Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Mayor Daan Mogot, Pahlawan Berumur 17 Tahun Yang Terlupakan


Mayor Elias Daan Mogot, 17 tahun, Mantan Direktur pertama Militer Akademi Tangerang (MAT)
JAKARTA, SACOM - Mungkin seluruh warga Jakarta ini pernah melewati Jalan Daan Mogot. Tapi tahukah Anda nama itu sesungguhnya diambil dari nama seorang pahlawan yang baru berusia 17 tahun?
Jalan Daan Mogot Jakarta Barat adalah jalan panjang yang mengkoneksikan antara Provinsi DKI Jakarta dengan Tangerang, Banten. Jalan ini memiliki sejarah yang unik dan berbau perjuangan kemerdekaan.
Diambil dari nama Elias Daniel Mogot, atau dikenal sebagai Daan Mogot, pemuda “kawanua” Manado.
Kalau Anda mengenal Irjen Gordon Mogot atau Kolonel Alex Kawilarang (Mantan Panglima Kodam Siliwangi), nah keduanya masih bertalian saudara dengan tokoh perjuangan kita ini.
Kisah Daan Mogot sesingkat umurnya. Namun meski singkat, tapi kisah hidupnya memiliki peranan yang sangat penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mulai bergabung dalam dunia ketentaraan di usia sangat belia yakni 14 tahun, atau tepatnya pada tahun 1942. Ia masuk PETA (Pembela Tanah Air), tentara binaan di era penjajahan Jepang. Tentu saja usianya tidak memenuhi kualifikasi syarat 18 tahun.
Tapi dikabarkan karena perawakannya besar dan memiliki sifat kedewasaan pihak Jepang percaya saja bahwa Daan Mogot sudah berusia 18 tahun.
Daan Mogot pernah berperang di Bali. Di situlah ia berkenalan dan akrab dengan Kemal Idris dan Zulkifli Lubis. Daan Mogot juga pernah dipercayakan sebagai instruktur PETA wilayah Bali dan Jakarta.
Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang pun keok dari Sekutu. Dua hari kemudian Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.
Tahun 1945 atau hanya dalam waktu dua tahun saja, pangkatn Daan Mogot sudah Mayor dan ditunjuk sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR, atau cikal-bakal TNI-red) Jakarta.
Dalam usia belia itu ia kemudian juga mendapatkan kepercayaan menjadi Direktur akademi militer awal-awal di Indonesia yang berkedudukan di Tangerang, Akademi Militer Tangerang (MAT) namanya.
Ide pendirian MAT memang salah satunya datang dari Daan Mogot. Gagasan tersebut diterima oleh pimpinan besar militer pusat Indonesia. Kemudian diangkatlah Daan Mogot menjadi Direktur MAT pertama pada tanggal 18 November 1945.
Sayangnya jabatannya itu adalah jabatannya yang tertinggi sekaligus terakhir dalam kisah karir militer anak muda belia tersebut. Pada tanggal 25 Januari 1946, ia dinyatakan gugur dalam pertempuran sengit di Hutan Lengkong Tangerang, Banten.
Begini kisahnya, pada tanggal 24 Januari 1946, Mayor Daan Mogot mendapatkan kabar kalau Belanda segera akan menuju ke Tangerang untuk melucuti persenjataan tentara Jepang di Lengkong.
Tentu saja rencana Belanda itu jika berhasil akan menodai kedaulatan Indonesia, sekaligus mengancam keberadaan MAT dan Resimen IV TKR Tangerang.
Untuk itu Komandan Resimen IV Tangerang, Letkol Singgih, memanggil Mayor Daan Mogot untuk membantu memperkuat Resimen tersebut.
Pada tanggal 25 Januari 1946 berangkatlah pasukan yang terdiri dari 70 orang taruna siswa MAT pimpinan Mayor Daan Mogot ke markas tentara Jepang di Lengkong. Salah satu taruna diketahui adalah anak kandung H. Agus Salim, tokoh perjuangan bangsa.
