Tampilkan postingan dengan label Gunung Padang. Tampilkan semua postingan

TIM RISET TTRM MEMBUKA TANGGA ASLI UTARA GUNUNG PADANG






Situs Gunung Padang merupakan bangunan punden berundak peninggalan jaman prasejarah. Situs ini merupakan salah satu situs megalitik terbesar di Asia Tengga. Situs terletak di puncak bukit yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan perbukitan. Di sebelah tenggara terdapat Gunung Melati, di sebelah barat daya terdapat Pasir Empet dan Gunung Karuhun, di sebelah barat laut terdapat Pasir Pogor dan Pasir Gombong, dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Malang.

Ketinggian puncak situs sekitar 100 meter dari gerbang situs yang terletak di level parkir. Untuk menuju puncak Situs Gunung Padang terdapat 2 jalur naik yaitu melalui tangga utama (lama) yang memiliki 376 anak tangga dan tangga baru dengan lebih dari 500 anak tangga. Tangga utama cukup
curam (kemiringan sekitar 40 derajat) sedangkan tangga baru lebih landai dan nyaman untuk didaki.

Tangga utama terletak di sisi utara dari Situs Gunung Padang, terdiri dari batu columnar joint yang disusun cukup rapi meskipun ukurannya tidak terlalu homogen. Pada bulan Agustus 2014, Periset mencoba membuat mapping tangga utara berupa rekaman foto dan ukuran dari tiap anak tangga.Berikut contoh beberapa rekaman yang berhasil dibuat :




Banyak orang menganggap bahwa tangga utara situs Gunung Padang merupakan tangga asli, namun sebenarnya tangga tersebut baru dibuat secara bertahap mulai tahun 1970-an. Menurut penuturan bapak Nanang, juru pelihara Situs Gunung Padang yang lahir di sekitar situs, dahulu belum ada tangga permanen untuk menuju puncak situs. Bila ada peziarah yang ingin menuju puncak situs, mereka harus melalui jalan setapak yang terbuat dari tanah. Sehingga perjalalan menuju puncak situs menjadi cukup sulit terutama pada saat musim hujan.

Seiring dengan waktu, peziarah yang mengunjungi puncak situs semakin meningkat. Untuk membantu para peziarah menuju puncak, maka oleh masyarakat sekitar mulai dibuat tangga menuju ke atas situs. Tangga tersebut disusun secara tradisional dari batu-batu columnar joint yang
banyak berserakan di bawah situs. Oleh sebab itu, meskipun cukup rapi, namun tangga utara ini memiliki ukuran tinggi anak tangga yang bervariasi mulai dari beberapa cm hingga ada yang lebih dari 50 cm. Bentuknya pun tidak lurus, melainkan berbelok-belok, mengikuti jalan setapak yang
sudah ada terlebih dahulu.

DIMANA TANGGA ASLI ?
Pertanyaan yang timbul dari kondisi tersebut adalah : bila tangga utara bukan tangga asli, lalu yang dimana tangga yang asli ?




Pada foto tahun 2006 dan 2009 terlihat pada level parkir belum ada bangunan seperti sekarang. Selain itu, di bawah situs (antara puncak situs dengan level parkir) ada rekaman pohon besar yang pada foto 2013 pohon tersebut sudah tumbang. Yang tersisa tinggal bekas akar pohon.




Menurut penuturan beberapa orang dan dibuktikan oleh Tim riset : tangga asli terdiri dari 2 bagian : bagian atas dan bagian bawah. Tangga bagian atas sangat lebar, ukurannya sama dengan lebar teras-1. Tangga bagian atas
membentang dari teras-1 hingga ke posisi ex-pohon besar. Bekas-bekas tangga asli bagian atas masih ditemukan di beberapa singkapan di bawah teras-1.
Tangga asli bagian bawah ada 2 buah (kiri dan kanan), membentang dari sekitar posisi ex-pohon besar hingga ke persawahan jauh di bawah level parkir. Diperkirakan area sawah tersebutdahulunya merupakan sebuah telaga. Tangga bawah mengapit sumur di dekat gerbang situs. Beberapa singkapannya terlihat di bawah toilet umum pada level parkir.






Periset TTRM Ir Juniardi (ahli sipil dan Telemetri)

KOIN GUNUNG PADANG : HASIL KARYA MANUSIA BERUPA LOGAM DIHASILKAN MELALUI CETAKAN




Pada sekitar pukul 24.00 di antara tanggal 14 dan 15 September 2014 ditemukan sejenis koin di Situs Gunung Padang. Penemuan ini diperoleh melalui proses pengeboran menggunakan pipa berdiameter 5cm. Pengeboran dilakukan di Teras 5. Pada KEDALAMAN 11 meter diperoleh koin yang kemudian dilakukan analisis awal Oleh Tim Arkeologi (DR . Ali Akbar dkk)

Temuan tersebut merupakan artefak karena menunjukkan HASIL KARYA MANUSIA. Artefak dibuat dari LOGAM dan kini kondisinya telah mengalami proses oksidasi. Temuan berwarna hijau kecoklatan. Uji sederhana menggunakan magnet menunjukkan logam tersebut bukan besi. Temuan memiliki dua sisi, masing-masing berpermukaan datar. Diameter 170mm, tebal 1,5mm.

Sisi pertama tidak terlalu jelas menunjukkan gambar atau motif tertentu kecuali lingkaran di bagian dalam dengan jarak 3 mm dari pinggiran. Sisi kedua terdapat banyak motif atau gambar. Pada bagian pinggir atau tepian terdapat motif garis tegak menyambung dengan garis mendatar menyambung dengan garis tegak.

Motif seperti ini dalam khasanah arkeologi disebut motif gawangan (seperti gawang). Pada jarak 6,5mm dari bagian pinggiran terdapat lingkaran. Lingkaran dengan diameter 10,5mm tersebut setelah


diteliti lebih lanjut ternyata terdiri atas 84 lingkaran kecil.

Lingkaran-lingkaran kecil tersebut terletak berdampingan membentuk lingkaran. Masing-masing lingkaran kecil berukuran sama yakni 0,3 mm. Suatu ukuran yang maha kecil, sehingga untuk membuatnya diperlukan ketelitian, kesabaran, dan tingkat presisi yang super tinggi. Detail yang terdapat pada benda ini, ukurannya yang sangat kecil, dan konsistensi ukuran membawa pada kesimpulan sementara bahwa benda ini dihasilkan dengan teknik DICETAK.(ERik Rizki, sekretaris Timnas Riset Gunung Padang)

sumber : TTRM

APA SIH FUNGSI GUNUNG PADANG?

