Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Mayor Daan Mogot, Pahlawan Berumur 17 Tahun Yang Terlupakan


Mayor Elias Daan Mogot, 17 tahun, Mantan Direktur pertama Militer Akademi Tangerang (MAT)
JAKARTA, SACOM - Mungkin seluruh warga Jakarta ini pernah melewati Jalan Daan Mogot. Tapi tahukah Anda nama itu sesungguhnya diambil dari nama seorang pahlawan yang baru berusia 17 tahun?
Jalan Daan Mogot Jakarta Barat adalah jalan panjang yang mengkoneksikan antara Provinsi DKI Jakarta dengan Tangerang, Banten. Jalan ini memiliki sejarah yang unik dan berbau perjuangan kemerdekaan.
Diambil dari nama Elias Daniel Mogot, atau dikenal sebagai Daan Mogot, pemuda “kawanua” Manado.
Kalau Anda mengenal Irjen Gordon Mogot atau Kolonel Alex Kawilarang (Mantan Panglima Kodam Siliwangi), nah keduanya masih bertalian saudara dengan tokoh perjuangan kita ini.
Kisah Daan Mogot sesingkat umurnya. Namun meski singkat, tapi kisah hidupnya memiliki peranan yang sangat penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mulai bergabung dalam dunia ketentaraan di usia sangat belia yakni 14 tahun, atau tepatnya pada tahun 1942. Ia masuk PETA (Pembela Tanah Air), tentara binaan di era penjajahan Jepang. Tentu saja usianya tidak memenuhi kualifikasi syarat 18 tahun.
Tapi dikabarkan karena perawakannya besar dan memiliki sifat kedewasaan pihak Jepang percaya saja bahwa Daan Mogot sudah berusia 18 tahun.
Daan Mogot pernah berperang di Bali. Di situlah ia berkenalan dan akrab dengan Kemal Idris dan Zulkifli Lubis. Daan Mogot juga pernah dipercayakan sebagai instruktur PETA wilayah Bali dan Jakarta.
Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang pun keok dari Sekutu. Dua hari kemudian Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.
Tahun 1945 atau hanya dalam waktu dua tahun saja, pangkatn Daan Mogot sudah Mayor dan ditunjuk sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR, atau cikal-bakal TNI-red) Jakarta.
Dalam usia belia itu ia kemudian juga mendapatkan kepercayaan menjadi Direktur akademi militer awal-awal di Indonesia yang berkedudukan di Tangerang, Akademi Militer Tangerang (MAT) namanya.
Ide pendirian MAT memang salah satunya datang dari Daan Mogot. Gagasan tersebut diterima oleh pimpinan besar militer pusat Indonesia. Kemudian diangkatlah Daan Mogot menjadi Direktur MAT pertama pada tanggal 18 November 1945.
Sayangnya jabatannya itu adalah jabatannya yang tertinggi sekaligus terakhir dalam kisah karir militer anak muda belia tersebut. Pada tanggal 25 Januari 1946, ia dinyatakan gugur dalam pertempuran sengit di Hutan Lengkong Tangerang, Banten.
Begini kisahnya, pada tanggal 24 Januari 1946, Mayor Daan Mogot mendapatkan kabar kalau Belanda segera akan menuju ke Tangerang untuk melucuti persenjataan tentara Jepang di Lengkong.
Tentu saja rencana Belanda itu jika berhasil akan menodai kedaulatan Indonesia, sekaligus mengancam keberadaan MAT dan Resimen IV TKR Tangerang.
Untuk itu Komandan Resimen IV Tangerang, Letkol Singgih, memanggil Mayor Daan Mogot untuk membantu memperkuat Resimen tersebut.
Pada tanggal 25 Januari 1946 berangkatlah pasukan yang terdiri dari 70 orang taruna siswa MAT pimpinan Mayor Daan Mogot ke markas tentara Jepang di Lengkong. Salah satu taruna diketahui adalah anak kandung H. Agus Salim, tokoh perjuangan bangsa.
Maksudnya adalah untuk mendahului tentara Belanda melucuti pasukan Jepang di Tangerang. Jadi harus Indonesia yang melakukannya. Ini demi kedaulatan bangsa yang baru saja merdeka.
Sampailah pasukan muda itu di markas tentara Jepang. Dikabarkan Tentara Jepang sebenarnya sangat hormat dan salut dengan keberanian tentara-tentara “taruna” yang datang ke markas mereka.
Dipersilahkanlah masuk ke markas Mayor Daan Mogot yang didampingi Mayor Wibowo dan salah satu taruna oleh Kapten Abe pimpinan di sana. Untuk sementara pasukan taruna di luar dipimpin oleh Letnan Soebianto
Pada tanggal 30 November
1945 dilakukan perundingan
antara Indonesia dengan
delegasi Sekutu. Indonesia
diwakili oleh Wakil Menteri Luar
Negeri Agoes Salim yang
didampingi oleh dua dua
perwira TKR yaitu Mayor
Wibowo dan Mayor Oetarjo.
Sedangkan pihak Sekutu
(Inggris), Brigadir ICA Lauder
didampingi oleh Letkol
Vanderpost (Afrika Selatan) dan
Mayor West.
Pertemuan yang merupakan
Meeting of Minds,
menghasilkan ketetapan
tentang pengambil-alihan
primary objectives tentara
Sekutu oleh TKR yang meliputi
perlucutan senjata dan
pemulangan 35 ribu tentara
Jepang yang masih di
Indonesia, pembebasan dan
pemulangan Allied Prisoners of
War and Internees (APWI) yang
kebanyakan terdiri dari lelaki
tua, wanita, dan anak-anak
berkebangsaan Belanda dan
Inggris sebanyak 36 ribu.
Berdasarkan kesepakatan 30
November 1945, tentara Sekutu
tidak lagi memiliki alasan untuk
memasuki wilayah kekuasaan
Indonesia maupun
menggunakan tentara Jepang
untuk memerangi Indonesia
dengan dalih mempertahankan
status quo pra- Proklamasi.
Perintah itu disampaikan oleh
pihak Sekutu kepada Panglima
Tentara Jepang Letjen Nagano.
Sekitar tanggal 5 Desember
1945 ditegaskan oleh Kolonel
Yashimoto dari pimpinan
tentara Jepang kepada
pimpinan Kantor Penghubung
TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo
bahwa para komandan tentara
Jepang setempat sesuai
dengan keputusan pimpinan
tentara Sekutu, telah
diperintahkan tunduk kepada
para komandan TKR setempat
yang bertanggung jawab atas
pemulangan mereka.
Namun pada tanggal 24
Januari 1946, Daan Mogot
mendengar pasukan NICA
Belanda sudah menduduki
Parung. Dan bisa dipastikan
mereka akan melakukan
gerakan merebut senjata
tentara Jepang di depot
Lengkong.
Ini sangat berbahaya karena
akan mengancam kedudukan
Resimen IV Tangerang. Untuk
mendahului jangan sampai
senjata Jepang jatuh ke tangan
sekutu, berangkatlah pasukan
TKR dibawah pimpinan Mayor
Daan Mogot dengan
berkekuatan 70 taruna Militer
Akademi Tangerang (MAT) dan
delapan tentara Gurkha pada
tanggal 25 Januari 1946 lewat
tengah hari sekitar pukul
14.00. Ikut pula bersamanya
beberapa orang perwira
seperti Mayor Wibowo, Letnan
Soebianto Djojohadikoesoemo
dan Letnan Soetopo.
Dengan mengendarai tiga truk
dan satu jip militer hasil
rampasan dari Inggris, para
prajurit berangkat dan sampai
di markas Jepang Lengkong
pukul 16.00 WIB. Di depan
pintu gerbang, truk
diberhentikan dan pasukan
TKR turun. Mereka memasuki
markas tentara Jepang dengan
Mayor Daan Mogot, Mayor
Wibowo, dan taruna Alex
