Tampilkan postingan dengan label PRA SEJARAH. Tampilkan semua postingan

TIM RISET TTRM MEMBUKA TANGGA ASLI UTARA GUNUNG PADANG






Situs Gunung Padang merupakan bangunan punden berundak peninggalan jaman prasejarah. Situs ini merupakan salah satu situs megalitik terbesar di Asia Tengga. Situs terletak di puncak bukit yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan perbukitan. Di sebelah tenggara terdapat Gunung Melati, di sebelah barat daya terdapat Pasir Empet dan Gunung Karuhun, di sebelah barat laut terdapat Pasir Pogor dan Pasir Gombong, dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Malang.

Ketinggian puncak situs sekitar 100 meter dari gerbang situs yang terletak di level parkir. Untuk menuju puncak Situs Gunung Padang terdapat 2 jalur naik yaitu melalui tangga utama (lama) yang memiliki 376 anak tangga dan tangga baru dengan lebih dari 500 anak tangga. Tangga utama cukup
curam (kemiringan sekitar 40 derajat) sedangkan tangga baru lebih landai dan nyaman untuk didaki.

Tangga utama terletak di sisi utara dari Situs Gunung Padang, terdiri dari batu columnar joint yang disusun cukup rapi meskipun ukurannya tidak terlalu homogen. Pada bulan Agustus 2014, Periset mencoba membuat mapping tangga utara berupa rekaman foto dan ukuran dari tiap anak tangga.Berikut contoh beberapa rekaman yang berhasil dibuat :




Banyak orang menganggap bahwa tangga utara situs Gunung Padang merupakan tangga asli, namun sebenarnya tangga tersebut baru dibuat secara bertahap mulai tahun 1970-an. Menurut penuturan bapak Nanang, juru pelihara Situs Gunung Padang yang lahir di sekitar situs, dahulu belum ada tangga permanen untuk menuju puncak situs. Bila ada peziarah yang ingin menuju puncak situs, mereka harus melalui jalan setapak yang terbuat dari tanah. Sehingga perjalalan menuju puncak situs menjadi cukup sulit terutama pada saat musim hujan.

Seiring dengan waktu, peziarah yang mengunjungi puncak situs semakin meningkat. Untuk membantu para peziarah menuju puncak, maka oleh masyarakat sekitar mulai dibuat tangga menuju ke atas situs. Tangga tersebut disusun secara tradisional dari batu-batu columnar joint yang
banyak berserakan di bawah situs. Oleh sebab itu, meskipun cukup rapi, namun tangga utara ini memiliki ukuran tinggi anak tangga yang bervariasi mulai dari beberapa cm hingga ada yang lebih dari 50 cm. Bentuknya pun tidak lurus, melainkan berbelok-belok, mengikuti jalan setapak yang
sudah ada terlebih dahulu.

DIMANA TANGGA ASLI ?
Pertanyaan yang timbul dari kondisi tersebut adalah : bila tangga utara bukan tangga asli, lalu yang dimana tangga yang asli ?




Pada foto tahun 2006 dan 2009 terlihat pada level parkir belum ada bangunan seperti sekarang. Selain itu, di bawah situs (antara puncak situs dengan level parkir) ada rekaman pohon besar yang pada foto 2013 pohon tersebut sudah tumbang. Yang tersisa tinggal bekas akar pohon.




Menurut penuturan beberapa orang dan dibuktikan oleh Tim riset : tangga asli terdiri dari 2 bagian : bagian atas dan bagian bawah. Tangga bagian atas sangat lebar, ukurannya sama dengan lebar teras-1. Tangga bagian atas
membentang dari teras-1 hingga ke posisi ex-pohon besar. Bekas-bekas tangga asli bagian atas masih ditemukan di beberapa singkapan di bawah teras-1.
Tangga asli bagian bawah ada 2 buah (kiri dan kanan), membentang dari sekitar posisi ex-pohon besar hingga ke persawahan jauh di bawah level parkir. Diperkirakan area sawah tersebutdahulunya merupakan sebuah telaga. Tangga bawah mengapit sumur di dekat gerbang situs. Beberapa singkapannya terlihat di bawah toilet umum pada level parkir.