  Apakah fungsi Gunung Padang?
Mengisi malam minggu kita ada baiknya kita urun rembug. Dasar diskusinya : 1. Ada timbunan tanah (sengaja) untuk menutupi atap bangunan di teras 5. 2. Ditemukan material pasir piramida saat coring di bawah atap bangunan . 3. Ada ruang2 (lebih dari satu) dan sudah dipastikan selain lewat pemindaian dan saat coring 3. lapisan kebudayaan mirip machu pichu seperti gambar arsitektur yang mengubah luasan situs yang kita ketahui 4, ditemukan lapisan 2 oleh eskavasi arkeologi dike dalam 3 meter lebih di luar situs. 5. Ditemukannnya salah satu akses masuk yang akan disaksikan bersama nanti tergantung schedule waktu dari Pemprov Jabar. 6. Adanya mahkota dunia di teras 2 dengan adanya tubuh very high resistivity 7. Hasil pemindaian, bukanhanya 30 meter bawah permukaan saja bangunan itu ada, jauh kebawahnya yang tak terbayangkan diduga kuat masih bagian dari mega struktur itu. 8. Ditemukan beberapa anomali magnetik di berbagai tempat bawah permukaan. 9. USia bangunan berlapis beda ribuan tahun 10. Ada semen purba yg waterproof dan mengandung mineral besi 42 persen. 11. Adanay bidang very high reflector beberapa meter dari timbunan tanah yang kini menutup situs. Penelitian lengkap termasuk pembukaan pintu, penggunaan kamera dll akan dilakukan sesegera mungkin. Bangunan apa sebenarnya di Gunung Padang? Mari kita diskusi. Yang jelas, sudah waktunya kita buang kesombongan. Kita belum melewati 50 tahun mampu melestarikan temuan2 arkeologi. Sudah banyak yg rusak, dijadikan pemukiman, pelapukan dan lain-lain. Nah, ada leluhur kita yang bukan hanya melestarikan tapi mampu menjaga living monument dalam bawah permukaan puluhan ribu tahun tidak rusak, aman, dan masih berfungsi. Kita harus belajar bagaimana ini bisa terjadi. Dari cara menyembunyikan/memitigasi instalasi penting di bawah gunung padang saja harusnya kita berkata: pengetahuan dan kemampuanku ternyata hanya sedikit dibanding para leluhur. Jadi apa fungsi bangunan di bawah Gunung Padang? Ada yang bilang timbunan harta karun, ada yang bilang markas besar pertahanan militer purba, Ada juga yang bilang pusat pertahanan antar galaksi, ada yang bilang bangunan ala Tesla yang mampu intercept setiap potensi serangan milter, ada yang bilang pembangkit listrik raksasa non radioaktif, ada juga yang bilang rumah pemujaan. Bagaimana menurut rekan2 semua?
 

Andi arif

TIM TERPADU SUDAH MEMBUKTIKAN HIPOTESA ADA BANGUNAN DI BAWAH SITUS GUNUNG PADANG

--Banyak pertanyaan Kepada saya apakah Hipotesa adanya bangunan di bawah situs gunung padang sudah terbukti? Apakah Luasan situs jauh berlipat dari Candi Borobudur? Apakah Hipotesa ruangan, cawan raksasa serta anomali magnetik / teknologi yang tinggi dibeberapa zone teras juga terbukti. Pertanyaan ini sedang ditunggu-tunggu jawabannya. kami memhami karena usia situs bawah permukaan berdasarkan uji carbon dating di Batan maupun Lab Beta Miami menunjukkan umur tua dari 600 SM, 9500 SM sampai minimal 25000 SM. Pertayaan selanjutnya di jaman peradaban manusia yang mana bangunan ini di bangun. Saya akan menjaawab pertanyaan yang pertma: Tim terpadu riset mandiri menyatakan hipotesa adanya bangunan di bawah permukaan situs Gunung padang sudah berhasiil dibuktikan secara scientific, melalui coring dan eskavasi mengikuti hasil pemindaian tim sudah merekam dan mendapatkan Hard fact arkeologisnya. Hipotesa lain yang sudah dibuktikan adalah luasan situs yang jauh berlipat dari luas candi Borobudur. Indonesia sudah menemukan mahakarya peradaban purba di Cianjur jawa barat. wamendikbud menyambut temuan ini dengan membentuk tim nasional Gunung padang untuk melibatkan lebih luas lagi para ahli bergbung. Namun , karena tim nasional bekerja menunggu APBN 2014, maka wamendikbud atas nama negara mempersilahkan Tim terpadu meneruskan risetnya secara mandiri. Apa yang akan dilakukan Tim terpadu mandiri selanjutnya? Berdasarkan UU yg ada serta putusan kesepakatan yang dipimpin wamendikbud maka ada dua hal yang akan dilakukan; 1. Meneruskan eskavasi lokal atau bebersih dari tanah dan semak di lereng timur agar masyarakat bisa melihat sebagian bentuk bangunan itu, kita berharap eskavasi akan langsung dipimpin wamendikbud dan Tim Arkeologi Tim terpadu (mahasiswa UI), balai arkeologi Jawa barat, dan Puslit arkenas. Karena bekerja bukan berbasis APBN, kami mengetuk hati peneliti arkeologi di UI, Balar Jabar dan Puslit untuk bergabung dalam kebersamaan kerja sukarela untuk kemuliaan merah putih. 2. Hipotesa ruangan, cawan raksasa dan anomali magnetik masih belum cukup untuk dinyatakan sudah terbukti, masih perlu driling di beberapa tempat. Namun indikasi sangat kuat terutama ruangan (chamber) itu ada sedikit lagi kami yakin bisa membuktikannya. Secara UMUM kami nyatakan: INDONESIA SUDAH MEMILIKI MAHAKARYA PERADABAN yang usianya jauh lebih tua dari pengetahuan sejarah kita tentang Indonesia maupun dunia. Mari semua unsur ahli duduk bersama, melarang riset sudah tidak mungkin membatalkan temuan spektakuler para ahli kita. Saya berharap semua berjalan baik, para juru pelihara untuk tetap bisa membantu tim terpadu melakukan riset sambil menunggu timnas berjalan, cabut ancaman memberhentikn para juru pelihara yang dilakukan BP3 Serang, Dirjen Kepurbakalaan dan Museum dan beberapa oknum lainnya. Satukan barisan, Lupakan perbedaan. Artefak yang menyatukan kita semua.

PENGAKUAN JUJUR-.....

PENGAKUAN JUJUR--Terus terang di pertengahan 2011, saya juga dalam posisi meragukan paparan Tim Geologi bawah permukaan pimpinan Dr.Danny hilman dkk beserta Dr. Didit (Boediarto Onto wirjo), juniardi dll. Namun saya percaya dengan integritas keilmuan. Sebelumnya Kami sering berinteraaksi pada forum ahli kebumian, kemudian 3 kali ke padang melakukan paparan potensi megathrust 8,9 sr yang dulu juga ditentang banyak kalangan, namun kini sudah menjadi kebijakan mitigasi nasional. Saya dan para ahli, sudah terbiasa dapat cercaan, makian dll). Nah, sebagian keraguan saya sedikit terjawab ketika pengeboran kalau tidak salah 4 - 5 Februari 2012, saya hadir dan menyaksikan langsung coring di teras 5. Tak ada yang meleset dari pemindaian alat2 geofisika. akurat, ada stratigrafi yang menggambarkan adanya struktur di bawah permukaan. Keyakinan saya bertambah dengan eskavasi lokal oleh arkeolog DR Ali Akbar di tahun 2012 dan yang terakhir awal mei 2013 lalu yang mengafirmasi pemindaian dan sketsa imaginer Pak Pon Purajatnika. Pak Ali Akbar baru saya kenal tahun 2012 saat saya dan dia memberikan paparan tentang arkeologi dan kebencanaaan di Gedung BNI Kota tua jakarta (Ini sekaligus menjawab statemen seorang sejarawan dalam sebuah diskusi bahwa saya memilih Dr. Ali Akbar karena dia adalah klik saya di saat gerakan reformasi). Kini, keraguan saya berakhir. Semua sudah terbuktikan !! Selamat kepada para peneliti kita. Membanggakan kita semua. Menyitir apa yang dikemukakan Prof Koesoema : " Barangkali Pak Danny dan Pak Andang memulai satu revolusi baru dalam ilmu kebumian dan arkeologi? Memang sebagaimana dikatakan (Wilson, Jr., E. Bright, 1990, An introduction to scientific research: New York, Dover Publication, Inc), suatu penemuan yang aneh yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu yang berlaku dapat mengelindingkan suatu revolusi baru dalam ilmu pengetahuan, namun hal ini sangat sangat jarang sekali terjadi, atau peluang-nya sangat-sangat kecil sekali". Ya, Revolusi baru dalam ilmu kebumian dan Arkeologi telah lahir oleh para ahli kita>
 