Sajoeti (fasih bahasa Jepang)
berjalan di depan. Pasukan
taruna diserahkan kepada
Letnan Soebianto dan Letnan
Soetopo untuk menunggu di
luar.
Kapten Abe, dari pihak Jepang,
menerima ketiganya di dalam
markas. Mendengar penjelasan
maksud kedatangan mereka,
Kapten Abe meminta waktu
untuk menghubungi atasannya
di Jakarta. Ia beralasan bahwa
ia belum mendapat perintah
atasannya tentang perlucutan
senjata. Saat perundingan
berjalan, ternyata Lettu
Soebianto dan Lettu Soetopo
sudah mengerahkan para
taruna memasuki sejumlah
barak dan melucuti senjata
yang ada di sana dengan
kerelaan dari anak buah Kapten
Abe. 40 orang Jepang telah
terkumpulkan di lapangan.
Namun entah mengapa, tiba-
tiba terdengar bunyi tembakan
yang tidak diketahui dari mana
asalnya. Disusul tembakan dari
tiga pos penjagaan
bersenjatakan mitraliur yang
diarahkan kepada pasukan
taruna yang terjebak. Tentara
Jepang yang berbaris di
lapangan ikut pula memberikan
perlawanan dengan merebut
kembali sebagian senjata
mereka yang belum sempat
dimuat ke dalam truk milik TKR.
Terjadilah pertempuran yang
tak seimbang, apalagi
pengalaman tempur dan
persenjataan para Taruna tak
sebanding dsengan pihak
Jepang. Taruna MAT menjadi
sasaran empuk, diterjang oleh
senapan mesin, lemparan
granat serta perkelahian
sangkur seorang lawan
seorang.
Ketika mendengar pecahnya
pertempuran, Mayor Daan
Mogot segera berlari keluar
meninggalkan meja
perundingan dan berupaya
menghentikan pertempuran
namun upaya itu tidak berhasil.
Mayor Daan Mogot bersama
beberapa pasukannya
menyingkir meninggalkan
asrama tentara Jepang,
memasuki hutan karet yang
dikenal sebagai hutan
Lengkong.
Namun Taruna MAT yang
berhasil lolos menyelamatkan
diri di antara pohon-pohon
karet mengalami kesulitan
menggunakan karaben Terni
yang dimiliki. Sering peluru
yang dimasukkan ke kamar-
kamarnya tidak pas karena
ukuran berbeda atau sering
macet. Pertempuran ini tidak
berlangsung lama, karena
pasukan itu bertempur di
dalam perbentengan Jepang
dengan persenjataan dan
persediaan peluru yang amat
terbatas.
Dalam pertempuran, Mayor
Daan Mogot terkena peluru
pada paha kanan dan dada.
Tapi ketika melihat anak
buahnya yang memegang
senjata mesin mati tertembak,
ia kemudian mengambil
senapan mesin tersebut dan
menembaki lawan sampai ia
sendiri dihujani peluru tentara
Jepang dari berbagai penjuru.
Monumen Lengkong
Dari pertempuran di hutan
Lengkong, 33 taruna dan 3
perwira gugur serta 10 taruna
luka berat. Mayor Wibowo
bersama 20 taruna ditawan,
hanya 3 taruna, yaitu Soedarno,
Menod, Oesman Sjarief berhasil
meloloskan diri dan tiba di
Markas Komando Resimen TKR
Tangerang pada pagi hari.
Pasukan Jepang selanjutnya
bertindak penuh kebuasan.
Mereka yang telah luka terkena
peluru dan masih hidup
dihabisi dengan tusukan
bayonet. Ada yang tertangkap
sesudah keluar dari tempat
perlindungan, lalu diserahkan
kepada Kempetai Bogor.
Beberapa orang yang masih
hidup (walau mereka dalam
keadaan terluka) dipaksa untuk
menggali kubur bagi teman-
temannya.
Tanggal 29 Januari 1946 di
Tangerang diselenggarakan
pemakaman kembali 36
jenasah yang gugur dalam
peristiwa Lengkong disusul
seorang taruna Soekardi yang
luka berat namun akhirnya
meninggal di RS Tangerang.
Mereka dikuburkan di dekat
penjara anak-anak Tangerang.
Hadir pula pada upacara
tersebut Perdana Menteri RI
Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI
Haji Agoes Salim yang
puteranya bernama Sjewket
Salim ikut gugur dalam
peristiwa tersebut beserta para
anggota keluarga taruna yang
gugur. Dan bagi R.Margono
Djojohadikusumo, pendiri BNI
1946, ia kehilangan dua putra
terbaiknya yaitu Letnan
Soebianto Djojohadikoesoemo
dan Taruna R.M. Soejono
Djojohadikoesoemo (keduanya
paman dari Prabowo Subianto).
Untuk mengenang jasa-
jasanya, pemerintah Indonesia
kemudian mengangkat Daan
Mogot sebagai pahlawan
nasional. Namanya juga
diabadikan menjadi nama Jalan
yang menghubungkan Jakarta
dengan Tangerang. Jalan Ini
memiliki sahabat setia yaitu Kali
Mookervaat.
Daan Mogot tutup usia pada
tanggal 25 Januari tahun 1946.
Hanya sempat merasakan
sebulan hidup di usia 17 tahun
atau dikenal sebagai saat
sweet seventeen saat ini.
Mungkin bagi anak muda akan
diperingati sebagai masa yang
indah, namun bagi Hadjari
Singgih, pacar Mayor Daan
Mogot, adalah sebuah
pengorbanan yang sangat
berarti bagi negeri ini. Kado
yang terindah darinya adalah
dengan memotong rambutnya
yang panjang mencapai
pinggang dan menanam
rambut itu bersama jenasah
Daan Mogot.
Kini di antara kemewahan
kawasan Serpong, Tangerang
Selatan, "terselip" sebuah
sejarah bernilai tinggi bagi
Republik Indonesia. Sebuah
rumah tua, bekas markas
serdadu Jepang di Desa
Lengkong, menjadi saksi
"Pertempuran Lengkong." Di
sebelah kanan rumah itu
berdiri sebuah monument yang
dibangun sejak tahun 1993.
Terukir sejumlah nama taruna
dan perwira yang gugur dalam
peristiwa heroik yang itu.
Namun yang patut disayangkan
adanya perbedaan antara
museum Lengkong dengan
obyek-obyek sejarah lainnya di
Tanah Air ini.
Markas tentara Jepang di Desa
Lengkong (sumber gambar :
www.glowupmagazine.com)
Museum dan Monumen
Lengkong bukanlah salah satu
sarana obyek wisata yang bisa
dikunjungi oleh masyarakat
luas. Pemanfaatannya hingga
saat ini hanya sekedar tempat
peringatan peristiwa
pertempuran. Sehingga banyak
dari masyarakat sekitar yang
tidak tahu akan keberadaan
bangunan historis tersebut.
Apalagi seharusnya di museum
terpampang foto-foto
perjuangan para taruna militer
di Indonesia beserta
akademinya, namun sayang
sekali foto-foto bersejarah
tersebut kini berada di
Akademi Militer Tangerang dan
akan dipasang kembali tiap
tanggal 25 Januari dalam
upacara peringatan peristiwa
Pertempuran Lengkong.
Kisah kepahlawanan Daan
Mogot menjadi tamparan bagi
kita, saat usia muda ia telah
berbakti untuk negerinya.
Seharusnya kita terus
kabarkan, agar para pemuda
tahu bahwa sejarah negeri ini
bermula dari kaum pemuda.
Agar para orang pemimpin
negeri ini tak memandang
remeh pada jeritan kaum
muda. Simak dan renungkan,
apa yang terukir di pintu
gerbang Taman Makam
Pahlawan Taruna, Tangerang :
Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yg mesti
musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami telah
sempurna
(Sebuah sajak Henriette Rolang
Holst ditemukan di saku Lettu
Soebianto Djojohadikusumo.
Sajak itu tertulis dalam bahasa
Belanda dan diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia oleh
Rosihan Anwar).