Maksudnya adalah untuk mendahului tentara Belanda melucuti pasukan Jepang di Tangerang. Jadi harus Indonesia yang melakukannya. Ini demi kedaulatan bangsa yang baru saja merdeka.
Sampailah pasukan muda itu di markas tentara Jepang. Dikabarkan Tentara Jepang sebenarnya sangat hormat dan salut dengan keberanian tentara-tentara “taruna” yang datang ke markas mereka.
Dipersilahkanlah masuk ke markas Mayor Daan Mogot yang didampingi Mayor Wibowo dan salah satu taruna oleh Kapten Abe pimpinan di sana. Untuk sementara pasukan taruna di luar dipimpin oleh Letnan Soebianto
Pada tanggal 30 November
1945 dilakukan perundingan
antara Indonesia dengan
delegasi Sekutu. Indonesia
diwakili oleh Wakil Menteri Luar
Negeri Agoes Salim yang
didampingi oleh dua dua
perwira TKR yaitu Mayor
Wibowo dan Mayor Oetarjo.
Sedangkan pihak Sekutu
(Inggris), Brigadir ICA Lauder
didampingi oleh Letkol
Vanderpost (Afrika Selatan) dan
Mayor West.
Pertemuan yang merupakan
Meeting of Minds,
menghasilkan ketetapan
tentang pengambil-alihan
primary objectives tentara
Sekutu oleh TKR yang meliputi
perlucutan senjata dan
pemulangan 35 ribu tentara
Jepang yang masih di
Indonesia, pembebasan dan
pemulangan Allied Prisoners of
War and Internees (APWI) yang
kebanyakan terdiri dari lelaki
tua, wanita, dan anak-anak
berkebangsaan Belanda dan
Inggris sebanyak 36 ribu.
Berdasarkan kesepakatan 30
November 1945, tentara Sekutu
tidak lagi memiliki alasan untuk
memasuki wilayah kekuasaan
Indonesia maupun
menggunakan tentara Jepang
untuk memerangi Indonesia
dengan dalih mempertahankan
status quo pra- Proklamasi.
Perintah itu disampaikan oleh
pihak Sekutu kepada Panglima
Tentara Jepang Letjen Nagano.
Sekitar tanggal 5 Desember
1945 ditegaskan oleh Kolonel
Yashimoto dari pimpinan
tentara Jepang kepada
pimpinan Kantor Penghubung
TKR di Jakarta cq Mayor Oetarjo
bahwa para komandan tentara
Jepang setempat sesuai
dengan keputusan pimpinan
tentara Sekutu, telah
diperintahkan tunduk kepada
para komandan TKR setempat
yang bertanggung jawab atas
pemulangan mereka.
Namun pada tanggal 24
Januari 1946, Daan Mogot
mendengar pasukan NICA
Belanda sudah menduduki
Parung. Dan bisa dipastikan
mereka akan melakukan
gerakan merebut senjata
tentara Jepang di depot
Lengkong.
Ini sangat berbahaya karena
akan mengancam kedudukan
Resimen IV Tangerang. Untuk
mendahului jangan sampai
senjata Jepang jatuh ke tangan
sekutu, berangkatlah pasukan
TKR dibawah pimpinan Mayor
Daan Mogot dengan
berkekuatan 70 taruna Militer
Akademi Tangerang (MAT) dan
delapan tentara Gurkha pada
tanggal 25 Januari 1946 lewat
tengah hari sekitar pukul
14.00. Ikut pula bersamanya
beberapa orang perwira
seperti Mayor Wibowo, Letnan
Soebianto Djojohadikoesoemo
dan Letnan Soetopo.
Dengan mengendarai tiga truk
dan satu jip militer hasil
rampasan dari Inggris, para
prajurit berangkat dan sampai
di markas Jepang Lengkong
pukul 16.00 WIB. Di depan
pintu gerbang, truk
diberhentikan dan pasukan
TKR turun. Mereka memasuki
markas tentara Jepang dengan
Mayor Daan Mogot, Mayor
Wibowo, dan taruna Alex
Sajoeti (fasih bahasa Jepang)