andi arif 

SITUS GUNUNG PADANG BUKTI MAHAKARYA ARSITEKTUR PURBA DARI PERADABAN HILANG PRA-10.000 TAHUN LALU

Dalam bulan Maret tahun ini Tim Peneliti Mandiri Terpadu  kembali menggelar survey di Gunung Padang.  Kali ini Tim melakukan melakukan penggalian arkeologi dan survey geolistrik sangat detil DI sekitar penggalian pada lereng timur bukit di luar pagar situs cagar budaya.
Tim arkeologi yang dipimpin oleh DR. Ali Akbar dari Universitas Indonesia  dalam penggaliannya menemukan bukti yang mengkonfirmasi hipotesa tim bahwa di bawah tanah Gunung Padang terdapat struktur bangunan buatan manusia yang terdiri dari susunan batu kolom andesit, sama seperti struktur teras batu yang sudah tersingkap dan dijadikan situs budaya di atas bukit.  Terlihat di kotak gali bahwa permukaan fitur susunan batu kolom andesit ini sekarang sudah tertimbun oleh lapisan tanah setebal setengah sampai dua meter yang bercampur dengan bongkahan pecahan batu kolom andesit (Gambar 1). 
Batu-batu kolom andesit disusun dengan posisi mendekati horisontal dengan arah memanjang  hampir barat-timur (sekitar 70 derajat dari utara ke timur - N 70 E), sama dengan arah susunan batu kolom di dinding  timur-barat teras satu dan undak lereng terjal yang menghubungkan teras satu dengan teras dua.  Dari posisi horisontal batu-batu kolom andesit dan arah lapisannya, dapat disimpulkan dengan pasti bahwa batu-batu kolom atau “columnar joints” ini bukan dalam kondisi alamiah.   Batu-batu kolom yang merupakan hasil pendinginan dan pelapukan batuan lava/intrusi vulkanis di alam arah memanjang kolomnya akan tegak lurus terhadap arah lapisan atau aliran seperti banyak ditemukan dibanyak tempat di dunia.  Kenampakan susunan batu-kolom yang terkuak di kotak gali memang terlihat luarbiasa rapih seperti layaknya kondisi alami saja (contoh di Gambar 3).   Sehingga  tidak heran apabila di penghujung  tahun 2012 ada tim arkeolog lain yang bekerja terpisah dan sudah ikut menggali di sini menyimpulkan bahwa batu-batu kolom andesit di bawah tanah ini merupakan sumber batuan alamiahnya; mungkin karena mereka belum mempertimbangkan aspek geologinya dengan lengkap dan juga tidak mengetahui data struktur bawah permukaan seperti diperlihatkan oleh hasil survey geolistrik.
Yang lebih mengejutkan adalah ditemukannya material pengisi diantara batu-batu kolom ini.  Bahkan diantaranya ada batu kolom yang sudah pecah berkeping-keping namun ditata dan disatukan lagi oleh material pengisi atau kita katakan saja sebagai semen purba (Gambar 2).  Makin ke bawah kotak gali, semen purba ini terlihat makin banyak dan merata setebal 2 sentimeteran diantara batu-batu kolom.  Selain di kotak gali, semen purba ini juga sudah ditemukan pada tebing undak antara teras satu dan dua dan juga pada sampel inti bor dari kedalaman 1 sampai 15 meter dari pemboran yang dilakukan oleh tim pada tahun  2012 lalu di atas situs (Gambar 4). 
Ahli geologi tim dan juga pembina pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia pusat, DR. Andang Bachtiar,  berdasarkan hasil analisis kimia yang dilakukannya terhadap sampel semen purba dari undak terjal teras satu ke dua, menemukan fakta yang lebih mengejutkan lagi.  Ternyata material semen ini mempunyai komposisi utama 45% mineral besi dan 41% mineral silika.  Sisanya adalah 14% mineral lempung dan juga terdapat unsur karbon.  Ini adalah komposisi yang bagus untuk semen  perekat yang sangat kuat, barangkali menggabungkan antara konsep membuat resin atau perekat modern dari bahan baku utama silika dan penggunaan konsentrasi unsur besi yang menjadi penguat bata merah. 
Tingginya kandungan silika mengindikasikan bahwa semen ini bukan hasil pelapukan dari batuan kolom andesit disekelilingnya yang miskin silika.  Kemudian, kadar besi di alam, bahkan di batuan yang ada di pertambangan mineral bijih sekalipun umumnya tidak lebih dari 5% kandungan besinya, sehingga kadar besi “semen Gunung Padang” ini berlipat kali lebih tinggi dari kondisi alamiah.  Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa material yang ada diantara batu-batu kolom andesit ini adalah adonan semen buatan manusia.  Jadi  teknologi masa itu kelihatannya sudah mengenal metalurgi.   Satu teknik yang umum untuk mendapatkan konsentrasi tinggi besi adalah dengan melakukan proses pembakaran dari hancuran bebatuan dengan suhu sangat tinggi.  Mirip dengan pembuatan bata merah, yaitu membakar lempung kaolinit dan illit  untuk menghasilkan konsentrasi besi tinggi pada bata tersebut, jelas Andang.  Indikasi adanya teknologi metalurgi purba ini lebih diperkuat lagi dengan temuan segumpal material seperti logam sebesar 10 sentimeter  oleh tim Ali Akbar pada kedalaman 1 meter di lereng timur Gunung Padang.  Material logam berkarat ini mempunya permukaan kasar berongga-rongga kecil dipermukaannya.  Diduga  material ini adalah adonan logam sisa pembakaran (“slug”) yang masih bercampur dengan material karbon yang menjadi bahan pembakarnya, bisa dari kayu, batu bara atau lainnya.  Rongga-rongga tersebut kemungkinan terjadi akibat pelepasan gas CO2 ketika pembakaran. 
Tim akan melakukan analisa lab lebih lanjut untuk meneliti hal ini lebih jauh.
Yang tidak kalah mencengangkan adalah perkiraan umur dari semen purba ini.  Hasil analisis radiometrik dari kandungan unsur karbonnya pada beberapa sampel semen di bor inti dari kedalaman 5 – 15 meter yang dilakukan pada tahun 2012 di Laboratorium bergengsi BETALAB,  Miami, USA pada pertengahan tahun 2012 menunjukan umur dengan kisaran antara 13.000 sampai 23.000 tahun lalu.  Kemudian, hasil carbon dating dari lapisan tanah yang menutupi susunan batu kolom andesit di kedalaman 3-4 meter di Teras 5 menunjukan umur sekitar 8700 tahun lalu.  Sebelumnya hasil carbon dating yang dilakukan di laboratorium BATAN  dari pasir dominan kuarsa yang mengisi rongga diantara kolom-kolom andesit di kedalaman 8-10 meter di bawah Teras lima juga menunjukkan kisaran umur yang sama yaitu sekitar 13.000 tahun lalu.  Fakta yang sangat  kontroversial karena pengetahuan mainstream sekarang belum mengenal/mengakui ada peradaban (tinggi) pada masa se-purba ini, dimanapun di dunia, apalagi di nusantara yang konon masa pra-sejarahnya banyak diyakini masih primitif walaupun alamnya luarbiasa indah dan kaya; sementara di wilayah tandus gurun pasir Mesir orang bisa membuat bangunan piramida yang sangat luarbiasa itu.  Tapi fakta di Gunung Padang berbicara lain.  Rasanya bukan mustahil lagi bangsa Nusantara mempunyai peradaban yang semaju peradaban Mesir purba , bahkan pada masa yang jauh lebih tua lagi.
Struktur bangunan dari susunan batu-batu kolom berdiameter sampai 50 cm dengan panjang bisa lebih dari 1 meter ini sudah sangat spektakuler karena bagaimanakah masyarakat purbakala dapat menyusun batu-batu besar yang sangat berat ini demikian rapih dan disemen pula oleh adonan material yang istimewa.  Selanjutnya survey geolistrik yang dilakukan di sekitar lokasi pengalian oleh tim geologi/geofisika dari LabEarth LIPI, menguak fakta yang tidak kalah fantastis dari fitur bangunan purba di bawah  permukaan ini.  Survey terbaru ini adalah survey pendetilan sebagai lanjutan dari puluhan lintasan survey geolistrik 2-D, 3-D dan survey georadar yang sudah dilakukan pada tahun 2011, 2012 dan awal 2013 di sekujur badan Gunung Padang dari kaki sampai puncak bukit.    Hasil survey geolistrik memperlihatkan bahwa lapisan susunan batu kolom yang terlihat di kotak gali keberadaannya dapat diikuti terus sampai ke atas bersatu di bawah badan situs Gunung Padang di atas bukit, dan juga melebar sampai jauh ke kaki bukit (Gambar 5). 
Fakta ini mendukung hasil penelitian ahli arsitektur Pon Purajatniko,  anggauta tim terpadu yang juga pernah menjabat Ketua Ikatan Ahli Arsitektur Jawa Barat, yang pertama kali melontarkan gagasan tentang  struktur teras-teras Gunung Padang mirip situs Michu Pichu di Peru.  
 