Aku Ingin Ibuku Memanggilku….

 Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata - rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek - aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal. Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….” Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …” Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu” Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua. Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …” Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil. Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..” Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa” Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa. Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..” Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”, Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”. Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari ……..” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku” Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih. Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari…..” Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum” Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari. Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….” Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, kependekan dari kata “Kontole” yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLOH. ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLOH.

 (Ditulis oleh : Lesminingtyas)

Siapakah Nashirudin al- Albani?



Assalamualaikum­ warahmatullahi wabarakatuh,

Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).
Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,

Saudaraku yg kumuliakan,
beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukin dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a'lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman,

Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya,

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.

Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb,

Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.

berkata para Muhadditsin, "Tiada ilmu tanpa sanad" maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu'.

apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.

saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.

Wallahu a'lam
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
MAJLIS MADRASAH(Majlis Dawarisul'ulumisyar'iyah Man 1 Bandung)

KEHED VS ASWAJA (AHLUS SUNNAH WALJAMA'AH)



Kehed: “Maulid
dan tahlilan itu
haram, dilarang
di dalam
agama.”
ASWAJA : “Yang dilarang itu
bid’ah, bukan Maulid atau
tahlilan, bung!

Kehed : “Maulid dan tahlilan
tidak ada dalilnya.”
ASWAJA : “Makanya jangan cari
dalil sendiri, nggak bakal
ketemu. Tanya dong sama guru,
dan baca kitab ulama, pasti
ketemu dalilnya.”

kehed : “Maulid dan tahlilan
tidak diperintah di dalam
agama.”
ASWAJA : “Mana dalilnya kalau
Maulid dan tahlilan dilarang
dalam Qur'an dan Hadits !!”.

Kehed : “Tidak boleh memuji
Nabi Saw. secara berlebihan.”
aswaja : “Hebat betul anda,
sebab anda tahu batasnya dan
tahu letak berlebihannya.
Padahal, Allah saja tidak pernah
membatasi pujian-Nya kepada
Nabi Saw. dan tidak pernah
melarang pujian yang
berlebihan kepada beliau.”

kehed : “Maulid dan tahlilan
adalah sia-sia, tidak ada
pahalanya.”
ASWAJA : “Sejak kapan anda
berubah sikap seperti Tuhan,
menentukan suatu amalan
berpahala atau tidak, Allah saja
tidak pernah bilang bahwa
Maulid dan tahlilan itu sia-sia.”

kehed : “Kita dilarang
mengkultuskan Nabi Saw.
sampai-sampai
menganggapnya seperti
Tuhan.”
ASWAJA : “Orang Islam paling
bodoh pun tahu, bahwa Nabi
Muhammad Saw. itu Nabi dan
Rasul, bukan Tuhan.”

kehed : “Ziarah ke makam wali
itu haram, khawatir bisa
membuat orang jadi musyrik.”

ASWAJA : “Makanya, jadi orang
jangan khawatiran, hidup jadi
susah, tahu.”

kehed : “Mengirim hadiah
pahala kepada orang meninggal
itu percuma, tidak akan
sampai.”
ASWAJA : “kalo begitu saya
boleh mendoakan yang jelek2
untuk keluarga anda yang
sudah meninggal, toh tidak
sampai kan?”

kehed : “Maulid itu amalan
mubazir. Daripada buat Maulid,
lebih baik biayanya buat
menyantuni anak yatim.”
ASWAJA : “Cuma orang pelit
yang bilang bahwa memberi
makan atau berinfak untuk
pengajian itu mubazir. Sudah
tidak menyumbang, mencela
pula.”

kehed : “Maulid dan tahlilan itu
bid’ah, tidak ada di zaman Nabi
saw.”
ASWAJA : “Terus terang, Muka
anda juga bid’ah, karena tidak
ada di zaman Nabi Saw.”

kehed : “Semua bid’ah (hal baru
yang diada-adakan) itu sesat,
tidak ada bid’ah yang baik/
hasanah.”
ASWAJA : “Saya ucapkan selamat
menjadi orang sesat. Sebab
Nabi Saw. tidak pernah
memakai resleting, kemeja,
motor, atau mobil seperti anda.
Semua itu bid’ah, dan semua
bid’ah itu sesat.”

kehed : “Kasihan, masyarakat
banyak yang tersesat. Mereka
melakukan amalan bid’ah yang
berbau syirik.”
ASWAJA : “Sudah lah, kalau anda
masih bodoh, belajarlah dulu,
sampai anda bisa melihat jelas
kebaikan di dalam amalan
mereka.”

kehed : “Saya menyesal
dilahirkan oleh orang tua yang
banyak melakukan bid’ah.”
aswaja : “Orang tua anda juga
pasti sangat menyesal karena
telah melahirkan anak durhaka
yang sok pintar seperti anda.”

kehed : “Para penceramah di
acara Maulid, bisanya hanya
mencaci maki dan memecah
belah umat.”
ASWAJA : “Sebetulnya, para
penceramah itu hanya mencaci
maki orang seperti anda yang
kerjanya menebar keresahan
dan benih perpecahan di
kalangan umat.”

kehed : “Qunut Shubuh itu
bid’ah, tidak ada dalilnya, haram
hukumnya.”
ASWAJA : “Kasihan, rokok apa
yang anda hisap? Setahu saya,
di dalam iklan, merokok Star
Mild hanya membuat orang
terobsesi menjadi sutradara
atau orator. Sedangkan anda
sudah terobsesi menjadi ulama
besar yang mengalahkan Imam
Syafi’i yang mengamalkan qunut
shubuh. Lebih Brasa, Brasa
Lebih pinter gitu loh!”

PENTINGKAH SEKOLAH??? (By: Deddy Corbuzier)

PENTINGKAH SEKOLAH???
(By: Deddy Corbuzier)

Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah

sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah

tersebut, karna setlah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang

kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas

disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih

pro ke murid daripada ke sekolah tersebut.

Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat

mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam

waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya.

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, “penting”. Ok?

Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke

sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu

penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di

Indonesia.

Mengapa?
Begini saja... Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek

nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa

sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan

bahw mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja,

menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi?
Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi

guru. Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru

matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi

guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainya.
Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, guru matematika.

Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia

tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya

yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau

nilainya jelek.
Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa

olahraga dengan nilai baik.
Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain

dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua

nilainya baik. Aneh kan???
Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua

murid harus menguasai semua mata pelajaran.
Ya, mungkin untuk dasar, katanya.
Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia

tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang

diberikan pada saat dia kecil.
Iya tidak???
Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala

hal, begitu juga murid2.
Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik.
Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika

dewasa. Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai

sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya

kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour

guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari

itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin

menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal

tersebut.
Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang

sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.

Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu

sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut.

Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya tidak tau, guru

akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek.
“Kalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi

orang sukses.”
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang

bekerja pada saya. Itu adalah fakta..
Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya?

Mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita

lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Kalau anak tersebut suka

matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak

tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.

Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu

sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan

semua pelajaran yang dia suka atau tidak harus bisa, harus hafal.
Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi

begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya

telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.
Kenapa? Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal,

menghafal, menghafal, menghafal. Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik,

tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah,

menghafal peta buta, dan sebagainya.
Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni

rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai.
Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD,

anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan

kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang

datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar

anaknya.

Lalu bagaimana merubah itu semua???
Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh

tahunan untuk merubah itu. Saya harap satu saat bisa.
Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini

orangtua, dengarkan ini baik2.
Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua

anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.

Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam

mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil

nanti kedepanya.
Bagaimana caranya?
Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa

yang harus dilesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru

matematika untuk memberi les tambahan matematika? Tidak perlu kan?

Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak

saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus,

saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah

mulai dikembangkan sejak kecil. Bukan memaksakan hal yang memang

mereka tidak suka.
Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni

rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk

lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek

maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas. Ya, kalo pelajaran2

seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk

lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu

sepuluh, ingat, nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda,

nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di

kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika

anda dewasa, sama sekali, tidak berhubungan menurut saya.
Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang

anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung

pelajaran yang baik... Jangan memaksakan terhadap anak dari yang

asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau

sepuluh, tidak penting! Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai

jelek!
Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur.
Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas,

justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali. Orangtua

saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya

berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa

seperti itu. Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di

Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada

saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua

pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus

mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.
Ingat sekali lagi bahwa, masa depan anda tidak tergantung pada pintar

tidaknya anda di sekolah, masa depan anda tidak tergantung pada anda

naik kelas atau tidak naik kelas,
masa depan anda juga tidak tergantung dari nilai rapor anda.
Masa depan anda sebenarnya tergantung pada kemampuan anda

bersosialisasi,
Masa depan anda tergantung pada cara dan sikap anda dalam menambah

pengetahuan anda setiap harinya dari mana saja. Dari majalah, dari

internet, bari buku, dari pengalaman2 orang, dari mana saja yang anda

sukai.
Saya punya teman yang waktu kecilnya dikenal jelek karna suka main

game, dan sekarang, dia menjadi pemilik toko game terbesar di

Indonesia. Kaya raya.
Masa depan anda, tidak tergantung dari nilai sekolah anda.
Masa depan anda, ada di tangan anda.
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda.
Kadang2, merah artinya sukses, untuk masa depan anda.

(Saya Deddy Corbuzier)

Sumber:
Diketik dari rekaman Deddy yang berjudul “Pentingkah Sekolah???”
Rekaman diambil dari situs:
http://soundcloud.com/rina-mariana-99/sets/deddy-corbuzier-pentingkah/

Bagi yang ingin mendengarkan rekamannya juga, silahkan kunjungi situs

tersebut atau click link di bawah ini untuk dapat langsung

8 Penyebab anak berperilaku keras kepala dan suka melawan orangtua antara.



1. Sikap otoriter orangtua, yaitu orangtua terlalu menekan atau memaksa anakuntuk menuruti semua kenginannya tanpa melihat kondisi dan kemampuan anak. Orangtua bersikap otoriter kepada anak biasanya karena mereka merasa serbatahu apa yang terbaikuntukanakdan apa yang harusdilakukan anak. Orangtua meyakini bahwa untuk berhasil dalam membimbing, mengarahkan perilaku, dan mendidik anak sehinggamenjadi anakyang baik diperlukan cara-cara yang tegas dan keras. Anak yang merasa terus ditekan atau dipaksa dan merasa tidak mampu memenuhi semua keinginan orangtua pada akhirnya akan menunjukkan sikap melawan.