Periset TTRM Ir Juniardi (ahli sipil dan Telemetri)

Ekspedisi Awal ke Rancabuaya

Assalamualaikum wr wb,

Dalam berbagai kesempatan, Kang Dicky menyampaikan bahwa untuk melakukan inovasi atau menemukan hal baru, beliau menggunakan cara 4N yaitu Nalusur (Menelusuri), Naluntik (Meneliti), Nalar (Berpikir/Menganalisa) dan Nalipak (Mawas diri). Nah, kali ini kami berkesempatan menerapkan 4N tersebut dalam perjalanan ekspedisi awal ke Pantai Rancabuaya pada 3-4 Oktober lalu bersama kang Dicky.

Tim ekspedisi kali ini diantaranya terdiri dari Kang Dicky Zainal Arifin (Guru Utama LSBD Hikmatul Iman Indonesia, Peneliti & Budayawan), Bapak Ahmad Yanuana Samantho (Peneliti, Penulis & Akademisi), Kang Noviyar (Pecinta Peradaban Nusantara dan Admin Grup FB Atlantis Indonesia), Ibu Rini (Komunitas Spiritual), Mas Eko (Komunitas Spiritual), Kang Otang (Praktisi Pertanian Alami & Penyuluh Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik) dan Pengurus Pusat LSBD Hikmatul Iman Indonesia.

Pantai Rancabuaya, Cianjur Selatan
Pantai Rancabuaya kira-kira berada 90 km dari Kabupaten Garut, Cianjur Selatan, tepatnya di Desa Purbayani, Kecamatan Caringin. Pantai ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian barat, Desa Sinarjaya di sebelah timur, Desa Caringin di sebelah utara dan Desa Indralayang di sebelah selatan. Pantai ini terkenal memiliki batu-batu karang dan ombak yang besar serta air terjun atau curug yang langsung menghadap ke pantai.

Pantai ini berjarak kurang lebih 167 km dari Bandung atau sekitar 5-6 jam perjalanan dengan mobil. Rombongan berangkat menggunakan 3 buah mobil minibus. Perjalanan dimulai pada pukul 05.00 pagi dan tiba di lokasi sekitar pukul 13.00. Perjalanan sangat santai dan banyak berhenti untuk berfoto, berwisata kuliner dan istirahat. Jalur yang ditempuh dimulai dari Buahbatu – Banjaran – Pangalengan – Situ Cileunca – Cisewu – Rancabuaya.

Pada umumnya kondisi jalan menuju lokasi bisa dikatakan mulus, namun tetap ada wilayah yang kondisi jalannya tidak bagus. Jalan itu dapat dilewati dengan santai oleh rombongan kendaraan, meski di beberapa titik terdapat pekerjaan perbaikan jalan (pengecoran & pengaspalan). Kontur jalan bergelombang dan terdapat banyak tikungan tajam. Diperlukan kendaraan dengan kondisi prima dan pengemudi yang waspada karena pada beberapa lokasi jalannya sempit, rawan longsoran --bahkan sempat terjadi sedikit longsor pada jalur yang akan kami lintasi, dan tikungan yang langsung menghadap ke jurang. Jalan di kawasan Rancabuaya sediri belum diaspal, tapi sudah diperkeras oleh lapisan batu kali.

Temuan Bebatuan Menarik di Rancabuaya
Kang Dicky mengajak kami semua mengunjungi kawasan Pantai Rancabuaya karena sebelumnya pernah mengunjungi tempat tersebut dalam sebuah kesempatan, dan menemukan berbagai hal yang menarik sehingga ingin mengajak pihak-pihak lain untuk turut melihat langsung serta meneliti wilayah tersebut.