Sampai saat ini penggalian dilakukan baru sampai kedalaman 4 meteran saja, namun survey geolistrik memperlihatkan bahwa dibawahnya masih ada kenampakan struktur bangunan dengan geometri yang terlihat menakjubkan sampai kedalaman lebih dari 10 meter.  Hasil survey geolistrik, dan georadar juga sudah dapat memperlihatkan bahwa struktur (geologi) bawah permukaan yang membentuk morfologi bukit Gunung Padang adalah lapisan batuan dengan ketebalan 30-50 meter yang mempunyai nilai tahanan listrik (resistivitas) sangat tinggi (ribuan Ohm-Meter) berbentuk seperti lidah dengan posisi hampir horisontal, selaras dengan bukit memanjang utara-selatan dan miring landai ke arah utara.  Jadi selaras juga dengan undak-undak teras yang dibangun di atasnya.  Lapisan batu berbentuk seperli lidah ini  juga mempunyai bidang miring yang rata ke arah barat dan timur bukit selaras dengan kemiringan lerengnya.  Lapisan lava ini berada pada kedalaman lebih dari 10 meter di bawah permukaan. 
Dari data pemboran yang dilakukan oleh DR. Andang Bachtiar dan juga analisis mikroskopik batuan dari sampel inti bor yang dilakukan oleh DR. Andri Subandrio, ahli geologi batuan gunung api dari Lab. Petrologi  ITB dapat dipastikan bahwa tubuh batuan dengan resistivitas tinggi ini adalah batuan lava andesit, sama seperti tipe batu kolom dari situs Gunung Padang.  Hal lain yang cukup menarik dari analisa petrologi adalah temuan banyaknya retakan-retakan mikroskopik pada sayatan tipis batu kolom andesit yang diduga non-alamiah karena retakan itu memotong kristal-kristal mineral penyusunnya. 
Dari banyak penampang geolistrik, terlihat Lidah lava andesit ini mempunyai leher intrusi (sumber terobosan batuan vulkanis dari bawah) berlokasi di area lereng selatan dari situs Gunung Padang, jadi setelah cairan panas intrusi magma mencapai permukaan kemudian mengalir ke utara dan setelah mendingin membentuk lidah lava tersebut.  Yang masih menjadi teka-teki besar adalah apakah tubuh batuan lava diperut Gunung Padang ini merupakan sumber dari batu-batu kolom andesit yang dipakai untuk menyusun situs?   Boleh jadi benar, karena sampai saat ini tidak ditemukan ada sumber batuan kolom andesit dalam radius beberapa kilometer dari Gunung Padang. 
Masalahnya tidak ada bekas-bekas penambangan atau lapisan lava yang tersingkap di area Gunung Padang.  Jadi, apabila orang berhipotesa bahwa sumber batuannya dari dalam bukit, maka mau tidak mau harus juga mengasumsikan bahwa dulunya lapisan lava tersebut pernah tersingkap atau ditambang oleh manusia purba, kemudian baru batu-batu kolom yang sudah diambil tersebut disusun-ulang kembali untuk menutupi sekujur badan lava menjadi satu mahakarya monumen arsitektur besar yang luarbiasa.  Perlu juga dicatat bahwa mengekstraksi batu-batu kolom andesit dari batuan induknya bukanlah hal yang mudah karena harus dapat memisahkan batu-batu besar dan berat tersebut dengan utuh dari batuan induknya dalam jumlah yang sangat besar.  Berbeda dengan penambangan batuan biasa yang tidak perlu kuatir dengan batu yang pecah, misalnya dengan peledakan dinamit.  Yang jelas untuk abad sekarang atau ratusan tahun kebelakang didunia ini tidak pernah ada penambangan batu-batu kolom andesit untuk dipakai sebagai bata bangunan.
Penelitian di Gunung Padang belum selesai.  Tim Mandiri Terpadu , walaupun tanpa dibantu dana negara, akan terus bekerja keras meneliti banyak misteri besar yang masih belum terkuak.  Termasuk melakukan pemboran atau eskavasi dalam untuk membuktikan dengan lebih gamblang keberadaan struktur bangunan dan ruang-ruang di bawah kedalaman 4-5 meter.  Demikian juga pentarikhan umur situs walaupun sudah dilakukan dengan teliti dan hati-hati masih perlu dicek ulang dengan sampel-sampel yang lebih baik lagi, karena umur ini hal yang sangat vital untuk kesimpulan akhirnya nanti.  Tim juga menduga bahwa situs Gunung Padang kemungkinan besar tidak dibangun dalam satu masa, tapi produk lebih dari satu lapis kebudaayaan.  Misalnya, yang membuat batu-batu kolom menjadi menhir-menhir belum tentu sama dengan masyarakat yang membuat susunan batu-batu kolom dengan semen purba.  Demikian juga bangunan susunan batu kolom andesit di permukaan atau yang sudah tertimbun beberapa meter di bawah belum tentu dibangun satu masa dengan struktur bangunan di bawahnya lagi. 
Penelitian ala Tim Mandiri Terpadu memperlihatkan bahwa bahu membahu yang erat dari berbagai disiplin ilmu dengan metoda penelitian yang saling mengisi sangat diperlukan untuk menguak warisan kebudayaan nusantara.  Masalah Gunung Padang tidak bisa lagi disampingkan.  Walaupun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan analisa yang belum tuntas, hasil-hasil penelitian yang sudah dicapai sudah memberikan banyak informasi penting dan harapan bahwa situs Gunung Padang berpotensi untuk setara dengan Borobudur, bahkan lebih bermakna karena dapat menjadi terobosan pengetahuan tentang “the craddle of civilizations” pada abad ini karena menjadi bukti monumen besar dari peradaban adijaya tertua di dunia yang entah karena bencana apa musnah ribuan tahun lalu dalam masa pra-sejarah Indonesia.  Wallahua alam.
 