berjalan di depan. Pasukan
taruna diserahkan kepada
Letnan Soebianto dan Letnan
Soetopo untuk menunggu di
luar.
Kapten Abe, dari pihak Jepang,
menerima ketiganya di dalam
markas. Mendengar penjelasan
maksud kedatangan mereka,
Kapten Abe meminta waktu
untuk menghubungi atasannya
di Jakarta. Ia beralasan bahwa
ia belum mendapat perintah
atasannya tentang perlucutan
senjata. Saat perundingan
berjalan, ternyata Lettu
Soebianto dan Lettu Soetopo
sudah mengerahkan para
taruna memasuki sejumlah
barak dan melucuti senjata
yang ada di sana dengan
kerelaan dari anak buah Kapten
Abe. 40 orang Jepang telah
terkumpulkan di lapangan.
Namun entah mengapa, tiba-
tiba terdengar bunyi tembakan
yang tidak diketahui dari mana
asalnya. Disusul tembakan dari
tiga pos penjagaan
bersenjatakan mitraliur yang
diarahkan kepada pasukan
taruna yang terjebak. Tentara
Jepang yang berbaris di
lapangan ikut pula memberikan
perlawanan dengan merebut
kembali sebagian senjata
mereka yang belum sempat
dimuat ke dalam truk milik TKR.
Terjadilah pertempuran yang
tak seimbang, apalagi
pengalaman tempur dan
persenjataan para Taruna tak
sebanding dsengan pihak
Jepang. Taruna MAT menjadi
sasaran empuk, diterjang oleh
senapan mesin, lemparan
granat serta perkelahian
sangkur seorang lawan
seorang.
Ketika mendengar pecahnya
pertempuran, Mayor Daan
Mogot segera berlari keluar
meninggalkan meja
perundingan dan berupaya
menghentikan pertempuran
namun upaya itu tidak berhasil.
Mayor Daan Mogot bersama
beberapa pasukannya
menyingkir meninggalkan
asrama tentara Jepang,
memasuki hutan karet yang
dikenal sebagai hutan
Lengkong.
Namun Taruna MAT yang
berhasil lolos menyelamatkan
diri di antara pohon-pohon
karet mengalami kesulitan
menggunakan karaben Terni
yang dimiliki. Sering peluru
yang dimasukkan ke kamar-
kamarnya tidak pas karena
ukuran berbeda atau sering
macet. Pertempuran ini tidak
berlangsung lama, karena
pasukan itu bertempur di
dalam perbentengan Jepang
dengan persenjataan dan
persediaan peluru yang amat
terbatas.
Dalam pertempuran, Mayor
Daan Mogot terkena peluru
pada paha kanan dan dada.
Tapi ketika melihat anak
buahnya yang memegang
senjata mesin mati tertembak,
ia kemudian mengambil
senapan mesin tersebut dan
menembaki lawan sampai ia
sendiri dihujani peluru tentara
Jepang dari berbagai penjuru.
Monumen Lengkong
Dari pertempuran di hutan
Lengkong, 33 taruna dan 3
perwira gugur serta 10 taruna
luka berat. Mayor Wibowo
bersama 20 taruna ditawan,
hanya 3 taruna, yaitu Soedarno,
Menod, Oesman Sjarief berhasil
meloloskan diri dan tiba di
Markas Komando Resimen TKR
Tangerang pada pagi hari.
Pasukan Jepang selanjutnya
bertindak penuh kebuasan.
Mereka yang telah luka terkena
peluru dan masih hidup
dihabisi dengan tusukan
bayonet. Ada yang tertangkap
sesudah keluar dari tempat
perlindungan, lalu diserahkan
kepada Kempetai Bogor.
Beberapa orang yang masih
hidup (walau mereka dalam
keadaan terluka) dipaksa untuk
menggali kubur bagi teman-
temannya.
Tanggal 29 Januari 1946 di
Tangerang diselenggarakan
pemakaman kembali 36
jenasah yang gugur dalam
peristiwa Lengkong disusul
seorang taruna Soekardi yang
luka berat namun akhirnya
meninggal di RS Tangerang.
Mereka dikuburkan di dekat