2. Berbicara kepada anakdi saat yang tidak tepat. Kerap kali terjadi, misalnya orangtua memintaanak melakukan sesuatu, padahal anaktengah asyik bermain atau menikmati aktivitas kesukaannya. Anakpun merasa terganggu dengan permintaan orangtuanya tersebut. Dalam kondisi seperti ini, anakbiasanya akan mengabaikan permintaan orangtuanya, menunda melaku¬kannya, atau langsung menolaknya. Jika orangtua terus memaksa, sangatmungkin akan terjadi ketegangan atau konflik dengan anak.

3. Anaksangat menginginkan sesuatu, tetapi orangtuanya tidak dapat memenuhi keinginan tersebut. Anak pun kemudian menunjukkan perilaku keras kepala atau suka melawan orangtua. Anakmelakukan ini untuk mencari perhatian orangtua dan sebagai cara untukmenyampaikan protes. Anak berharap dengan perubahan perilaku yang ditunjukkannnya, orangtua mau memenuhi keinginannya.

4. Anakdibiarkan tumbuh tanpa bimbingan. Hal ini bisa terjadi ketika orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau memang orangtua kurana mampu memberi perhatian dan didikan yang dibutuhkan anak hingga nilai-nilai kebaikan, seperti sopan santun, menghargai orang lain, atau batasan benar-salah, boleh¬ tidak boleh, tidak tertanam dengan baikpada diri anak. Anak pun tumbuh menjadi pribadi yang egoisdan suka melawan orangtua.

5. Pengaruh lingkungan. Anak begitu mudah meniru perilaku teman-¬temannya, orang-orang lain yang dikenalnya, atau tayangan televisi. Ketika anak mendapati teman-temannya atau orang lain menunjukkan perilaku suka melawan kepada orangtua, anak-anak pun akan dengan mudah melakukan hal yang sama.

6. Mencontoh perbuatan orangtuanya. Mungkin anaksering melihatkedua orangtuanya bertengkar atau bersikap keras kepala. Atau, anak melihat orangtuanya tidak patuh kepada nenek dan kakeknya. Anak pun dapatterdorong untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya.

7. Anakterlalu dimanja oleh orangtuanya. Semua keinginanya selalu diberikan. Jika suatu saat ada keinginannya yang tidak dipenuhi, anak akan memprotes dan melawan.

8. Hubungan antara orangtua dan anaktidak harmonis. Ikatan kasih sayang dan pengertian antara mereka pun kurang. Kondisi ini rentan menimbulkan konflikantara orangtua dan anak.

Sequence Stratigraphy dan "Keselarasan" Manusia Gua Indonesia

BACAAN SORE DARI RENUNGAN PAGI -
Sequence Stratigraphy dan "Keselarasan" Manusia Gua Indonesia

(Renungan Pagi Sedimentologi Arkeologi)

ADB

Batas Sekuen adalah Ketidak-selarasan yg berkorelasi dg Keselarasan sebanding (Prinsip Dasar Sequence Stratigraphy)

Kalau terjadi katastrofi di Jakarta, maka akan terjadi "ketidakselarasan" di Jakarta: daya dukung lingkungan hancur, banyak "species" punah, proses pertumbuhan di-reset ke awal lagi. Itulah batas sekuen kita!

Tapi ingat: Stratigrafi Sekuen juga mengajarkan adanya "Keselarasan sebanding" yg berkorelasi dg Ketidak-selarasan krn katastrofi tsb. Di manakah "keselarasan" itu? Di manakah survivor2 kita ketika Jakarta dihancurkan, ketika Aceh di gempa-tsunamikan, ketika Danau Bandung dikeringkan, ketika Toba diletuskan?

Jawabnya ada di definisi "keselarasan" itu sendiri: MEREKA YG TERUS MENERUS HIDUP SELARAS DG ALAM, besar kemungkinan akan menjadi survivor - keselarasan itu, yg nantinya akan jadi pioneer2 biosfera ekosistim baru paska-katastrofi! Saudara2 kita di Badui, di Kubu, di Samin, adalah contoh dari mereka yg hidup selaras dg alam skrg ini tanpa harus memanipulasi alam itu sendiri. Mereka mengekstraksi alam secukupnya u/kehidupan mrk sehari2, bukan "memanipulasi" dan mengambilnya berlebih-lebih! Merekalah yg terselamatkan oleh "alam", ketika teknologi maju menghancurkan dirinya sendiri.

Bahkan ketika tsunami-gempa-letusan gunung api menghantam kebudayaan2 tinggi di dataran2 rendah, mereka yg tinggal di gua-gua tempat2 tinggi jauh dari jangkauan tsunamilah yg berhasil menyelamatkan diri. Musim dingin 6 tahun karena letusan super-volkano Toba-pun mungkin akhirnya bisa mereka siasati dg hidup di gua-gua dan bertahan dari generasi ke generasi.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika seringkali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebelum abad 4 Masehi sejarah Indonesia hanya didominasi oleh "manusia2 gua" alias dianggap sbg zaman "pra-sejarah" semua. Kita saja yg belum bisa menemukan bekas2 peninggalan kebudayaan tinggi yg memanipulasi alam pd waktu itu yg dihancurkan oleh siklus proses alam sendiri. Yg lebih mudah kita temukan adalah peninggalan2 manusia gua yg notabene selalu "lebih terselamatkan" dan lebih "bisa beradaptasi" menghadapi bencana2 katastrofi.

Kebudayaan2 tinggi kita di Abad ke 0 ketika Nabi Isa / Yesus mengejawantah di dunia, terkubur oleh katastrofi. Sisa2 kejayaan negeri khatulistiwa saat Plato berpidato di Eropa sana abad 8 sebelum masehi-pun masih harus kita temukan dimana adanya mereka kini. Juga kebudayaan sebanding atau lebih tinggi dari piramida Mesir yg konon dibangun 3000th sebelum masehi, mustinya bisa juga kita temui di Indonesia ini.

Bukti2 "ketidakselarasan" karena katastrofi itu semuanya menunggu untuk kita gali dan pelajari. Janganlah karena yg sering kita dapati adalah bukti "keselarasan"nya (yaitu manusia2 gua), maka terus saja kita menganggap proses kebudayaan kita linier satu fasa saja: pra-sejarah-sejarah-modernisasi. Padahal bumi telah mengajarkan lewat sequence stratigraphy: bahwa semua proses pembentukan pertumbuhan kehancuran dan keseluruhan perjalanan bumi bukan linearisme uniformitarianity, tapi siklus2 katastrofi!!!!

Maka, demikianlah kira-kira itibar yang dapat kita ambil dari Sequence Stratigraphy.

Subhanallah. Allahuakbar.

Ciledug, 14 Mei 2013
ADB - Geologist Merdeka
Anggota Tim Riset Katastrofi Purba Indonesia.

Ghuzilla Humeid Logika Tanda - tanda Kiamat



Kiamat artinya ngadek. Berdiri. Jenggelek dst. Siapa dan apa yang berdiri ? Carilah guru yang mengerti. Inilah tanda-tanda hari kiamat.