Benar saja, di lokasi sekitar pantai kami melihat sendiri banyak berserakan bebatuan yang tidak biasa. Mengapa tidak biasa? Karena selain batuan yang menyerupai batu kali, ada semacam perekat atau semen yang menempelkan bebatuan tersebut hingga bentuknya menyerupai dinding atau tembok yang hancur berserakan. Lapisan perekat yang mirip semen tersebut lebih mudah tergerus oleh air laut daripada batu. Menurut warga pun memang lapisan yang merekatkan bebatuan ini nampak seperti coran (adukan semen). Kami juga menemukan batu yang nampak seperti ada lelehan atau terbakar, batu yang memiliki lekukan mirip telapak kaki manusia, batu yang memiliki tonjolan dan lubang, dan lain-lain. Selain di pantai, batu-batu tersebut juga tersebar di dataran menuju ke pantai.

Obrolan Santai dengan Warga
Pada saat meneliti, melihat-lihat batuan dan lapisan perekat mirip semen yang tersebar di pantai, kami menyempatkan diri berbincang dengan warga setempat. Menurut warga, memang ada mitos atau cerita yang mengatakan bahwa pada masa lalu di wilayah tersebut terdapat kerajaan. Bahkan ada lokasi yang disebut Batu Kukumbung (kukumbung = berkumpul), yang menurut cerita pada masa lalu adalah tempat berkumpul atau semacam tempat untuk berdiskusi atau rapat.

Untuk asal-usul penamaan tempat Rancabuaya, menurut warga setempat Ranca = Rawa, Buaya = Buaya. Jadi, pada masa lalu lokasi itu adalah rawa yang terdapat banyak buaya. Namun saat ini sudah sangat jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah terlihat lagi karena pada masa lalu buaya-buaya tersebut dibasmi dengan cara diburu maupun diracun (diberi umpan bangkai binatang yang sudah diracun). Dari bibir pantai Batu Kukumbung terlihat pelabuhan Jayanti, tempat para nelayan menyandarkan perahunya setelah mengarungi laut untuk mencari ikan. Pelabuhan ini pula salahsatu tempat evakuasi / pertolongan bagi imigran gelap yang mengalami kecelakaan di pantai selatan Jawa Barat ini, menurut warga setempat jika gelombang laut sedang tinggi-tingginya maka bisa terjadi kecelakaan kapal.

Pada perjalanan pulang, kami melewati daerah Cisewu – Situ Cileunca pada sore hari dan disuguhi oleh kondisi jalan yang berkabut tebal. Dalam kondisi jalan berkabut dan berkelok seperti ini kewaspadaan pengemudi mutlak diperlukan.
Kunjungan kali ini bisa dikatakan ekspedisi awal dan tentu saja masih belum menghasilkan kesimpulan-kesimpulan final. Rencananya, kegiatan semacam ini akan diselenggarakan kembali dengan melibatkan lebih banyak peneliti.
Sampai jumpa dalam ekspedisi selanjutnya!

Wassalamualaikum wr wb.



sumber : facebook.com/media/set/?set=a.10151564948285834.1073741894.136110335833&type=1

VIMANHA

Selama ini UFO disebut sebagai kendaraan milik alien. Namun muncul satu lagi dugaan bahwa UFO itu berasal dari India dan Atlantis Kuno. Dugaan itu berasal dari manuskrip atau kitab-kitab kuno yang ditemukan di India.

Apa yang kita ketahui tentang pesawat terbang orang India kuno datangnya dari sumber-sumber India kuno yang mencakup penulisan teks yang diwariskan turun-temurun. Tanpa banyak prasangka bisa kita katakan bahwa kebanyakan teks ini adalah sah dan asli melihat sebagian besar belum lagi diterjemahkan dari bahasa Sanskrit lama.




Maharaja India Asoka telah mendirikan sebuah organisasi The Nine Unknown Menyang terdiri dari para ilmuwan terkenal India yang membukukan berbagai jenis sumber-sumber sains. Raja Asoka telah merahasiakan kerja mereka semua karena beliau merasa bahwa penemuan ilmiah yang terbaru itu akan terpasung dari sumber India kuno itu sendiri dan justru yang akan disalahgunakan bagi tujuan peperangan yang kejam yang mana tidak diinginkan oleh Asoka sendiri.