penjara anak-anak Tangerang.
Hadir pula pada upacara
tersebut Perdana Menteri RI
Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI
Haji Agoes Salim yang
puteranya bernama Sjewket
Salim ikut gugur dalam
peristiwa tersebut beserta para
anggota keluarga taruna yang
gugur. Dan bagi R.Margono
Djojohadikusumo, pendiri BNI
1946, ia kehilangan dua putra
terbaiknya yaitu Letnan
Soebianto Djojohadikoesoemo
dan Taruna R.M. Soejono
Djojohadikoesoemo (keduanya
paman dari Prabowo Subianto).
Untuk mengenang jasa-
jasanya, pemerintah Indonesia
kemudian mengangkat Daan
Mogot sebagai pahlawan
nasional. Namanya juga
diabadikan menjadi nama Jalan
yang menghubungkan Jakarta
dengan Tangerang. Jalan Ini
memiliki sahabat setia yaitu Kali
Mookervaat.
Daan Mogot tutup usia pada
tanggal 25 Januari tahun 1946.
Hanya sempat merasakan
sebulan hidup di usia 17 tahun
atau dikenal sebagai saat
sweet seventeen saat ini.
Mungkin bagi anak muda akan
diperingati sebagai masa yang
indah, namun bagi Hadjari
Singgih, pacar Mayor Daan
Mogot, adalah sebuah
pengorbanan yang sangat
berarti bagi negeri ini. Kado
yang terindah darinya adalah
dengan memotong rambutnya
yang panjang mencapai
pinggang dan menanam
rambut itu bersama jenasah
Daan Mogot.
Kini di antara kemewahan
kawasan Serpong, Tangerang
Selatan, "terselip" sebuah
sejarah bernilai tinggi bagi
Republik Indonesia. Sebuah
rumah tua, bekas markas
serdadu Jepang di Desa
Lengkong, menjadi saksi
"Pertempuran Lengkong." Di
sebelah kanan rumah itu
berdiri sebuah monument yang
dibangun sejak tahun 1993.
Terukir sejumlah nama taruna
dan perwira yang gugur dalam
peristiwa heroik yang itu.
Namun yang patut disayangkan
adanya perbedaan antara
museum Lengkong dengan
obyek-obyek sejarah lainnya di
Tanah Air ini.
Markas tentara Jepang di Desa
Lengkong (sumber gambar :
www.glowupmagazine.com)
Museum dan Monumen
Lengkong bukanlah salah satu
sarana obyek wisata yang bisa
dikunjungi oleh masyarakat
luas. Pemanfaatannya hingga
saat ini hanya sekedar tempat
peringatan peristiwa
pertempuran. Sehingga banyak
dari masyarakat sekitar yang
tidak tahu akan keberadaan
bangunan historis tersebut.
Apalagi seharusnya di museum
terpampang foto-foto
perjuangan para taruna militer
di Indonesia beserta
akademinya, namun sayang
sekali foto-foto bersejarah
tersebut kini berada di
Akademi Militer Tangerang dan
akan dipasang kembali tiap
tanggal 25 Januari dalam
upacara peringatan peristiwa
Pertempuran Lengkong.
Kisah kepahlawanan Daan
Mogot menjadi tamparan bagi
kita, saat usia muda ia telah
berbakti untuk negerinya.
Seharusnya kita terus
kabarkan, agar para pemuda
tahu bahwa sejarah negeri ini
bermula dari kaum pemuda.
Agar para orang pemimpin
negeri ini tak memandang
remeh pada jeritan kaum
muda. Simak dan renungkan,
apa yang terukir di pintu
gerbang Taman Makam
Pahlawan Taruna, Tangerang :
Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yg mesti
musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami telah
sempurna
(Sebuah sajak Henriette Rolang
Holst ditemukan di saku Lettu
Soebianto Djojohadikusumo.
Sajak itu tertulis dalam bahasa
Belanda dan diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia oleh
Rosihan Anwar).