1. Matahari Terbit dari Barat ( Niat )
Matahari terbit dari timur lalu tenggelam di barat, begitulah lazimnya. Tatkala ia terbit dari barat maka itulah tanda-tanda kiamat. Artinya, hari ( saat ) kiamat sudah "dekat". 
Matahari itu kiasan atau simbol ilmu pengetahuan yang menerangi dunia ini. Belahan bumi sebelah timur pusatnya ilmu bathin, belahan barat pusat ilmu kebendaan, materialistik, wujud dst. Doeloe kala, pusat sumber ilmu yang membuat terang benderang dunia asalnya dari belahan timur, tetapi sejak beberapa abad terakhir ini, kiblat ilmu pengetahuan berpindah ke barat yang cenderung membawa manusia berorientasi kepada hal wujud, materialistik dst. Gilirannya, "mata dunia" digiring untuk mengukur keberhasilan seseorang dari aspek fisik semata.
Makna hakikinya: sudah banyak aliran dalam Islam. Dan tiap-tiap aliran ingin benar sendiri, merasa paling hebat sendiri. Setiap aliran mengklaim dirinya sebagai golongan yang paling benar dan merasa paling dekat dengan Tuhan. 
- Dalam situasi apapun jangan mengubah niat, apalagi niatnya untuk beribadah. Jika niat berubah bisa timbul prasangka, lintasan pikiran, dsb yang sifatnya menduga-duga. Timbul keraguan goncangkan niat untuk berbuat kebaikan.
2. Tinggi-tinggian ( Jangan Bergoyang Niat )
Dalam dinamika masyarakat, pola yang nge-trend kini adalah "tinggi-tinggian". Tinggi-tinggian apa saja. Entah tinggi-tinggian ilmu, gedung, kekayaan, pangkat, gelar-gelar sosial dan akademis dst. Yang akan diurai pada analog ini yaitu tinggi-tinggian "celana". Celana itu sarana orang menutup aurat. Atau kaum hawa disebut rok. Apa bakal terjadi jika aurat yang wajib ditutup rapat, justru ditinggi-tinggikan ( dibuat tontonan ) layaknya barang dagangan ? 
Ketika "aib rumah tangga" menjadi konsumsi khalayak. Tatkala persoalan kawin cerai, selingkuh dst di kalangan tertentu merupakan trend yang diminati dan ditiru banyak orang. Ketika mereka kembali ( lari ) ke agama, ke ustad dst hanya sekedar pura-pura. Bunyi wirid yang afdol bagi mereka adalah masya allah - masya allah, sambil "sang kyai bingung" menggelengkan kepalanya melihat aurat santri-santrinya. Maknanya: umat Islam bergoncang, iman manusia mulai bergoyang. 
- Mengubah niat berbuat baik, akan mengakibatkan kerapuhan niat itu sendiri pada hal lainnya. Lintasan pikiran yang timbul membawa orang untuk berpikir untung - rugi, pahala - dosa dst. Sehingga niat dan rencana yang dikerjakan kurang optimal, sebab sudah muncul pamrih ( tidak ikhlas ).
- Dalam bisnis istilahnya berorientasi ke tujuan bukannya “proccess oriented”. Maka dalam pelaksanaan akan cenderung potong kompas, menghalalkan segala cara, pokok’e tujuan tercapai dst.
3. Salah Jadi Benar - Benar Jadi Salah ( Berpindah Rasa )
Fenomena "salah menjadi benar - benar menjadi salah" sering terlihat di masyarakat. Adagium hukum mengatakan: hukum itu seperti jaring laba-laba, hanya menjerat yang kecil-kecil tetapi yang besar justru merusaknya. 
Di tengah masyarakat berkembang stigma KUHP ( kasih uang habis perkara ) bila berurusan dengan penegak hukum. Artinya, 'benar dan kebenaran' cuma hak dan miliknya wong gede, orang berduit dan pejabat saja. Maknanya: zaman sudah bergeser - step by step Islam mulai berubah. 
- Dalam pepatah Minang dikatakan, "condong mato karena rancak, condong salero karena lamak" ( kecenderungan mata melihat yang cantik, kecenderungan selera merasakan yang enak ). Pepatah Jawa mengatakan "ono udan salah mongso". 
- Apa yang terjadi kalau 'rasa' sudah berpindah. Misalnya selera untuk merasakan yang cantik, dan mata cuma sekedar melihat yang enak. Itulah "rasa" yang salah sasaran. Ketika ia sudah berpindah, maka yang terjadi adalah guru memperkosa santrinya atau kakek "mengembat" cucunya dst. 
- Maka inilah titik awal kehancuran. Usaha jenis apapun bisa gulung tikar, sebab hal-hal yang enak dirasakan cuma dilihat-lihat, tetapi yang seharusnya untuk dilihat cenderung ingin dirasakan. Bisnis yang paling laris adalah prostitusi, narkoba, judi dsb. 
4. Tua Jadi Muda - Muda Jadi Tua ( Semangat / Hati )
Sanepo Jawa mengatakan:"sing enom ngemong sing tuo". Atau "ono kebo nyusu gudel". 
Orang tua kluyuran malam tetapi anaknya justru di rumah. Bapak ibunya berhias diri secara berlebihan justru anaknya amat sederhana. Bapak pecandu narkoba, anaknya justru menasehati dst. Maknanya: iman manusia telah pindah alamat, agama cuma simbol belaka. 
- Dalam keadaan apapun, ketika melaksanakan suatu niat berbuat kebaikkan dibutuhkan semangat. Apakah semangat, yaitu fighting spirit ( semangat bertanding ) menyala-nyala. Jangan cederai atau nodai niat / semangat dengan hal-hal kecil menggoda yang seakan-akan lebih baik, tetapi seringkali justru menjerumuskan. Maju terus pantang mundur.
5. Anak Kawin Bapak - Bapak Kawin Anak ( Tak Urus Hasil )
Ketika itulah, dunia sudah tidak berisi manusia lagi. Manusia sudah tidak punya moral. Tak ada iman. Ujudnya manusia, tetapi "isi tubuh" bukan manusia karena tak punya iman. Istilah lain “globalisme” yaitu campurnya nilai-nilai timur dan barat. 
Manusia berasal dari air menjadi panas karena dosa-dosa. Bumi semakin panas karena ulahnya. Langit terbelah ( ozon terkuak ). Bumi kehilangan gravitasi. Pecahlah bumi - meledak dunia. Ibarat meteor bumi meluncur kehilangan gravitasi. Seperti lempengan tembaga ia berhenti pada titik keseimbangan gravitasi. Ibaratnya manusia seperti anai-anai yang beterbangan karena tiadanya gravitasi bumi ( Al-Qur’an –Red ).
Dalam keadaan membara muncul air ( bersih ) segar mengalir. Lalu daratan paling jauh ( ujung ) yang tak terkena air disebut padang gersang. Itulah Neraka. 
Pada air bersih tadi muncul “bakteri” yang menjadikan air putih. Bakteri tak berguna menjadi asam ( ASAM AMINO-Red ), bisa disebut air kapur ( susu ) yang enak. Lalu tumbuhlah berbagai macam tanaman berbunga menghasilkan air ( madu ) yang menyegarkan, dan madu itu sendiri mengeluarkan bau ( kasturi ) yang tidak membuat mabuk. 
Inilah sebuah proses tentang sesuatu apapun, dimanapun bahkan sampai kapanpun, bahwa sesungguhnya surga itu ( di dunia disebut kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan dst ) bukanlah sekedar kun fayakun atau bim salabim, tetapi memerlukan proses yang panjang seperti halnya kisah Nabi Zubair ketika itu disuruh Allah melihat proses kebangkitan kudanya setelah mati dan jadi tulang belulang selama 100 tahun (Al-Qur’an-Red ).
- Lakukan proses dengan baik jangan melihat (berharap ) hasil. Ketika mengerjakan sesuatu berorientasi kepada tujuan, maka akan cenderung "potong kompas", atau menghalalkan segala cara dst. 
- Secara psikis, ketika seseorang berorientasi pada hasil, maka bila terdapat "kesenjangan" antara harapan dan kenyataan berpotensi memunculkan stress, frustrasi dsb. Karena itu, janganlah mengurus hasil dari apa yang dikerjakan, melainkan lakukan saja proses secara profesional karena sesungguhnya hasil itu milik-Nya.Intinya pasrah disertai niat ( usaha ).
- Pengertian antara kulit dan isi dari tanda-tanda diatas, terkadang tak nyambung bahkan seringkali justru bertolak belakang. Misalnya 'bapak kawin anak - anak kawin bapak' mengandung arti kebejatan moral yang teramat sangat di suatu zaman, tetapi dalam kajian filosofi, dimaknai sebagai kegiatan yang berorientasi kepada proses bukan goal oriented ( berorientasi tujuan ).