The Nine Unknown Men telah menulis sembilan buah buku yang saling berkaitan antara satu sama lain. Buku bertajuk “Rahasia Rahasia Gravitasi” amat dikenali di kalangan sejarawan tetapi tidak dianggap oleh mereka sebagai sesuatu yang berkaitan dengan gravitasi bumi. Ia dianggap masih ada, tersimpan di dalam sebuah perpustakaan rahasia di India, Tibet, atau di mana-mana (mungkin juga berada di sekitar Amerika Utara).

Hanya beberapa tahun silam, rakyat China telah menemui beberapa buah dokumen sanskrit di Lhasa, Tibet serta telah membawanya ke Universitas Chandrigargh untuk diterjemahkan. Dr. Ruth Reyna dari Universitas itu menjelaskan bahwa dukumen itu mengandung petunjuk untuk membuat pesawat luar angkasa.

Cara-cara pembuatan mereka, katanya, adalah anti gravitasi dan berasaskan kepada satu sistem analog yaitu “laghima”, satu sumber tenaga yang tidak diketahui oleh manusia modern. Menurut ahli Yoga Hindu, “laghima” ini menjadikan seseorang itu mempunyai kemampuan untuk terbang.

Dr.Reyna menjelaskan bahwa pada papan mesin ini yang dikenali sebagai “Astras”, dikatakan telah digunakan oleh masyarakat India kuno untuk membawa satu rombongan manusia ke planet lain, sesuai yang tertera pada dokumen tersebut, yang mana dikatakan telah berusia beribu-ribu tahun. Manuskrip itu juga dikatakan telah memaparkan rahasia “antima” (cara-cara untuk menjadi menghilang) dan “gerima” (bagaimana untuk menjadi seberat gunung).

Pada mulanya para ilmuwan India tidak begitu serius dengan kandungan manuskrip tersebut tetapi kemudian mereka menyedari akan hakikat bernilainya manuskrip tersebut apabila negara China mengumumkan bahawa mereka akan memasukkan bagian tertentu dari data manuskrip tersebut ke dalam program kajian angkasa mereka. Ini adalah salah satu contoh pertama kerajaan untuk mengaku membuat kajian tentang anti-gravitasi.




Walaupun manuskrip tersebut memaparkan secara jelas tentang rancangan penjelajahan antar planet dan penjelajahan ke bulan tapi tidak dijelaskan apakah semua perjalananan angkasa itu benar-benar dilakukan. Walau bagaimanapun satu dari epik terkenal India yaitu Ramayana, mempunyai satu cerita terperinci tentang satu penjelajahan ke bulan dengan menggunakan Vimana atau Astra. Malah epik Ramayana menceritakan dengan terperinci maklumat satu pertempuran di atas bulan dengan sebuah pesawat Asvin atau Atlantean.

Ini adalah suatu bukti mengenai anti-gravitasi dan teknologi kapal angkasa telah digunakan oleh masyarakat kuno India. Untuk benar-benar memahami teknologi tersebut, kita harus meninjau kembali ke masa lampau, ke Kerajaan Rama di India Utara dan Pakistan yang terbentuk pada masa sekitar 15.000 tahun silam.

Pada masa itu disebutkan bahwa telah muncul kota-kota canggih yang segala sesuatunya teratur secara sistematis mulai dari penataan landscape sampai saluran air. Ingat bagaimana kisah Nabi Sulaiman yang menawan Ratu Balqis ? Bagaimana bentuk istananya, sehingga digambarkan apabila kita berjalan di atas lantai istana itu, seolah-olah kita berjalan di atas permukaan air.

Mungkin ini ada kaitannya. Sedangkan di dalam Al-Quran ada disebutkan tentang mukjizat Nabi Sulaiman yang bisa mengendarai angin. Ini mungkin berkaitan erat dengan teknologi yang berkembang pada jaman itu. Bukti keberadaan Rama masih dapat ditemukan di padang pasir Pakistan utara dan India barat. Rama diperkirakan hidup sejaman dengan bangsa di Benua Atlantis.