Danny H. Natawidjaja (Koordinator)  dan Tim Peneliti Mandiri Terpadu G.Padang

MELIHAT DENGAN JERNIH PERBEDAAN "GUNUNG PADANG" ANTARA BALAR/ARKENAS DENGAN TIM TERPADU RISET MANDIRI

Resume/Dialog Imajiner yang menguraikan apa sih yang  di kontroversialkan di riset Gunung padang  ini.  Mudah-mudahan hal ini bisa membantu kita untuk  melihat dengan lebih jernih bahwa masalah perbedaan pendapat di ranah ilmiahnya sebenarnya biasa saja, hanya tergantung dari cara memandang dan ketersediaan data yang dipunyai dua kelompok ini.  Saya yakin kalau dipertemukan dan didiskusikan dengan baik-baik bisa diselesaikan dengan mudah karena hanya menyangkut interpretasi fisik yang straight forward. Kalaupun maul melakukan pembuktian yang lebih tidak-terbantahkan pun tidak sulit sebenarnya.  Selamat membaca.       

 RESUME TENTANG ‘KONTROVERSI’ GUNUNG PADANG
(DIALOG IMAJINER TIM MANDIRI TERPADU DAN ARKENAS)

Oleh: Danny Hilman Natawidjaja

1.      LUASAN SITUS:
a.      Arkenas/BALAR: Hanya teras batu bergaya menhir dipuncak bukitnya saja (penelitian 1979-2005) – situs hanya yang di dalam pagar.  Hasil survey dan eskavasi bulan Desember 2012 yang sudah diseminarkan di Cipanas menyimpulkan hal sama.
b.      Tim Mandiri Terpadu : mungkin seluruh bukit (tinggi 100 meter),  paling tidak sekitar sepertiga dari puncak sudah confirmed

2.      UMUR SITUS
a.      Arkenas: Tidak ada data, hanya perkiraan saja dari masa sekitar 2500 – 1500 SM
b.      Tim Mandiri Terpadu : sudah ada dari karbon dating di lakukan di BATAN dan Beta Analytic USA untuk 10 sampel dari lokasi dan kedalaman berbeda. Diantaranya: yang paling atas tepat di bawah situs batu Menhir berumur sekitar 2600 BP (600 SM).  Umur hamparan pasir kerikil di kedalaman 4-5 meter di bawah Situs adalah sekitar 6600 BP. Umur lapisan tanah  semen purba dari kedalaman 7 – 15 m berkisar dari 13.000 sampai 23.000 tahun BP.  Umur karbon di dalam pasir ‘ayak’ yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 m adalah 11.600 tahun BP.  Di satu lokasi ada tanah timbunan tebal diatas susunan batu bersemen yang umurnya sekitar 8600 BP

3.      SUMBER BATUAN SITUS
a.      Arkenas: Tepat di bawah situs– ditemukan di kotak gali di Teras 1 di kedalaman 2 meteran terlihat sebagai tumpukan batu kolom (columnar joint) andesit yang dibungkus ‘kerak lempung’ dengan posisi horisontal berarah barat-timur (Yondri, 2005, 2007, 2012) .  Kerak lempung tersebut juga terlihat di dinding antara Teras satu ke dua dan di batu-batu kolom yang ditemukan di lereng timur.
b.      Tim Mandiri Terpadu : Belum ketemu,  tapi sampai kedalaman 16 m tidak ditemukan sumber batuan alamiah untuk batu kolom tersebut.  Kemungkinan adalah dari tubuh masif lava andesit di kedalaman 16 meteran.

4.      SEMEN PURBA
a.      Arkenas:  Tidak ada semen purba, yang ada adalah kerak lempung alamiah yang membungkus batu-batu kolom andesit di bawah situs, yaitu batuan sumber dari situs
b.      Tim Mandiri Terpadu : ada, yaitu material yang disebut sebagai kerak lempung oleh Arkenas.  Susunan batu-batu kolom di bawah teras 1 yang terlihat di kotak gali BALAR tahun 2005 itu persis sama posisinya dengan yang ditemukan di lereng timur baik oleh tim Arkenas pada bulan Desember 2005 maupun oleh Tim Ali Akbar bulan Juni 2012 dan Maret kemarin.  Susunan batu kolom andesit yang posisinya horisontal berarah barat-timur ini BUKAN batuan sumber alamiahnya tapi FITUR bangunan purba yang luarbiasa.

5.      ADANYA RUANG:
a.      Arkenas: yakin tidak ada walaupun tidak punya data bawah permukaan dan belum pernah menggali lebih dari 2 meter.  Dasarnya karena peradaban Gunung Padang  masih primitif/sederhana sehingga tidak mungkin membuat struktur bangunan semaju itu.
b.      Tim Mandiri Terpadu : Ada – berdasarkan data  GPR berbagai frekuensi – grid lintasan 2D, Geolistrik grid lintasan 2D , 3D berbagai, dan data bor

6.      TINGKAT PERADABAN:
a.      Arkenas: Peradaban masih sangat sederhana/primitif dari masa sebelum Masehi.  Istilah Mahakarya ala Arkenas/BALAR maksudnya mahakarya bangsa primitif
b.      Tim Mandiri Terpadu :  Situs Gunung Padang bukan hasil satu generasi tapi multi generasi.  Yang paling atas bergaya menhir memang peradaban sederhana (jadi sama interpretasinya dengan Arkenas) yang hanya menata ulang reruntuhan batuan yang sudah ada, kemungkinan berumur sekitar 600 SM atau lebih muda (juga tidak jauh beda dengan perkiraan Arkenas/BALAR).  Tapi 2 meter di bawahnya (diselingi tanah timbun) adalah bangunan sangat maju yang dibuat dari susunan batu-batu kolom (diperlakukan seperti batubata) tersusun rapih dan diisi/terbungkus semen kemungkinan berumur sekitar 6600 tahun BP (4600 SM).  Di bawahnya lagi masih ada struktur bangunan yang lebih tua, kemungkinan umurnya berkisar 11.000 – 23.000 tahun BP.

7.      GEOLOGI:
a.      Arkenas: Sisa badan gunung api purba (menurut Sutikno Bronto  yang dia interpretasikan dari geologi setempat,  morfologi dan pengamatan singkapan batuan di permukaan)
b.      Tim Mandiri: morfologi Bukit Gunung Padang yang berupa trapesium memanjang utara-selatan dilandasi oleh  ‘lidah’ (lapisan) lava setebal 20-30 meter di kedalaman sekitar 15 meter dari permukaan.  Lapisan lava terlihat ‘selaras dengan muka tanah situs di atas dan juga muka tanah situs di lereng timur dan barat.  Lapisan ‘geologi’ di bawah permukaan baik di atas ataupun di lereng barat-timur-utara sejajar dengan permukaannya dari atas sampai kedalaman 15 meteran, yaitu permukaan lava tersebut.   Dari data bor diketahui bahwa lapisan diantara permukaan dan tubuh lava ini adalah tumpukan batu-batu kolom seperti yang terlihat di permukaan.  Di temukan leher intrusi lavanya berada di sebelah lereng timur-tenggara (dari data geolistrik).  DATA:  geolistrik, georadar dan inti bor sampai kedalaman 28meter.