Tahukah kamu wahai wanita Pengorbanan Seorang Pria yang Kadang Tidak anda Diketahui (wanita)

Tahukah kamu wahai wanita Pengorbanan Seorang Pria yang Kadang Tidak anda Diketahui (wanita)

1. Seorang anak laki–laki, dengan uang jajan seadanya.. diberi orang tua nya agar bisa makan di kantin sekolah, atau ongkos transportasi ke sekolah.. apakah kalian merasa dia akan menggunakan semua uang jajannya? ketahuilah, dia selalu menabung untukmu, perempuan yg di hatinya, setiap hari, menahan lapar, menahan segala ajakan teman untuk pergi bermain dan berharap cukup untuk mengajakmu pergi jalan –jalan di hari minggu nanti.., mungkin hanya sekedar nonton atau pergi makan,.. lalu ketika hari minggu yang dimaksud, engkau jawab : ” duh,.. sori ni kek nya aku gak bisa pegi sama kamu hari ini soalnya diajakin keluarga pegi… maap “

Dah !!,.. kamu dah sukses menghancurkan perasaan, pengorbanan tu anak laki – laki.. mungkin mereka tak pernah menangis, atau pun curhat sama temannya,.. karna mereka itu jantan! mereka selalu menyimpan perasaannya seorang diri. 2. Ketika beranjak dewasa, para wanita cantik hanya akan pergi sama cowo yang punya kendaraan roda empat.. ketika pria harus bersaing untuk mendapatkan dirimu, mereka akan lebih berhemat mati2an agar bisa mengajak mu untuk berkencan,.. ketika engkau mau d ajak pergi, dan kaget untuk pertama kali engkau dijemput memakai motor,.. lalu engkau menjawab ” duh rambut gw rusak nih,…” ” duh, siang bolong gini kamu ngajakin aku pergi… panas tau ” ” duhhhh, debu, panas… laen kali aja deh ya ? “ mungkin engkau tidak sadar mengatakannya,. . tapi percaya lah.. hati mereka sakit.. 3. Ketika sudah berkeluarga,… anda tau? mereka kerja banting tulang seharian penuh untuk mencukupi kalian makan.. tau pepatah ini gak? ”Seorang ayah makan telur ayam, sedangkan anak istrinya makan daging ayam “ Di benak seorang ayah, asalkan anak istrinya bahagia itu udah cukup,.. kalo perlu gak makan, ato sekedar makan mi instan, asalkan anak istri bisa makan dia uda senang,.. jangan suka menyia2kan uang hasil kerja keras suami mu itu..

Π• hanya untk bhan renungan •Π
Wong Lanang Laka Padane
 

PENULISAN KITAB MAULID NABI SAW. DARI MASA KE MASA


Dalam kitab Kasyf adz-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 Hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi Saw. serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari ...peringatan-peringatan Maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi Saw. kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 Hijriyah.

Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi Saw. oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi Saw. sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan Maulid Nabi Saw., sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabi’ul AwWal.

Imam an-Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan Maulid Nabi Saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari Maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.

Imam Taqiyuddin as-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Saw., bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi Saw., akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam ath-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap datang hari Maulid Nabi para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.

Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan Maulid Nabi Saw. ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, disamping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kemuliaan hari maulid Nabi Saw. dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah Saw.”

Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan Maulid Nabi Saw. yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 Hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari Maulid Nabi Saw. menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya (Dan mengenai hidangan yang disajikan dalam peringatan maulid, itu adalah soal yang tidak dilarang dan tidak diwajibkan, yakni mubah. Akan tetapi, karena menghormati dan menjamu tamu itu merupakan amal kebajikan, maka dapatlah dipandang sebagai sesuatu yang mustahab, yakni baik dan afdhal).

Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Saw. dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau Saw.

Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab Maulid Nabi Saw., diantaranya Sayid Muhammad Shalih as-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan Maulid Nabi Saw. sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid ad-Diba’i, al-‘Azab, Syaraf al-Anam, Simthud Durar, adh-Dhiya’ al-Lami’ dan Maulid al-Burdah. Disamping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya.

Diantara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan Maulid Nabi Saw.:
1. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Abdur Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597 H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.
2. Al-Imam al-Muhaddits al-Musnid al-Hafidz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir.
3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri asy-Syafi’i (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif.
4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddits al-Hafidz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibn Katsir menyusun kitab Maulid Nabi Saw. yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih as-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA, Mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddits Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.
5. Al-Imam al-Kabir asy-Syahir, Hafidz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhadditsin al-A’lam, al-Hafidz Abdur Rahim ibn Husain bin Abdur Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafidz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.
6. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi ad–Dimasyqi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan al-Hafidz Ibn Nasiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya: Jami’ al-Atsar Fi Maulid an-Nabiy al-Mukhtar (3 Jilid), al-Lafdzu ar-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq, Maurid as-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.
7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafizd asy-Syahir Muhammad bin Abdur Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafidz as-Sakhawi (831-902 H) yang mengarang kitab ad-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid an-Nabawi.
8. Al-Allamah al-Faqih as-Sayyid Ali Zainal Abidin as-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.
9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan Ibn ad-Diba’i, beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H dan meninggal dunia pada hari Jum’at, 12 Rajab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia Maulid ad-Daiba’i. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan haditsnya oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam an-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama an-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Asy-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.”
11. Al-’Allamah al-Faqih asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad as-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977 H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.
12. Al-’Allamah al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih asy-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014 H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid ar-Rawi Fi al-Maulidi an-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Madzhab Syafi’i di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid an-Nabiy al-Azhar.
14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan ad-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri (wafat tahun 1277 H)
15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid asy-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345 H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.
16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani (wafat tahun 1350 H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.
17. Al-Quthb al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi mengarang Kitab Maulid yang diberi judul Simthu ad-Durar atau tenar juga disebut sebagai Maulid al-Habsyi.
18. Al-Musnid al-Hafidz al-‘Alim al-‘Allamah ad-Da’i Ilallah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA menyusun Kitab Maulid yang diberi judul adh-Dhiya’ al-Lami’ Bi Dzikr Maulid an-Nabiy asy-Syafi’ yang seringkali kita dengar di Majelis-majelis Taklim besar di Indonesia khususnya.

Dalam kitab Kasyf adz-Dzunnun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab perilaku kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan uraian tentang kelahirannya ialah Muhammad bin Ishaq, wafat tahun 151 Hijriyah. Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi Saw. serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik oleh kaum muslimin dari ...peringatan-peringatan Maulid dalam bentuk walimah, sedekah dan bentuk kebajikan lain. Penulisan riwayat kehidupan Nabi Saw. kemudian diteruskan lagi pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat tahun 213 Hijriyah.

Tidak diragukan lagi, dengan diterima dan dibenarkan penulisan kitab sejarah perilaku kehidupan Nabi Saw. oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam itu, kaum muslimin tidak kehilangan informasi sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi Saw. sejak beliau lahir hingga wafat. Tujuan memelihara kelestarian data sejarah itu disambut baik oleh para ulama, dan ini berarti bahwa para ulama membenarkan diadakannya peringatan Maulid Nabi Saw., sekurang-kurangnya setahun sekali pada bulan Rabi’ul AwWal.

Imam an-Nawawi bahkan mensunnahkan peringatan Maulid Nabi Saw. Pendapat itu diperkuat oleh Imam al-Asqalany. Dengan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam al-Asqalany memastikan bahwa menyambut hari Maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau mendatangkan ganjaran dan pahala bagi kaum muslimin yang menyelenggarakannya.

Imam Taqiyuddin as-Subki, telah menulis sebuah kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Saw., bahkan ia menetapkan bahwa siapa yang datang menghadiri pertemuan untuk mendengarkan pembacaan riwayat maulid dan kemuliaan serta keagungan Nabi Saw., akan memperoleh berkah dan ganjaran pahala.

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami, menulis kitab khusus mengenai kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh berkah dan kebajikan. Demikian juga Imam ath-Thufi al-Hanbali yang terkenal dengan nama Ibnu al-Buqy, ia menulis sajak dan syair-syair bertema memuji kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw. yang tidak dimiliki oleh manusia lain manapun juga. Tiap datang hari Maulid Nabi para pemuka kaum muslimin berkumpul di rumahnya, kemudian minta kepada salah seorang di antara mereka supaya mendendangkan syair-syair al-Buqy.

Imam al-Jauzy al-Hanbali, mengatakan manfaat istimewa yang terkandung di dalam peringatan Maulid Nabi Saw. ialah adanya rasa ketentraman dan keselamatan, disamping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula bahwa orang-orang pada zaman Abbasiyah dahulu merayakan hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan sedekah dan lain sebagainya.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kemuliaan hari maulid Nabi Saw. dan diperingatinya secara berkala sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin, mendatangkan pahala besar, mengingat maksud dan tujuan yang sangat baik, yaitu menghormati dan memuliakan kebesaran Rasulullah Saw.”

Menurut Ibnu Batutah dalam catatan pengembaraannya menceritakan kesaksiannya sendiri tentang kegiatan dan bentuk-bentuk perayaan Maulid Nabi Saw. yang dilakukan oleh Sultan Tunisia Abu al-Hasan pada tahun 750 Hijriyah. Ibnu Batutah berkata, bahwa sultan tersebut pada hari Maulid Nabi Saw. menyelenggarakan pertemuan umum dengan rakyatnya dan disediakan hidangan secukupnya (Dan mengenai hidangan yang disajikan dalam peringatan maulid, itu adalah soal yang tidak dilarang dan tidak diwajibkan, yakni mubah. Akan tetapi, karena menghormati dan menjamu tamu itu merupakan amal kebajikan, maka dapatlah dipandang sebagai sesuatu yang mustahab, yakni baik dan afdhal).