Biografi RMP Sosro Kartono

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M. Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Semenjak kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai kemampuan membaca masa depan.
Kakak dari ibu kita Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya.
Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan. Selama perang dunia ke I, beliau bekerja sebagai wartawan perang pada Koran New York Herald dan New York Herald Tribune. Kemudian, setelah perang usai, beliau menjadi penerjemah di Wina, tapi beliau pindah lagi, bekerja sebagai ahli bahasa pada kedutaan Perancis di Den Haag, dan akhirnya beliau hijrah ke Jenewa. Sebagai sarjana yang menguasai 26 bahasa, beliau bekerja sebagai penerjemah untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa.
Sampai suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur ± 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.
Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.
Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.
Beliau kecewa, karena di sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah ilham untuk kembali saja ke tanah airnya. Di tanah airnyalah beliau harus mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada rakyat Indonesia. Sesampainya di indonesia, beliau bertempat tinggal di Bandung, beliau menjadi sang penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani maupun rohani.
Di Bandung, di Dar-Oes-Salam-lah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat. Beliau terkenal sebagai seorang paranormal yang cendekiawan di mana saja, bahkan beliau pernah mendapat undangan Sultan Sumatera, Langkat. Di daerah sanalah beliau mulai menampakkan kepribadiannya secara pasti, karena di sebuah kerajaan beliau masih menunjukkan tradisi Jawanya, kerendah-hatiannya, kesederhanaannya, tidak mau menikmati kemewahan, bahkan dalam beberapa hari di tiap harinya beliau hanya makan dua buah cabe atau sebuah pisang.
Beliau tidak menikah, tidak punya murid dan wakil.
Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram.

Kebijakan Perennial

An Atlantis in the Indian Ocean (Review of Stephen Oppenheimer's Eden in the East)
Koenraad Elst

One of the many insulting epithets thrown at AIT disbelievers is that they are no better than "Atlantis freaks". Actually, this is not entirely untrue. Some AIT skeptics who have applied their minds to reconstructing ancient history, have indeed thought of centres of human habitation in locations now well below sea-level. When Proto-Indo-European was spoken, the sea level was still recovering from the low point it had reached during the Ice Age, about 100 metres lower than the present level. It was in the period of roughly twelve to seven thousand years ago that the icecaps melted and replenished the seas, so that numerous low-lying villages had to be abandoned.

After all, it is a safe bet that more than half of mankind lived in the zone of less than 100 m above sea level. In the context of the present debate on global warming, it is said that a rise in sea level of just one metre would be an immense catastrophe for countries like Bangla Desh or the Netherlands. The Maledives would completely disappear with a rise of only a few metres. But more importantly, most big population centres today are located just above sea level: Tokyo, Shanghai, Kolkata, Mumbai, London, New York, Los Angeles etc. If the sea level would rise 100 m, most population centres including entire countries would become a sunken continent, a very real Atlantis. Consequently, there is nothing far-fetched in assuming the existence of population centres and cultures, 10 or 15 thousand years ago, in what are now submarine locations on the continental shelf outside our coastlines.

In a recent book, Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia (Phoenix paperback, London 1999 (1998)), Stephen Oppenheimer has focused on one such part of the continental shelf: the region between Malaysia, Sumatra, Java, Borneo, Thailand, Vietnam, China and Taiwan, which was largely inhabitable during the Ice Age. Thinking that this was then the most advanced centre of civilization, he calls it Eden, the Biblical name of Paradise (from Sumerian edin, "alluvial plain"), because West-Asian sources including the Bible do locate the origin of mankind or at least of civilization in the East. In some cases, as in Sumerian references, this "East" is clearly the pre-Harappan and Harappan culture, but even more easterly countries seem to be involved.

Oppenheimer is a medical doctor who has lived in Southeast Asia for decades. He is clearly influenced by Marxism, e.g. where he dismisses religion as a means to "control other people's labour", with explicit reference to Karl Marx's Das Kapital (p.483). His book is based on solid scientific research (genetic, anthropological, linguistic and archaeological), and is in that respect very different from the numerous Atlantis books which draw on "revelations" and "channeling".
The most airy type of evidence, in its massiveness nonetheless quite compelling, is comparative mythology: numerous cultures, and especialy those in the Asia-Pacific zone, have highly parallel myths of one or more floods. These are not opaque allusions to Freudian events in the subconscious but plainly historical references to the catastrophic moments in the otherwise long-drawn-out rise of the sea level after the Ice Age. For, indeed, this rise was not a continuous process but took place with occasional spurts, wiping out entire tribes living near the coast. The last such sudden rise took place ca. 5500 BC, after which the sea level fell back a few metres to the present level.