URAIAN/DISKUSI:
·        Tentang susunan rapih batu kolom bersemen atau ber-kerak lempung:  Arkenas/BALAR menginterpretasikan sebagai kerak lempung hasil pelapukan batu kolom andesit.  Menurut Lutfi Yondri sudah dikonsultasikan ke beberapa geologist.  Budi Brahmantyo menginterpretasikan berasal dari  pelapukan mengulit bawang.  Sutikno Bronto: selain pelapukan juga ada proses sedimentasi diantara batu-batu kolom tersebut.  Mang Okim di bawah memberikan interpretasi yang sama. 

Tim Mandiri melihat bahwa posisi batu-batu kolom tersebut JELAS tidak alamiah karena posisi batu kolomnya horisontal sejajar dengan lapisan/permukaan batuannya (seperti terlihat di georadar dan di geolistrik) yang horisontal juga.  Posisi alamiah columnar joint yang alamiah akan selalu tegak lurus permukaan pendinginan (=lapisan).  DIPASTIKAN TIDAK ADA INTRUSI VERTIKAL di bawah situs, kecuali leher intrusi sumber lava di lereng timur-tenggara tersebut.  Susunan batuan bersemen ini memang terlihat sangat rapih seperti layaknya kondisi alamiah-insitu, tidak heran kalau orang bisa terkecoh.

Material diantaranya bukan hasil pelapukan karena terlihat kontak dengan permukaan batu kolom sangat tegas, tidak ada gradasi pelapukan dan tidak terlihat ada pelapukan mengulit bawang.  Material semen pengisi ini di kotak gali di lereng timur terlihat malah bertambah banyak dan rapih semakin ke bawah sampai kedalaman 4 meter, ketebalannya teratur (~2 cm), seringkali terlihat berlapis, dan sangat keras.  Susunan batu kolom bersemen ini makin ke bawah semakin tight-impermeable (genangan air hujan terlihat sangat sukar meresap ke bawah).  Jadi tidak mungkin juga hasil sedimentasi seperti dikatakan Sutikno. 

Analisis mineral menunjukkan komposisi material ‘semen’ ini adalah 45% mineral besi, 41% mineral silica, sisinya mineral lempung dan sedikit unsur karbon.  Merupakan komposisi yang sangat kuat sebagai perekat.  Di alam tidak ada pelapukan yang komposisi besinya demikian tinggi.

·        Keberadaan struktur yang mengindikasikan bangunan terlihat dari penampang georadar dan geolistrik.  Ruang dicirikan oleh tubuh dengan very high resistivity – puluhan ribu sampai lebih dari 100 ribu Ohm-Meter, juga dari image georadar.  Ada rongga-rongga besar di dalam tubuh lava andesit/basaltic yang boleh jadi adalah lava tube/cave alamiah, tapi dari kenampakan geometrinya boleh jadi sudah direkayasa.  Kalau benar... wah...seremmm.
·        Silahkan direnungkan, pihak mana yang “draw conclusions from too brief an examination (dari milist IAGI)


ANDI ARIF

Karena saya menganggap penting, tulisan Danny Hilman (sebagai peneliti menanggapi sikap petisi layak untuk dikutip dari Milist IAGI.

Karena saya menganggap penting, tulisan Danny Hilman (sebagai peneliti menanggapi sikap petisi layak untuk dikutip dari Milist IAGI.

-rekan IAGI-Netter ysh,
Saya sedang otw transit di Den Pasar dari Makasar ke Bandung setelah penelitian di tengah laut selama hampir 10 hari, sebenarnya masih sangat lelah dan terkena sakit gigi lumayan senut-senut, tapi sebagai koordinator Tim mandiri Terpadu G.Padang kiranya perlu memberikan beberapa pandangan mengenai isyu yang dilontarkan oleh Mang Okim. Komentar singkat: ini luar binasa aneh bin-ajaib (dibaca: ngawur).  Sy bisa uraikan bahwa setiap butir pernyataan 'Petisi 34' yang maksud adalah plintiran atau tudingan palsu yang lebih kejam dari kasus alamat palsunya Ayu Ting-ting. Tapi terlalu panjang kalau diurai satu-satu.  Inti masalahnya saja.
Pertama-tama, mohon ditanggapi dengan jernih dan itikad baik. Sudah cukup masalah penelitian ilmiah di G.Padang ini dikacaukan dengan isyu macam-macam tidak karuan yang akhirnya menjadikan hal ini kontroversial yang tidak jelas juntrungannya (Mudah-mudahan tidak ada konspirasi sekelompok orang yang justru bertujuan agar tidak jelas juntrungannya). Saya tahu ada 'petisi 34' baru tadi malam setelah ada signal dan akses internet.
Petisi ini dibuat setelah acara forum diskusi (ilmiah?) yang diprakarsai oleh kelompok yang menamakan diri Forum Pelestari Gunung Padang, dihadiri cukup banyak orang yang bukan sembarangan, dengan tujuan untuk menghujat dan menghentikan penelitian yang dilakukan oleh Tim Mandiri Terpadu yang tidak diundang dalam forum itu.  Logika sehatnya, Bukankah seharusnya Tim Mandiri diundang untuk diajak berdialog dan berdiskusi bukan malah diadili di belakang punggung? bahkan kalau Tim ini mau 'dibantai' secara ilmiah juga sah-sah saja kalau memang berani. Prihatin juga, kok sepertinya dialog ilmiah macet? Atau ini memang bukan masalah kebenaran ilmiah tapi ada kepentingan lain, atau jangan-jangan ada pihak yang sengaja mengadu-domba? Kok bisa-bisanya melarang penelitian dengan alasan pelestarian yang tidak jelas alasannya?
Saya, Mas ADB, Mas Ali Akbar dan Tim Arkeologi UI juga rekan-rekan lain yang bergabung dalam tim melakukan penelitian di G.Padang ini dengan serius dan tentu saja  mengikuti kaidah ilmiah. Tidak ada niatan lain selain untuk menguak fakta dengan seilmiah-ilmiahnya, baik segi geologinya ataupun arkeologinya. Kami bukan peneliti 'kemarin-sore' yang bisa seenaknya dituduh sebagai peneliti tidak kompeten yang  tidak becus meneliti serta tidak tahu hukum.  Itu keterlaluan. perlu diketahui juga bahwa DR Ali Akbar itu arkeolog spesialis pra-sejarah salah satu penerus Alm Prof Soejono.  Dia juga mengajar mata kuliah perihal peraturan-perundangan kepurbakalaan di Indonesia.
Tentu kami ada ijin penelitian termasuk dari bupati walaupun  lokasi yang sedang yang kami teliti sekarang sebenarnya  di luar pagar Situs Cagar Budaya G Padang.  Malah ARKENAS pun kalau mau meneliti di situs harus se-ijin Bupati/PEMDA, tidak bisa seenaknya, apalagi memonopoli penelitian.  LIPI, sebagai lembaga penelitian negara, kalau mau meneliti di satu wilayah juga harus lapor dan se-ijin PEMDA.  Tidak bisa juga LIPI atau BPPT atau lembaga penelitian apapun melarang peneliti yang melakukan penelitian tidak atas nama lembaga pemerintah. Sedangkan para peneliti asing malah bebas merajalela (tentu ada prosedur hukumnya).