Beribu-ribu dinar dikeluarkan oleh sultan untuk menyediakan berbagai jenis makanan bagi penduduk. Ia mendirikan kemah raksasa sebagai tempat pertemuan umum itu. Dalam pertemuan itu dibacakan syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi Saw. dan diuraikan pula riwayat kehidupan beliau Saw.

Selain ulama zaman dahulu, pada zaman-zaman berikutnya hingga zaman belakangan ini, masih tetap banyak ulama yang menulis kitab-kitab Maulid Nabi Saw., diantaranya Sayid Muhammad Shalih as-Sahrawardi, yang menulis kitab maulid berjudul Tuhfah al-Abrar Fi Tarikh Masyru’iyat al-Hafl Bi Yaumi Maulid Nabi al-Mukhtar. Dalam kitab maulid ini penulis mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang sahnya peringatan Maulid Nabi Saw. sebagai ibadah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) supaya kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

Di Indonesia, beredar pula kitab-kitab maulid yang sering dibaca oleh kaum muslimin seperti kitab maulid al-Barjanzi, maulid ad-Diba’i, al-‘Azab, Syaraf al-Anam, Simthud Durar, adh-Dhiya’ al-Lami’ dan Maulid al-Burdah. Disamping itu terdapat juga kitab-kitab maulid yang ditulis oleh ulama-ulama dari kalangan Alawiyin, seperti kitab maulid al-Habsyi, al-Masyhur, al-Atthas, al-Aidid dan lainnya.

Diantara kiitab-kitab yang ditulis berkenaan dengan Maulid Nabi Saw.:
1. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Abdur Rahman bin Ali yang terkenal dengan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (wafat tahun 597 H), dan maulidnya yang masyhur dinamakan al-Arus.
2. Al-Imam al-Muhaddits al-Musnid al-Hafidz Abu al-Khattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dahya al-Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang maulid yang dinamakan at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir.
3. Al-Imam Syeikh al-Qurra’ Wa Imam al-Qiraat al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah al-Juzuri asy-Syafi’i (wafat tahun 660H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urfu at-Ta’rif bi al-Maulid asy-Syarif.
4. Al-Imam al-Mufti al-Muarrikh al-Muhaddits al-Hafidz ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibn Katsir menyusun kitab Maulid Nabi Saw. yang telah ditahqiq oleh Dr. Solahuddin al-Munjid. Kemudian kitab maulid ini disyarahkan oleh al-’Allamah al-Faqih as-Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA, Mufti Tarim, dan diberi komentar pula oleh al-Muhaddits Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang telah diterbitkan di Siria pada tahun 1387 hijriyah.
5. Al-Imam al-Kabir asy-Syahir, Hafidz al-Islam Wa ‘Umdatuh al-Anam, Wa Marja’i al-Muhadditsin al-A’lam, al-Hafidz Abdur Rahim ibn Husain bin Abdur Rahman al-Misri, yang terkenal dengan al-Hafidz al-Iraqi (725 – 808 H). Kitab maulidnya dinamakan al-Maurid al-Hana.
6. Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi ad–Dimasyqi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan al-Hafidz Ibn Nasiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang sejalan dengan Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, antaranya: Jami’ al-Atsar Fi Maulid an-Nabiy al-Mukhtar (3 Jilid), al-Lafdzu ar-Ra’iq Fi Maulid Khair al-Khalaiq, Maurid as-Sabiy Fi Maulid al-Hadi.
7. Al-Imam al-Muarrikh al-Kabir Wa al-Hafizd asy-Syahir Muhammad bin Abdur Rahman al-Qahiri yang terkenal dengan al-Hafidz as-Sakhawi (831-902 H) yang mengarang kitab ad-Diya’ al-Lami’. Beliau telah menyusun kitab maulid nabi dan dinamakan al-Fakhr al-’Alawi Fi al-Maulid an-Nabawi.
8. Al-Allamah al-Faqih as-Sayyid Ali Zainal Abidin as-Samhudi al-Hasani, pakar sejarah dari Madinah al-Munawarrah (wafat tahun 911H). Kitab maulidnya dinamakan al-Mawarid al-Haniyah Fi Maulid Khair al-Bariyyah.
9. Al-Hafiz Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan Ibn ad-Diba’i, beliau dilahirkan pada bulan Muharram 866H dan meninggal dunia pada hari Jum’at, 12 Rajab 944H. Beliau menyusun kitab maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia Maulid ad-Daiba’i. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar serta ditakhrijkan haditsnya oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
10. Al-’Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitsami (wafat tahun 974H). Beliau merupakan mufti Madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarramah. Beliau telah mengarang kitab maulid yang dinamakan Itmam an-Ni’mah ‘Ala al-’Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu lagi maulid yang ringkas, yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama an-Ni’mat al-Kubra ‘Ala al’Alam Fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Asy-Syeikh Ibrahim al-Bajuri pula telah mensyarahkannya dalam bentuk hasyiah yang dinamakan Tuhfah al-Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.”
11. Al-’Allamah al-Faqih asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad as-Sarbini al-Khatib (wafat tahun 977 H). Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman, dengan tulisan yang kecil tetapi boleh dibaca.
12. Al-’Allamah al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih asy-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan al-Harawi, yang terkenal dengan al-Mula Ali al-Qari (wafat tahun 1014 H) yang mensyarahkan kitab al-Misykat. Beliau telah mengarang maulid dengan judul al-Maulid ar-Rawi Fi al-Maulidi an-Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi komentar oleh Prof. Dr. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
13. Al-’Allamah al-Muhaddis al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim al-Barzanji, Mufti Madzhab Syafi’i di Madinah al-Munawarah. Beliau merupakan penyusun maulid yang termasyhur yang digelar Maulid al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan nama asli kitab tersebut ialah Iqd al-Jauhar Fi Maulid an-Nabiy al-Azhar.
14. Al-’Allamah Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad al-’Adawi yang terkenal dengan ad-Dardiri (wafat tahun 1201H). Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat hasyiah yang luas dari Syeikh al-Islam di Mesir, al-Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri (wafat tahun 1277 H)
15. Al-Imam al-’Arif Billah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid asy-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani (wafat tahun 1345 H). Maulidnya berjudul al-Yumnu Wa al-Is’ad Bi Maulid Khar al-’Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345H.
16. Al-’Allamah al-Muhaqqiq asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani (wafat tahun 1350 H). Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir al-Nazm al-Badi’ Fi Maulid al-Syafi’, diterbitkan di Beirut.
17. Al-Quthb al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi mengarang Kitab Maulid yang diberi judul Simthu ad-Durar atau tenar juga disebut sebagai Maulid al-Habsyi.
18. Al-Musnid al-Hafidz al-‘Alim al-‘Allamah ad-Da’i Ilallah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz BSA menyusun Kitab Maulid yang diberi judul adh-Dhiya’ al-Lami’ Bi Dzikr Maulid an-Nabiy asy-Syafi’ yang seringkali kita dengar di Majelis-majelis Taklim besar di Indonesia khususnya.