Tujuh buah kota besar yang teragung dalam Kerajaan Rama yang terkenal dengan nama “Tujuh Kota-Kota Rishi” dalam teks klasik Hindu. Menurut penjelasan teks India kuno, masyarakat ketika itu mempunyai mesin terbang yang dipanggil sebagaiVimanas. Epiks India kuno telah menjelaskan sebuah Vimana sebagai satu pesawat yang mempunyai dua dek dan berbentuk bulatan dengan terdapatnya lubang pada bagian bawah pesawat dan menara pada bagian atasnya.

Berdasarkan kepada keterangan tersebut kita mungkin akan mengaitkannya dengan piring terbang alias UFO. Vimana dikatakan mempunyai kemampuan untuk terbang dengan kecepatan angin dan mengeluarkan bunyi bermelodi. Terdapat sekurang-kurangnya 4 jenis bagi pesawat Vimana; sebagian berbentuk piring dan yang lain berbentuk silinder panjang (kapal angkasa berbentuk kerucut).

Masyarakat India kuno yang menghasilkan kapal sendiri, telah menulis tentang manual penerbangan berbagai jenis Vimanas, yang sebagian besar manuskripnya masih dicari-cari para ilmuwan. Sedangkan bagaian manuskrip yang ditemukan malah telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Samara Sutradara adalah satu karya sastra ilmiah yang berkaitan dengan keberhasilan perjalanan angkasa dengan menggunakan sebuah Vimana.




Terdapat 230 puisi berkaitan dengan cara membuat, perjalanan sejauh seribu batu, pendaratan secara normal, kecemasan, dan kisah penerbangan di antara burung-burung. Pada tahun 1875, sebuah kitab berjudul Vaimanika Sastra ditulis oleh ilmuwan bernama ditulis oleh ilmuwan Bhara Dewaji yang menggunakan kitab-kitab yang lebih lama sebagai sumbernya.

Kitab itu ditemui di dalam sebuah kuil di India dan di dalamnya tercantum keterangan-keterangan yang berkaitan dengan cara mengemudikan Vimana, langkah-langkah penyelamatan, penerbangan jauh, dan perlindungan terhadap pesawat dari ancaman badai, kilat, dan petir. Kita itu menjelaskan bagaimana cara menyerap energi matahari. Vaimanika Sastra (atau Vymaanika-Shaastra) mempunyai delapan peringkat dengan gambar sketsa yang menjelaskan tentang tiga jenis kapal udara, termasuk jenis-jenis yang bisa mudah terbakar atau hancur.

Ia juga menerangkan tentang 31 jenis bagian tertentu bagi kendaraan ini dan 16 bahan mentah sebagai sumber energinya yang mana bisa juga menyerap cahaya dan tenaga panas yang sesuai untuk menggerakkan Vimana. Dokumen ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan bisa didapat dengan mengirim surat kepada penerbit Vymaani Dashaastra Aeronotics untuk Maharishi Bharadwaaja.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disunting, dicetak dan dikeluarkan oleh En. G.R. Josyer, Mysore, India, 1979. En. Josyer adalah seorang pengarah bagi akademi Tehnik Sanskrit Antar Bangsa, terletak di Mysore. Memang tiada keraguan bahwa Vimana telah digerakkan oleh sumber energi “anti-gravitasi”. Vimana lepas landas secara melintang, dan dikatakan mampu untuk beterbangan di langit seperti sebuah helikopter moden.

Bharadvajy merujuk bahwa tidak kurang daripada 70 orang pihak pemerintah dan 10 orang pakar penerbangan udara yang terlibat. Sumber energi ini sekarang telah hilang. Vimana telah disimpan di sebuah Vimana griha, seperti penyangkut, dan dikatakan kadangkala dicat dengan sejenis cat putih kekuningan dan kadangkala dengan sejenis bahan merkuri.