Yang menandatangani petisi itu di-daftar di-afilisiasikan dengan organisasi profesi termasuk IAGI.  Apakah IAGI diundang?  Mohon klarifikasi dari Ketum.  Diantara yang menandatangani ada Ketua IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia).  Apakah dia bicara a/n organisasinya atau pribadi tidak jelas.

Tapi kami disamping merasa disodok patut berbesar hati juga karena penelitian kami, yang notabene sudah membuat G.Padang sebelumnya diterbengkalaikan sekarang jadi perhatian nasional dan internasional, ternyata dianggap demikian pentingnya oleh forum para cendekiawan ini (catatan: walaupun jadi kontradiktif sendiri dengan pernyataan mereka yang melecehkan kemampuan Tim), sehingga forum menganggap perlu membuat petisi yang ditandatangani 34 orang ini langsung ke Presiden RI dengan tujuan supaya penelitian Tim Mandiri diberangus, kemudian tanggung jawab (penelitian)nya sepenuhnya diambilalih oleh lembaga berwenang, begitu.   DAHSYAT!
Di tanah Sunda ada istilah "DIPOYOK DILEBOK".  Begitulah kira-kira. Pengunjung G.Padang yang jadi membludak malah dijadikan alasan bahwa sekarang kelestariannya menjadi terancam gara-gara penelitan Tim mandiri.
Mungkin ada baiknya IAGI bekerja sama dengan IAAI bertindak sebagai mediator membuat acara seminar untuk ajang berdialog supaya tidak tambah salah-paham dan kacau, efeknya bisa serius. Dunia pendidikan dan riset di Indonesia sekarang sudah cukup lumpuh, jangan malah diinjak-injak. Mari kita bangun dan kembangkan sama-sama.
Dengan segala keterbatasan yang ada, sejujurnya kami katakan bahwa  kasus di Gunung Padang adalah kasus besar yang sangat menarik karena data kelihatannya mengarah ke sesuatu yang  'fantastis' dan seperti tidak masuk akal memang karena bertentangan dengan pengetahuan mainstream (arkeologi). Aspek geologinyapun tidak kalah menarik. "We just follow where data lead".
Berbeda pendapat boleh saja, tapi mari sama-sama hormati azas dan etika ilmiah, berdiskusi dan berdebat dengan sehat. Jangan mau di adu-domba, nanti bener-bener jadi domba-domba yang menjadi makanan empuk para srigala.
  
ANDI ARIF

Gunung Padang Akan Diajukan ke UNESCO

VAnews - Pemerintah Indonesia menyiapkan program agar situs Gunung Padang bisa diakui di mata internasional. Pemerintah, melalui Kemendikbud, akan membawa temuan Gunung Padang dalam World Culture Forum (WCF 2013) yang digelar UNESCO pada bulan November 2013 nanti.

"Kemendikbud sudah membentuk tim riset terpadu. Ini akan berjalan lima tahun ke depan," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wiendu Nuryanti kepada VIVAnews,Rabu 17 April 2013.

Tim terpadu itu terdiri dari peneliti lintas disiplin ilmu yang akan bertugas mendalami temuan situs Gunung Padang. "Pemerintah langsung yang memfasilitasi program ini, termasuk seminar internasional atau lainnya," ujarnya.

Tim terpadu itu, kata Wiendu, mengemban misi situs Gunung Padang agar mendapat pengakuan dalam forum WCF 2013. Untuk sampai pada pengakuan internasional, menurutnya, ada beberapa kualifikasi penting.

"Kawasan, pengelolaan, sejarah latar belakang, serta penanganan ke depan dari situs ini harus jelas," papar Wiendu.

Keajaiban Dunia

Karena itu, tim khusus nantinya akan mengikutsertakan ahli luar negeri untuk mendukung tujuan pengakuan internasional.

Menurut Wiendu, Peru sudah tertarik mendalami situs ini. Kolaborasi kedua negara ini, katanya, dapat menguntungkan kedua belah pihak. Peru punya situs Manchu Picchu Peru dan  Indonesia punya situs Gunung Padang.

"Ini program G2G, kedua situs bisa jadi sister sites, yang tentunya memudahkan langkah situs Gunung Padang menjadi salah satu keajaiban dunia," katanya optimistis.

Sebelumnya, pada Selasa lalu, Kemendikbud telah bertemu dengan tim peneliti mandiri Gunung Padang diwakili oleh Dr Budiarto Ontowirjo (peneliti di BPPT) dan Dr Lily Tjahjandari (peneliti UI).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, yang juga merupakan inisiator dari tim tersebut.

Sebagaimana diketahui selama ini, komposisi peneliti Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang terdiri dari berbagai ilmuwan terbaik Indonesia, meliputi ahli kebumian dari LIPI Dr Danny Hilman Natawijaya, mantan Ketua Umum IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) paleosedimentolog Dr Andang Bachtiar, dan Pendiri MARI (masyarakat arkeologi Indonesia) yang juga arkeolog UI, Dr Ali Akbar.

Tak ketinggalan ahli budaya FIB UI Dr Lily Tjahjandari, praktisi arsitek dan kawasan Pon Purajatnika, ahli kompleksitas dan astronomi dari BFI Hokky Situngkir, ahli permodelan sipil BPPT Dr Budianto Ontowirjo, ahli petrografi ITB Dr. Andri S Subandrio, ahli administrasi negara, Prof DR Zaidan Nawawi, dan beberapa lainnya. (umi)

Situs Gunung Padang di Cilacap


Situs Gunung Padang di Cilacap (Hizi Firmansyah/ Pemerhati Situs Purbakala Majenang)


Seperti halnya Gunung Padang di Cianjur, Gunung Padang di Cilacap juga berstruktur batuan.
Setelah heboh Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, warga Cilacap, Jawa Tengah, kembali teringat dengan sebuah situs kuno yang juga mereka sebut Gunung Padang. Situs yang terdapat di atas bukit ini terletak di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap.

Situs megalitikum ini menampilkan struktur balok-balok batu segi empat, segi lima dan segi enam yang rebah ke arah timur. Panjang rata-rata balok batu ini tiga sampai empat meter, tersusun sampai ketinggian 30 meter, lebar 15 meter dan panjang 20 meter.

Di sisi sebelah barat terdapat sebuah makam yang menurut warga sekitar adalah pembuat situs dan konon masih trah keturunan Kerajaan Pajajaran.

Di sebelah kiri dan kanan situs ini terdapat masing-masing gua. Juru kunci situs, Suganda, menyebut, gua sebelah kanan mengeluarkan wangi harum, sementara yang di sebelah kiri berbau amis. Gua-gua ini menjadi sasaran pertapa atau peziarah yang belakangan ramai berkunjung.

Untuk menuju ke lokasi situs Gunung Padang dari Ibukota Kecamatan Majenang butuh waktu empat jam menuju ke desa terakhir yaitu Desa Cibeunying. Selanjutnya dari desa terahir menuju ke lokasi situs yang terletak di Desa Salebu harus berjalan kaki selama satu jam melintasi hutan.