7 (Tujuh) Satria Nusantara Jaya

Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.
Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :
1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.
Dari kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa segala sesuatunya memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat ditolak. Sementara berkaitan dengan bencana terakhir yang terjadi, yaitu meletusnya Gunung Merapi yang kemudian disusul dengan Gempa Yogya dan Pangandaran, serta Semburan Lumpur Panas Sidoarjo yang tak kunjung berhenti merupakan realita ucapan “Sabda Palon” kepada Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga. Berikut ini saya paparkan Ramalan Sabdo Palon :
1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon
sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha (maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.
5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Keterangan :
Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan hari Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke arah Barat Daya (serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi dari “Siaga” menjadi “Awas”). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di atas, maka dengan keluarnya lahar Merapi ke arah Barat Daya menandakan bahwa Sabdo Palon sudah datang kembali. 500 tahun setelah berakhirnya Majapahit (Th 1500 an) adalah sekarang ini di tahun 2000 an.
Sampai dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2 orang meninggal. Sebelum letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan bahwa Merapi akan meletus dalam waktu 10 hari, ternyata tidak terbukti.
Karena ucapan yang mendahului kehendak Allah (ndisiki kerso) yang tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar oleh seorang “raja”, maka Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran) yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua tidak tersadar bahwa Merapi sebenarnya tetap meletus, namun berpindah tempat di Sidoarjo dengan semburan lumpur panasnya yang beracun. Semburan lumpur panas ini merupakan peristiwa yang sangat luar biasa yang dampaknya akan banyak menyedot dana dan memakan korban jiwa. Secara penglihatan spiritual, teknologi apapun dan kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak akan mampu menghentikan semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan berpotensi memicu terjadinya chaos (goro-goro) yang pada gilirannya akan dapat menjatuhkan pemerintah. Sementara bencana-bencana ini akan terus berlanjut. Hanya seorang Waliyullah (kekasih Allah) saja yang dapat meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti ini selalu saja sangat tersembunyi.
Semua peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa gaib, karena semua terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Azza wa Jalla. Sehingga tidak dapat dilawan dengan kesombongan akal pikiran.
Solusi atau jawaban tentang apa yang terjadi pada bangsa ini sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait Ramalan Joyoboyo, R.Ng. Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu saja tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah : JOGLOSEMAR. Joglo telah runtuh, yang ada tinggal Semar.
Inilah hakekat kondisi negara saat ini. Sebagai panduan perlu saya garis bawahi kata kunci yang ada di dalam bait-bait karya leluhur kita, yaitu :
Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI (Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar kepemimpinannya selamat.

Jejak Bangsa Aceh di Paraguay

Agaknya kegemaran 'bangsa' Aceh 'menaklukkan' dunia sepertinya bukan isapan jempol belaka. Di Paraguay, misalnya, anda bisa melihat langsung suku Aceh ini beranak pinak di benua Amerika Latin itu.

Tentu saja fakta ini mengejutkan. Soalnya, selama ini tidak ada informasi tentang adanya komunitas 'bangsa' Aceh, tinggal dan menetap berjarak ribuan mil dari tanoh Aceh.
Publik hanya tahu komunitas suku Aceh, berdiam di sejumlah negara bagian di Malaysia. Saking familiarnya, ada sejumlah daerah yang diberi nama sama seperti di Aceh. Misalnya Kampung Keudah dan lainnya. Kecuali itu, tidak sedikit orang Aceh yang lama sekali menjadi warga negara Malaysia, menjadi pejabat tinggi pula di negeri jiran itu.

Hubungan suku Aceh dan Malaysia ibarat sebuah keluarga. Benar saja, saat gempa dan tsunami melumat bumi Aceh, Pemerintah Malaysia, membuka "pintu" bagi warga Aceh tinggal menetap di Malaysia, walau hanya dengan "cap jempol", tanpa mengantongi identitas yang lazim.

Selain Malaysia, komunitas 'bangsa' Aceh banyak menetap dan menjadi warga negara Swedia. Di negeri ini, T. Hasan Di Tiro, tokoh yang paling dicari semasa rezim represif berkuasa, mengibarkan perlawanan hampir 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia.

Kini cucu pejuang nasional T. Chik Di Tiro itu mulai sepuh termakan usia. Ia tinggal di sebuah flat di sebuah kawasan yang dihuni oleh 'bangsa' Aceh di sana.

Bagaimana di Paraguay? Andai saja Gubernur Pemerintahan Aceh yang baru, Irwandi Yusuf tidak melawat ke negeri itu, maka tidak diketahui kalau di Paraguay ada suku Aceh yang berdomisili di negara itu.
Boleh dibilang, Senin (19/7) hari bersejarah. Pada hari itu, Gubernur Irwandi Yusuf bertemu dengan pimpinan suku Aceh Paraguay di Kantor Kementerian Luar Negeri Paraguay.


Rupanya, pertemuan itu diakui Dr. Augusto Fagel Pedrozo, ahli antropologi budaya yang juga Presiden Del Indi, telah lama diimpikannya saat bersama rekan lainnya melakukan penelitian mendalam tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay.

"Selama ini kami telah berupaya untuk mempertemukan suku Aceh di Paraguay dengan Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam," ungkap Augusto Fagel.

Untuk memujudkan pertemuan dibuat skenario. Langkah awal yang ditempuh menyampaikan niat itu kepada pihak Kementerian Luar Negeri Paraguay. Kemudian rencana itu disampaikan kepada Kepala Perwakilan Pemerintahan RI di Argentina.

Momen Pagelaran Seni Budaya Aceh di Asuncion, semakin mendekatkan impian Dr Augusto Figer cs. "Kami menilai langkah untuk mempertemukan dua kelompok bersaudara sangat tepat seperti yang terjadi hari ini," kata Dr. Augusto dalam bahasa Spanyol yang didampingi Wakil Menlu Paraguay Bidang Politik Bilateral, Ceferino Valdez Peralta dan Direktur Asia dan Afrika, Gustavo Lopez Bello.

Sementara itu Gubernur NAD, Irwandi Yusuf dalam acara pertemuan itu mengatakan, "dengan senang hati kami telah bertemu dengan pimpinan suku Aceh di Paraguay menyambut antusiasme tinggi bertemu saudaranya di negeri jauh. "Tapi, Irwandi tadinya tidak mengetahui tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay. "Kami baru diberi tahu oleh pihak KBRI Argentina menjelang keberangkatan ke sini, ada suku Aceh di Paraguay," kata Irwandi Yusuf.

Gubernur di sela pertemuan tak lupa mengundang para pimpinan suku Aceh di Paraguay untuk datang ke Nanggroe Aceh Darussalam meninjau negeri asal, yang telah diting galkan dalam waktu yang sudah cukup lama.

Irwandi Yusuf berharap kepada tim peneliti yang telah melakukan pengkajian tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay untuk meneliti lebih jauh lagi tentang kesamaan-kesamaan budaya antara suku Aceh di sini dengan masyarakat Aceh di Sumatera.

"Pertemuan hari ini kami tidak merasa asing. Seolah-olah berada di kampung sendiri. Saya perhatikan sosok tubuh suku Aceh di sini banyak kesamaan dengan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam," sebut Gubernur Aceh ini.

Misalnya, dari segi dialeg bahasa, wanita suka memakai cincin dan aksesoris lainnya. Kalau boleh saya mengatakan pertemuan hari ini adalah pertemuan antara adik dan kakak yang sudah lama terpisah dari kampung halaman, katanya.

Gubernur NAD dalam pertemuan itu didampingi Kadis Kebudayaan Provinsi NAD, Drs. Adnan Majid, Dirjen Deplu RI Amerika dan Eropa Eddy Hariadhi serta Kepala Perwakilan RI untuk Argentina dan Paraguay, Sunten Z.Manurung.

Juru bicara suku Aceh, Paraguay Maria Luisa Duarte, mengakui suku Aceh di Paraguay berasal dari Aceh, Sumatera. Soal kapan persisnya dan kenapa menetap di Paraguay, kata Maria akan dilakukan penelitian lebih jauh lagi. "Pertemuan hari ini dengan pihak Pemerintah Nanggroe Aceh akan lebih terjalin hubungan yang lebih mendalam lagi," pintanya.

Setelah ini diharapkan ada tindaklanjut untuk lebih mempererat hubungan kedua komponen masyarakat Aceh ini. Maria menambahkan, "informasi tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam 2004 lalu selalu menjadi ingatan kami walaupun kami belum melihat langsung bagaimana dahsyatnya musibah yang terjadi kepada saudara-saudara kami di Aceh, Sumatera."

Sekretaris Tim Promosi Seni Budaya Aceh, Aidi Kamal melalui e-mailnya kepada Waspada dari Asuncion, Paraguay melaporkan, pimpinan suku Aceh di Paraguay yang hadir dalam pertemuan itu antara lain, Maria Luisa Duarte dan Alba Portillo Maximo dari Propinsi Central, Margarita Mbywangi, Antonio Pepagi dan Roberto Achepurangi dari Provinsi Canindeyu dan Ramona Takuarangi dari Provinsi Caazapa.

Aidi Kamal yang juga Staf Biro Keistimewaan Aceh Setda NAD menambahkan, suku Aceh di Paraguay sekarang berjumlah 1.300 orang yang tersebar di tiga provinsi di Paraguay, yaitu Provinsi Central, Provinsi Canindeyu dan Provinsi Caazapa. "Mereka sebagian besar berprofesi sebagai pedagang dan petani," kata Aidi Kamal.

Di akhir pertemuan, Gubernur NAD menyerahkan cenderamata berupa rencong kepada pimpinan suku Aceh di Paraguay yang diterima Maria Luisa Duarte. Sedangkan pimpinan suku Aceh menyerahkan cenderamata pada Gubernur NAD hasil kerajinan mereka berupa ikan yang terukir dari kayu.