Cat putih kekuningan kelihatan mencurigakan seperti gaselin dan mungkin Vimanamempunyai hitungan sumber energi yang berlainan termasuk mesin penggerak dan malah mesin jet saraf. Adalah menarik untuk diketahui bahwa pihak Nazi juga telah membuat mesin jet saraf praktikal pertama bagi roket V.8 mereka. Kakitangan Hitler dan Nazi juga dikatakan berminat dengan India kuno dan Tibet sehingga pada awal tahun 30- an telah membawa satu tim ekspedisi ke dua tempat tersebut setiap tahun, sebagai usaha untuk mendapatkan bukti kuat dan tidak mustahil jika dikatakan pihak Nazi mungkin memperoleh panduan ilmiah mereka dari dua sumber kuno ini.

Merujuk pada Dranaparva yang merupakan sebagian dari epiks Mahabarata danRamayana, Vimana digambarkan berbentuk seperti sebuah bentuk bujur dan mempunyai kecepatan yang hebat seperti angin kuat, yang dihasilkan oleh bahan merkuri. Ia bergerak seperti sebuah UFO, ke atas dan ke bawah, ke belakang dan ke depan seperti yang diinginkan pilot. Di dalam satu lagi sumber India lain yaituSamaranganasutradhara telah menjelaskan bagaimana kendaraan ini dibentuk.

Pada jaman tersebut telah dikenal pemakaian bahan merkuri sebagai bahan bakarVimana, melihat gambaran yang dijelaskan oleh buku itu. Banyak ilmuwan Rusia terheran-heran saat menemukan catatan berupa panduan mengemudikan kendaraan yang tertera di bebeperapa dinding gua di turki dan Gurun Gobi. Dari ukiran dan relief yang terdapat pada potongan tanah liat dan kaca digambarkan bagaimana sebuah kendaraan kosmik melaju.

Pesawat terbang antar planet itu dilambangkan dengan segitiga yang di dalamnya terdapat simbol merkuri. Ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang India purba telah mampu mengirim utusan dengan kendaraaan ini dan menjelajahi wilayah Asia, Atlantis, sampai ke Amerika Selatan. Di Mohenjodaro (Pakistan) terdapat manuskrip yang menjelaskan tentang peperangan Ramayana yang menggunakan segala bentuk persenjataan dan kendaraan terbang semcam itu.

Bayangkan betapa teknologi laser, jet, dan roket telah ada di kerajaan Ramayanasejak jaman dulu dan menghancurleburkan peradaban pada jaman itu. Mari kita simak bait-bait yang tertulis dalam kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8:
“Sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang. gelap bagaikan malam, namun terlihat dari cahaya mereka yang kekuningan.”

Malangnya Vimana, seperti kebanyakan ciptaan ilmiah yang lain, telah digunakan untuk tujuan peperangan. Orang-orang Atlantis menggunakan kendaraan terbang mereka, Vailixi untuk menyerang negeri-negeri lain dan menguasai dunia. Dalam teks kuno India mereka dikenal dengan bangsa Aswins. Meskipun tak ada catatan tentang pesawat Vailixi dari bangsa atlantis sendiri tapi kedatangan mereka ke India melalui udara banyak sekali diceritakan.

Deskripsi Vailixi berbentuk silinder panjang dan selain dapat terbang juga mampu bergerak di bawah air seperti kapal selam modern. Kendaraan-kendaraan lain, seperti Vimana berbentuk seperti piring dan mungkin juga bisa bergerak di bawah air. Menurut Eklal Kuehshana, penulis “The Ultimate Frontier”, dalam satu artikel yang ditulisnya dalam 1966, menyatakan bahwa Vailixi yang paling awal dibuat di Atlantis yaitu kira-kira 20,000 tahun lampau dan bentuk yang paling biasa ialah bentuk piring dengan tiga ruang mesin dibawahnya.”

“Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti-gravitasi dengan menggunakan tenaga mesin sebesar 80,000 tenaga kuda,” Dalam teks Mahabarata, salah satu sumber yang menerangkan Vimana, ada yang menjelaskan tentang kemusnahan yang hebat yang menunjukkan kesan dari peperangan tersebut: senjata itu merupakan satu alat yang mengandung semua energi yang ada di dunia ini.