According to Oppenheimer, the Southeast-Asian Atlantis, provisionally called Sundaland because it now is the Sunda shelf, was the world leader in the Neolithic Revolution (start of agriculture), using stones for grinding wild grains as early as 24,000 ago, more than ten thousand years older than in Egypt or Palestine. Before and especially during the gradual flooding of their lowland, the Sundalanders spread out to neighbouring lands: the Asian mainland including China, India and Mesopotamia, and the island world from Madagascar to the Philippines and New Guinea, whence they later colonized Polynesia as far as Easter Island, Hawaii and New Zealand.

Oppenheimer aligns with the archaeologists against the linguists in the controversy about the homeland of the Austronesian language family (Malay, Tagalog, Maori, Malgasy etc.): he locates it in Sundaland and its upper regions which now make up the coasts of the Southeast-Asian countries, whereas most linguists maintain that southern China was the land of origin. Part of the argument concerns chronology: Oppenheimer proposes a higher chronology than Peter Bellwood and other out-of-China theorists. My experience with IE studies makes me favour a higher chronology, for new findings (e.g. that "pre-IE" peoples like the Pelasgians and the Etruscans, not to speak of the Harappans, turn out to have been earlier "Aryan" settlers) have consistently been pushing the date of the fragmentation of PIE back into the past.

Another reason for not relying too much on the theories of the linguists is that Austronesian linguistics is a very demanding field, comprising the study of hundreds of small languages most of which have no literature, so the number of genuine experts is far smaller than in the case of IE, and even in the latter case linguists are nowhere near a consensus on the homeland question. Linguistic evidence is very soft evidence, and usually the data admit of more than one historical reconstruction, so I don't think there is any compelling evidence against a Sundaland homeland hypothesis. Conversely, archaeological and genetic evidence in favour of the spread of the Austronesian-speaking populations from Sundaland seems to be sufficient.

It is quite certain that some of these Austronesians must have landed in India, some on their way to Madagascar, some to stay and mix with the natives. Hence the presence of some Austronesian words in Indian languages of all families, most prominently ayi/bayi, "mother" (as in the Marathi girls' names Tarabai, Lakshmi-bai etc.), or words for "bamboo", "fruit", "honey". More spectacularly, linguists like Isidore Dyen have discerned a considerable common vocabulary in the core lexicon of Austronesian and Indo-European, including pronouns, numerals (e.g. Malay dva, "two") and terms for the elements. Oppenheimer doesn't go into this question, but diehard invasionists might use his findings to suggest an Aryan invasion into India not from the northwest, but from the southeast.

But he does mention the legend of Manu Vaivasvata saving his company from the flood and sailing up the rivers of India to settle high and dry in Saptasindhu. Clearly, the origins of Vedic civilization are related to the post-Glacial flood, probably the single biggest migration trigger in human history.

The Tamils have a tradition that their poets' academy or Sangam existed for ten thousand years, and that its seat (along with the entire Tamil capital) had to be moved thrice because of the rising sea level. They also believe that their country once stretched far to the south, including Sri Lanka and the Maledives, a lost Tamil continent called Kumarikhandam. If these legends turn out to match the geological evidence quite neatly, our academics would be wrong to dismiss them as figments of the imagination. But the Indian or Kumarikhandam counterpart to Oppenheimer's book on Sundaland has yet to be written. This indeed is probably the most important practical conclusion to be drawn from this book: extend India's history by thousands of years with the exploration of now-submarine population centres.

Another language family originating in some part of Sundaland was Austro-Asiatic, which includes the Mon-Khmer languages in Indochina (its demographic point of gravity being Vietnam) but also Nicobarese and the Munda languages of Chotanagpur, at one time possibly spoken throughout the Ganga basin. It is the Mundas who brought rice cultivation from Southeast Asia to the Ganga basin, whence it reached the Indus Valley towards the end of the Harappan age (ca. 2300 BC). In this connection, it is worth noting that Oppenheimer confirms that "barley cultivation was developed in the Indus Valley" (p.19), barley being the favourite crop of the Vedic Aryans (yava). Unlike the Mundas who brought rice cultivation from eastern India and ultimately from Southeast Asia to northwestern India, and unlike the Indo-European Kurgan people whose invasion into Europe can be followed by means of traces of the crops they imported (esp. millet), the Vedic Aryans simply used the native produce. This doesn't prove but certainly supports the suspicion that the Aryans were native to the Indus Valley.

