawasan dalam kehidupan sosial seperti halnya kita membaca buku-buku filsafatnya Aristoteles yang kemudian diikuti oleh Ibn Rusyd, psikologinya Sigmund Freud, fisikanya Albert Einstein, matematikanya Euclid, Ekonominya Adam Smith dan lain-lain atau mendongengkan anak-anak seperti The Adventures of Phinocchio (Carlo colloci), The Adventures of Tom Sawyer (Mark Twain), Frankenstein (Mary Wollstonecraft shelley), dan lain-lain. Kenapa saya memberi contoh cerita buku berbahasa Inggris? Bukankah kita suka membaca kitab dengan bahasa lain yang sebenarnya kita tidak mengerti artinya seperti Bahasa Arab selain Al Qur'an?



Di dalam masalah keduniawian, tidak ada yang dilarang untuk mempelajari sesuatu yang baik dan mendukung kehidupannya. Tetapi di dalam masalah akhirat, hanya Al Qur'an yang harus dipelajari, dipegang teguh, diimani dan diyakini, karena Al Qur'an yang akan menjadi muhaimin (penguji) buat kebenarannya. Apabila itu benar sesuai dengan tuntunan Al Qur'an, maka layak diterima. Seandainya tidak sesuai dengan tuntunan Al Qur'an, maka tidak layak diterima.





Tidak ada satupun yang berhak menjadi sekutu dalam menjalankan hukum-hukum-Nya (QS. 18 ayat 26) bahkan menolaknya (QS. 13 ayat 41) atau menggantikan posisi Al Qur'an sehingga bisa menghapus hukum didalamnya (QS. 10 ayat 15).





Al Qur'an hanya bisa dijelaskan oleh Kitab Al Qur'an itu sendiri (QS. 10 ayat 37) dan hanya bisa dihapus dan digantikan oleh Al Qur'an itu sendiri (QS. 2 ayat 106). Mengkaji alam semesta termasuk diri kita adalah untuk membuktikan kebenarannya.



Marilah kita kembali kepada Al Qur'an untuk mengkaji, mengimani, dan mengamalkan isinya.





Wallahu'alam bishowab





[Dari sahabat: Abi Fahd]

*PERINTAH MENUTUP AURAT BAGI WANITA DLM AL-QURAN [ RENUNGAN UNTUK MUSLIMAH ]*



Bismillaahirrahmaanirrahiim

1. (QS 24:31:AN NUR): "Katakanlah kpd wanita yg beriman:
"Hendaklah mrk menahan pandanganny,& kemaluannya, & janganlah mrk menampakkn perhiasannya,kecuali yg (biasa) nampak drpdnya. Dan hendaklah mrk menutupkan kain kudung kedadanya,& janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kpd suami mrk,atau ayah mrk, atau ayah suami mrk, atau putera2 mrk,atau putera2 suami mrk, atau saudara2 laki-2 mrk,atau putera2 saudara lelaki mrk,atau putera2 saudara perempuan mrk,atau wanita2 islam,atau budak2 yg mrk miliki,atau pelayan2 laki2 yg tdk mempunyai keinginan (terhdp wanita) atau anak2 yg belum mengerti ttg aurat wanita. Dan janganlah mrk memukulkan kakinyu agar diketahui perhiasan yg mrk sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kpd Allah,hai org2 yg beriman spy kamu beruntung.

2. (QS.Al Ahzab:59): “Hai Nabi, katakanlah kpd isteri-isterimu, anak2 perempuanmu, & isteri2 org mukmin, HENDAKLAH MRK MENJULURKAN JILBABNYA KESELURUH TUBUH MRK,yg dmk itu sPY mrk lbh mudah utk dikenal,krn itu mrk tdk diganggu.
Dan ALLAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

(QS,Al Ahzab:36): “dan tidaklah patut bagi laki2 yg beriman & perempuan yg beriman apabila Allah & Rosulnya tlh menetapkan sebuah ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yg lain) ttg urusan mrk & brg siapa yang mendurhakai Allah maka ia tlh sesat dg kesesatan yang nyata”

PAKAIAN UTK MENUTUP AURAT: "Hai anak Adam,sesungguhnya Kami telah menurunkan kpdmu pakaian utk menutup'auratmu & pakaian indah utkperhiasan. Dan pakaian takwa itulah yg paling baik. Yg dmk itu adalah sbgn dari tanda2 kekuasaan Allah, mudah2an mrk selalu ingat.” (QS.Al-A’raaf [7]:26)

 

 Akhlak Wanita Muslimah