Satu kepulan asap yang besar dan cahaya yang terang benderang bagaikan sinaran dari beribu-ribu matahari telah dihasilkannya…Satu pancaran kilat, satu pembawa pesan maut yang dahsyat, yang menyebabkan kemusnahan seluruh keturunanVrishni dan Andhaka..mayat-mayat mereka terbakar hangus sehingga tidak dapat dikenal pasti.

Rambut dan kuku mereka terlepas; pecah tanpa sebab, dan burung-burung bertukar menjadi putih.. selepas beberapa jam semua bahan makan turut tercemar.. untuk mengelakkan diri daripada api itu, para laskar terjun ke dalam sungai untuk membersihkan diri mereka dan peralatan mereka..”

Dari penjelasan ini, seolah-olah Mahabrata sedang menggambarkan satu keadaan peperangan menggunakan bom atom. Kini pihak Barat telah mampu mengungkap sebagian dari rahasia gravitasi .. mereka telah mampu mencipta mesin anti gravitasi dari penghasil tenaga medan elektromagnetasi yang mereka namakan sebagai levitasi, namun masih belum lagi dipraktikkan.

Rujukan seperti ini bukan hanya satu; peperangan senjata yang menakjubkan dan kendaraan terbang merupakan gambaran biasa dalam buku-buku epik India. Terdapat sebuah epik yang menggambarkan peperangan Vimana – Vailixi di bulan. Peperangan yang digambarkan dalam aksi di atas menggambarkan dengan tepat tentang satu kesan letupan atomik dan kesan radioaktif ke atas penduduk.

Ketika kota besar Rishi di Mohenjodaro (Pakistan) ditemukan oleh para arkeologi pada akhir abad yang lalu, mereka melihat kerangka-kerangka yang bergelimpangan di jalan-jalan, ada yang berpegangan tangan, seolah-olah mereka telah dilanda satu malapetaka yang amat dasyhat secara tiba-tiba.

Pada kerangka-kerangka tersebut terdapat sisa radioaktif yang tinggi, sama dengan yang dijumpai di Hiroshima dan Nagasaki. Dari kota-kota kuno yang dibuat dari batu-bata dan batuan yang telah berubah bentuk, yaitu di India, Irlandia, Scotlandia, Perancis, Turki dan beberapa tempat lain, tiada penjelasan yang logik mengenai perubahan itu melainkan akibat ledakan atomik.

Selain itu, di MohenjoDaro, sebuah kota besar yang terancang di dalam bentuk grid, dengan sistem saluran yang lebih baik daripada yang terdapat di Pakistan dan India, jalan-jalannya dipenuhi dengan serpihan “kaca-kaca hitam”. Serpihan tersebut kemudiannya dikenal pasti sebagai tanah-tanah liat yang telah cair akibat kepanasan yang melampaui batas.

Pasca tenggelamnya Atlantis dan kemusnahan Rama akibat senjata atomik, dunia untuk sesaat kembali ke zaman batu seperti beberapa ribu tahun sebelumnya. Namun begitu, nampaknya bukan semua Vimana dan Vailixi milik Rama dan Atlantis yang hilang. Karena diciptakan untuk berfungsi selama beribu-ribu tahun, kebanyakan masih bisa digunakan, seperti yang terdapat dalam karyatulis “The Nine Unknown Men”, Asoka, dan manuskrip Lhasa.

Yang menarik adalah terdapat satu petikan sejarah yang menyatakan bahwa semasa Iskandar Yang Agung menyerang India lebih daripada dua ribu tahun lalu, pasukannya telah diserang dengan “perisai yang berterbangan dan bercahaya” yang menakutkan pasukan tentara dan pasukan berkudanya.

Walau bagaimanapun “piring-piring terbang” itu tidak menggunakan sembarang bom atom atau senjata lain ke atas laskar Iskandar.

Di masa itu juga Iskandar menawan India Ramai. penulis yang menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat rahasia telah menyimpan sebagian Vimana dan Vailiximereka di dalam gua-gua rahasia di Tibet atau tempat-tempat lain di Asia Tengah dan Gurun Lop Nor di barat China yang sampai sekarang dikenal sebagai pusat suatu misteri UFO yang besar.

Sumber : Prodimaar, http://misteridunia.wordpress.com/