Concerning the political polemic, the usual claim that the caste system with its sharp discrimination was instituted by the invading Aryans to entrench their supremacy is countered by the finding that even the most isolated tribes on India's hills turn out to have strict endogamy rules, often guarded with more severe punishments for inter-tribal love affairs than exist in Sanskritic-Hindu society. Here, Oppenheimer confirms that in the Austro-Asiatic and Austrone-sian tribal societies, where many of India's tribals originate, inequality is deeply entrenched: "Yet the class structure which cripples Britain more than any other European state, is as nothing compared with the stratified hierarchies in Austronesian traditional societies from Madagascar through Bali to Samoa. (...) This consciousness of rank is thus clearly not something that was only picked up by Austronesian societies from later Indian influence." (p.484) Social hierarchy is not a racialist imposition by the Aryans, but a near-universal phenomenon especially pronounced among Indo-Pacific societies including most non-Aryan populations.

Stephen Oppenheimer makes a very detailed and very strong case for the importance of the culture of sunken Sundaland for the later cultures in the wide surroundings. India too certainly benefited of certain achievements imported from there. What is yet missing is a similar study for the equally important and likewise neglected culture of the sunken lands outside India's coast.

© Dr. Koenraad Elst, 2002.

biografi Penulis novel arkhytirema


Dicky Zainal Arifin atau lebih akrab dipanggil Kang Dicky, lahir di Bandung pada tanggal 22 Maret 1968. Suami dari Risti Aristia Finia dan ayah dari Pertala Maruta Mandraguna sera Reksa Gumarang Kencana ini adalah Guru Utama juga pendiri Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman Indonesia, yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia.
Tempat prakteknya dipenuhi ratusan orang setiap harinya untuk konsultasi atau berobat berbagai penyakit. Semua dilayani tanpa dipungut biaya. Kang Dicky telah menghasilkan 21 penemuan teknologi, diantaranya BRAIN ACTIVATOR atau alat pengaktif sel otak, HYDRINNTANA atau Bahan Bakar Air yang berhasil digunakan sebagai pengganti Bahan Bakar Fosil, Rekayasa Genetik Mikroba sebagai pupuk organik cair, racikan obat alami untuk berbagai macam penyakit, dsb. CV Hikmatul Iman adalah perusahaan yang dipimpinnya hingga saat ini.
Pengisi acara di beberapa stasiun televisi seperti Mutiara Subuh di ANTV (2002-2003), Sentuhan Qalbu di Trans TV, Dunia Lain di Trans TV sebagai Narasumber, Masih Dunia Lain di Trans7 sebagai Ahli Metafisika yang kemudian mengundurkan diri di episode 19 karena tidak mau ikut merekayasa, Saung Kuliner di ANTV Jawa Barat sebagai ahli gizi. Membuat dan membimbing acara pendidikan PRODIGY, yang mendapat juara pertama KPID JABAR AWARD kartegori talkshow. Prodigy adalah sekolah yang didirikannya tahun 2007.
Penulis buku Tenaga Dalam dan Tenaga Metafisika Sesuai Syariat Islam, Sehat dengan Olah Nafas, Energi dalam Perspektif Telaah sebagai Upaya Pendekatan menurut Ajaran Islam, Manfaat Tenaga Dalam dan Tenaga Metafisika bagi Kehidupan Kita, Belajar Mudah Khusyu dalam Shalat, Energi Tubuh Manusia. Mahir memainkan alat musik dan mengeluarkan album lagu rohani DOA.
Memiliki Panti Rehabilitasi Narkoba Rumah Terapi Hikmatul Iman (RUTE). Metode detoksifikasinya diadopsi Agensi Anti Dadah Kebangsaan Malaysia (AADK) karena sangat efektif, murah, tanpa obat, dan membuat penagih berhenti mengkonsumsi narkoba dengan cepat.
Membuat TRILOGI ARKHYTIREMA ini karena sangat percaya, bahwa masa lalu tidak se-primitif yang umum sangka. Banyak sekali bukti-bukti menunjukkan bahwa peradaban masa lalu sangat modern.
sumber : arkhytirema.com