Sementara itu, Hizi Firmansyah, seorang pemerhati lingkungan dan benda cagar budaya, mengaku sangat prihatin dengan kondisi situs Gunung Padang. Menurutnya, kondisinya sangat rusak dan tidak terawat. Hingga saat ini belum pernah ada perhatian dari pemerintah daerah untuk melakukan perhatian terhadap situs yang memiliki nilai sejarah yang tinggi ini.

(umi)vivanews 

TIM TERPADU DUKUNG 34 AHLI dan ARKENAS untuk Segera Riset bawah permukaan di Gunung Padang



TIM TERPADU DUKUNG 34 AHLI dan ARKENAS untuk Segera Riset bawah permukaan di Gunung Padang

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan melalui diskusi yang mendalam, maka atas nama Tim terpadu Riset mandiri saya akan menyampaikan beberapa hal menyangkut Riset di Gunung Padang. Pertama,  Riset tim terpadu riset mandiri bukanlah riset yang tidak mematuhi perundangan yang ada. Riset ini  memperhatikan sungguh  UU Cagar Budaya (CB) No. 11 tahun 2010 Pasal 1 (35) Setiap orang adalah perseorangan, kelompok orang, masyarakat, badan usaha berbadan hukum, dan/atay badan usaha bukan berbadan hukum. Pasal 2 UU Pelestarian CB berasaskan (h) Partisipasi Penjelasan UU: setiap anggota masyarakat didorong utk berperan aktif dalam pelestarian CB. Pasal 26
(1) Pemerintah berkewajiban melakukan pencarian benda, bangunan, struktur, dan/atau lokasi yg diduga sebagai CB.
(2) Pencarian CB atau yg diduga CB dapat dilakukan oleh setiap orang dgn penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat/atau di air.
(3) Pencarian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilakukan melalui penelitian dengan tetap memperhatikan hak kepemilikan dan/atau penguasaan lokasi.
(4) Setiap orang dilarang melakukan pencarian CB atau yg diduga CB dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kecuali dengan izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan UU itu maka 
(a) puslit arkenas bukanlah satu-satunya lembaga yang berhak melakukan riset . Tidak boleh melarang setiap orang utk melakukan Riset/pencarian. 
(b) sampai saat ini belum ada Peraturan Pemerintah. Artinya Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat memberikan keputusan selama belum terbentuknya Peraturan Pemerintah. Tim terpadu Riset Mandiri sudah mendapat izin dari Pemda Cianjur, dan ditembuskan ke Puslit arkenas dan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Bahkan Puslit Arkenas juga harus mendapatkan perijinan yang sama jika akan melakukan riset.
(c) selama ini partisipasi masyarakat sangat rendah dan puslit arkenas menjadi pemain/peneliti tunggal. Dengan adanya UU CB justru masyarakat harus berperan aktif dan puslit arkenas harus siap bersaing secara sehat dengan peneliti-peneliti lain baik perorangan maupun instansi.

Kedua, Dalam pembuktian hasil pemindaian alat-alat geofisika, peta IFSAR dll,  berupa beberapa eskavasi lokal (spot survey) semua dilakukan oleh arkeolog yang dalam hal ini dilakukan oleh DR. Ali Akbar dan mahasiswa UI. Semua kaedah dan metodologinya  dapat dipertanggungjawabkan. Tidak benar kalau ada perusakan situs. Eskavasi walaupun di luar situs dilakukan sangat hati-hati dibantu dan disaksikan warga setempat dan Juru pelihara Gunung Padang.

Ketiga, Bahwa rencana eskavasi yang akan melibatkan masyarakat, TNI dan Polri yang dianggap akan merusak situs karena masyarakat yang melakukannya adalah kesalahan memahami rencana yang baik mengenalkan ilmu arkeologi kepada publik. Direncanakan 100 arkeologlah yang akan melakukan eskavasi, pelibatan masyarakat justru membantu dan mengontrol sekaligus pembelajaran. Arkeologlah yang akan melakukan eskavasi.

Ketiga hal di atas bukanlah langkah-langkah destruktif dan tidak pada tempatnya dikontraskan seolah-olah niat baik ini sebagai ancaman sehingga gunung padang harus diselamatkan seperti yang termuat dalam petisi 34  arkeolog dan geolog. 

Meski syarat-syarat sebagai survey yang memenuhi kaidah hukum dan ilmu pengetahuan sudah dipenuhi, namun  Periset Tim terpadu memutuskan lebih penting membangung persatuan dengan para ahli baik 34 arkeolog/geolog maupun yang tidak termasuk dalam petisi itu. Kita tidak ingin riset yang dijalankan secara sungguh-sungguh ini justru menimbulkan posisi yang berhadap-hadapan antara para ahli maupun antar lintas disiplin ilmu. Bagi kami Riset adalah hal yang mulia, namun persatuan juga tak kalah pentingnya. 

Karena itu sesuai keinginan dalam petisi 34 arkeolog dan geolog itu, maka untuk sementara waktu Tim terpadu riset mandiri menghentikan rencana eskavasi dan berharap seruan dalam petisi itu agar lembaga resmi seperti Arkenas maupun para peneliti yang tergabung dalam 34 pengusung petisi  untuk segera melakukan riset di gunung padang. Ini sebagai bentuk penghormatan kami pada ilmu pengetahuan dan sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada keinginan sedikitpun untuk menguasai riset di Gunung Padang. 

Seperti diketahui, riset Tim terpadu di Gunung padang adalah berkonsentrasi di bawah permukaan situs yang ada dan sudah berhasil membuktikannya. Kami berharap 34 ahli dan Arkenas juga melakukan hal yang sama agar memperkaya apa yang sudah didapat tim terpadu. Sejak tahun 1979 sampai 2012 ini kami mengetahui ada beberapa kali riset yang dilakukan oleh arkeolog. Namun belum ada yang melakukan upaya riset di bawah permukaan. Kami percaya munculnya petisi itu didasarkan niat baik untuk juga mulai melakukan riset di bawah permukaan situs. Kami siap membantu jika diperlukan. 

Selama sebulan kami yakin 34 ahli dalam petisi yang sangat berpengalaman serta siapapun yang akan meriset di gunung padang cukup untuk mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa ada bangunan di bawah situs Gunung padang dengan riset yang informasinya selalu dikemukakan kepada publik. jadi riset kita makin saling melengkapi. Namun sebaliknya, jika kesimpulannya berbeda tentunya rasa saling menghormati ini tetap kita bina dan pertahankan. Tim terpadu yang bekerja dilindungi undang-undang dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan (sudah berhasil membuktikan) agar tidak dihilangkan haknya untuk terus melanjutkan riset secara mendalam. Karena pada akhirnya hasil riset ini akan menjadi milik negara dan masyarakat.

Sekali lagi, demi menghormati persatuan dan ilmu pengetahuan, marilah kita hidupkan semangat membangun dunia riset yang semestinya, fair, jujur, dan saling menghargai. Dari gunung Padang semangat itu kita bangun. Agar di banyak tempat objek riset yang lainnya kita lebih leluasa bahu membahu. Selamat melakukan riset buat yang terhormat 34 arkeolog dan geolog serta arkenas. Kami siap membantu. Buat masyarakat, yang snagat antusias terhadap riset ini, perlu bersabar untuk mendapatkan hasil akhir. Dalam waktu dekat Tim terpadu akan mempublikasikan hasil risetnya berbentuk buku dan seminar2, serta siap  melakukan presentasi di berbagai kementerian dan lembaga riset yang ada.  Salam .




andi arif